Rabu, 19 November 2014

KASIH DAN DAMAI ITU INDAH


Baca:  Kejadian 4:1-16

"Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,"  Kejadian 4:4

Setiap kita pasti punya kerinduan yang sama yaitu apa pun yang kita kerjakan  (ibadah, pelayanan)  dan juga persembahan yang kita bawa kepada Tuhan itu sesuai dengan kemauan Tuhan, diterima oleh-Nya.  Kita pasti tidak berharap bahwa persembahan kita  (waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi)  yang kita berikan kepada Tuhan menjadi sia-sia, ditolak dan diabaikan Tuhan.

     Kain dan Habel sama-sama memberikan korbah persembahan kepada Tuhan. "...Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;  Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya,"  (Kejadian 4:3-4).  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengindahkan persembahan Habel, namun tidak persembahan Kain.  Mengapa?  Kalau kita teliti lebih dalam, Tuhan terlebih dahulu memperhatikan pribadi, setelah itu baru persembahannya.  Dikatakan,  "...TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya."  (Kejadian 4:4-5).  Artinya, siapa yang memberikan persembahan itu menjadi perhatian utama Tuhan dan jauh lebih penting dari persembahan itu sendiri,  "...sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya."  (1 Tawarikh 28:9).  Dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, kita harus terlebih dahulu dalam kondisi benar dan memiliki kehidupan yang layak di hadapan Tuhan.  Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan bisa kita sogok atau suap dengan persembahan kita, sementara kita sendiri hidup dalam ketidaktaatan.

     Jangan bangga dahulu jika kita merasa telah memberikan persembahan bagi pekerjaan Tuhan atau bahkan menjadi donatur gereja bila hal itu semata-mata untuk menutupi dosa-dosa kita.

Ketaatan seseorang adalah hal utama yang akan menentukan apakah persembahan itu berkenan kepada Tuhan atau tidak!
Komitmen panggilan
Posted on Senin, 22 September, 2014 by Saat Teduh
Baca: Yeremia 15:10-21
Mengikut Tuhan bukan perkara mudah. Itulah fakta yang disodorkan melalui kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, dari Abraham hingga Rasul Yohanes. Hari ini kita menyaksikan kenyataan yang sama dalam satu adegan kehidupan Yeremia. Ia meratap, mempertanyakan jalan hidupnya, seraya menggugat Tuhan.
Yeremia merasa telah memberi yang terbaik dalam mengikut Tuhan, tetapi kini ia berada di tepi jurang. Memang ketika Tuhan memanggil, Tuhan memberi jaminan kokoh bahwa ia akan “menjadi tiang besi dan … tembok tembaga” (Yer. 1:18), yang akan berdiri tegak melawan seluruh bangsanya dan para pemimpinnya. Namun di tengah kehidupannya mengikut Tuhan, ia merasakan hantaman yang begitu hebat sehingga ia bertanya-tanya, jangan-jangan besi dan tembaga pun sebenarnya tak sekuat yang semula ia kira (12).
Yeremia sudah memberikan yang terbaik, yang bisa ia persembahkan kepada Tuhan. Ia memelihara hidup yang kudus, baik dalam ranah pribadi (16) maupun publik (17), tetapi mengapa hidupnya sengsara dan penuh keluh-kesah? Yeremia merasa bahwa Tuhan berlaku tak adil (18). Namun Tuhan tidak menjawab Yeremia menurut syarat dan ketentuan yang Yeremia sodorkan; sebaliknya Ia menawarkan perspektif yang baru: kehidupan orang-orang di sekitar memang seringkali menggiurkan, tetapi panggilan yang unik menuntut komitmen yang tak kalah unik. Tuhan pun menegaskan bahwa sebaik-baiknya pelayanan, bukan berarti manusia memiutangi Tuhan.
Mengiakan panggilan Tuhan menuntut komitmen tunggal: dalam kehidupan pribadi maupun publik, dalam perkataan juga seluruh hidup. Tuhan kembali menegaskan janji-Nya kepada Yeremia bahwa Ia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga” (20), kali ini dengan klarifikasi bahwa kekuatan Tuhan di balik tembok tembaga ini akan terbukti bukan karena diabaikan orang, tetapi justru karena kuat berdiri tegak di tengah peperangan terhebat sekalipun (20-21). Tuhan tidak menjanjikan panggilan-Nya akan nyaman, tetapi Ia berjanji bersama kita melalui pergumulan terhebat sekalipun
Siap Sedia Akan Akhir Zaman
Posted on Sabtu, 20 September, 2014 by Saat Teduh
- Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus -
Bacaan Alkitab hari ini:  Lukas 21
Ketika orang-orang mengagumi Bait Allah yang indah dan megah pada masa itu, Tuhan Yesus justru mengungkapkan kepada murid-murid-Nya bahwa “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (21:6). Mendengar penyingkapan bencana tragis yang akan terjadi itu, bisa dipahami bila murid-murid terkejut dan bertanya mengenai kapan hal itu akan terjadi dan apa tandanya (21:7). Tuhan Yesus tidak langsung menjawab soal kapan dan bagaimana kehancuran Bait Allah serta kedatangan akhir zaman, tetapi Dia memperjelas gambaran yang mengerikan dari akhir zaman, seperti pergolakan bangsa-bangsa, peperangan yang semakin hebat, bencana alam,  wabah penyakit dan kelaparan, penganiayaan, dan penyesatan.
Penekanan Tuhan Yesus bukanlah mengenai “kapan-nya”, tetapi kepada persiapannya, yaitu bagaimana orang percaya harus mengantisipasi (menyiapkan diri untuk menghadapi) datangnya akhir zaman. Nubuat Tuhan Yesus ini dapat menunjuk kepada dua peristiwa:
Pertama, bencana jangka pendek, yakni kehancuran Bait Allah—pusat keagamaan Israel—yang digenapi 40 tahun kemudian (pada tahun 70) setelah Jendral Titus dari Roma mengepung kota Yerusalem selama 134 hari.
Kedua, bencana yang akan terjadi di akhir zaman. Apa yang harus dilakukan oleh orang percaya? Ada beberapa petunjuk yang diberikan Tuhan Yesus:
Pertama, jangan tersesat oleh pengajaran palsu (21:8).
Kedua, jangan terkejut (karena tidak siap, 21:9).
Ketiga, jangan memikirkan pembelaan bila menghadapi pengadilan (21:14). Artinya, jangan kuatir dan menjadi defensive (bersikap membentengi diri), melainkan percayakan diri kepada pemeliharaan Tuhan dan pertolongan Roh Kudus.
Keempat, memakai kesempatan untuk bersaksi (21:13).
[FL]

Lukas 21:36
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”



Kejadian 6:9-22

Kejadian 6  mengisahkan bahwa Nabi Nuh hidup pada zaman yang sangat jahat. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), akibat dosa sungguh nyata terasa. Pembunuhan Habel terjadi.  Kejahatan terus meningkat. Bahkan kekudusan Allah tidak lagi dihiraukan. Kacau balau, mungkin begitulah gambaran manusia yang hidup pada zaman itu. Sampai-sampai Alkitab mencatat: “Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya” (Kej. 6:6). Meskipun demikian ia menjauhkan diri dari semua kejahatan di sekitarnya. Ia pasti telah mengenal Tuhan dengan sangat baik dan secara pribadi, karena Alkitab menuliskan bahwa ia “hidup bergaul dengan Allah” (ay.9). Dalam kondisi kacau itu, Nuh tetap didapati tidak bercacat cela di antara orang-orang sezamannya. Nuh, tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang tidak menghormati Allah. Nuh, tidak sama dengan bunglon yang cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada.

Charles Haddon Spurgeon, seorang pengkhotbah yang ternama di kota London, menemukan sebuah prinsip yang terdapat dalam kehidupan Nuh bahwa “setiap tindakan iman menghukum dunia”. “Karena iman, Nuh … dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia menjadi ahli waris kebenaran, sesuai dengan imannya” (Ibr.11:7). Ketika menafsirkan ayat di atas, Spurgeon mengatakan, “Hiduplah kudus …. Saya pernah mendengar bahwa jika ada tongkat yang bengkok dan Anda ingin menunjukkan sebengkok apa tongkat tersebut, maka Anda tidak perlu menggambarkannya secara panjang lebar. Letakkanlah sebuah tongkat yang lurus di sebelah tongkat yang bengkok tersebut. Dengan demikian Anda akan langsung mendapat jawab-annya. Nuh menghukum dunia dan menjadi ahli waris kebenaran karena iman.”

Perjanjian Baru menyebut Nuh sebagai seorang “pemberita kebenaran” (2 Pet. 2:5), meski tak satu pun “khotbah”nya ditulis dalam Alkitab. Bagaimana bisa demikian? Sebab Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kejadian 6:9). Ia selalu dekat dengan Allah, sehingga pengaruh Allah dalam hidupnya lebih kuat dibanding pengaruh orang-orang di sekitarnya. Ketaatan Nuh kepada Allah dalam membuat bahtera itulah yang menjadi kesaksian terbesarnya kepada generasi yang berpusat pada diri sendiri dan kejam saat itu. “Tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya” (Kej. 6:22).  Betapa mudahnya kita tergoda untuk mengkritik dosa yang dilakukan orang lain. Namun, alangkah jauh lebih luar biasa bila kita memilih untuk menunjukkan keagungan dan kebenaran Allah dengan hidup bagi-Nya. Amin!



I Petrus 1:1-12

Menurut Alkitab, bahwa seorang Kristen sejati itu harus memiliki tiga faktor penting dalam kehidupannya, yaitu: Iman, pengharapan , dan kasih. Tiga hal tersebut adalah merupakantheological virtue atau kebajikan ilahi. Kebajikan Ilahi inilah yang memampukan orang percaya dapat berbuat sesuai dengan moralitas yang dituntut oleh Yesus, sehingga dapat menjadi anak-anak Allah. Tiga hal ini bersifat supernatural, yang juga menjadi landasan untuk kebajikan kehidupan, yang terdiri dari: kebijaksanaan (prudence), keadilan (justice), keberanian (fortitude), penguasaan diri (temperance). "Iman" adalah sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang mengandung kuasa! Melaluiiman banyak perkara besar yang dapat dilakukan, bahkan perkara-perkara yang di luar jangkauan nalar kewajaran kita sebagai manusia. Betapa tidak? Baca saja peristiwa-peristiwa besar yang terjadi seperti dicatat dalam Alkitab tentang tindakan Musa, orang Israel, peristiwa runtuhnya tembok Yerikho, bahkan tindakan Rahab sampai ia diselamatkan (Ibr. 11:28-31). Ya, itulah kuasa iman. Iman, melalui mana kuasa Allah dinyatakan!

Iman memegang peranan penting dalam kehidupan orang percaya. Rasul Paulus sendiri menyatakan:"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibr. 11:6a). Bahkan, Yesus sendiri menegaskan: "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,-maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." (Mat.17:20b). Ya, itulah kuasa iman! Mengapa iman dapat melakukan kemampuan yg begitu besar? Oleh karena kuasa iman membuat orang yg dikuasainya lebih besar dari kenyataan orang yg dikuasainya. Kuasa iman membuat orang percaya tidak lagi terbatas pada dirinya sendiri. Ia membuat orang percaya berani mengharapkan hal2 yg lebih besar dari kemampuannya yg sebelumnya. Hanya orang yg sungguh2 berimanlah yg berani mengharapkan hal2 besar dan menghasilkan karya2 besar bagi kemuliaan Tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita orang Kristen yg sungguh-sungguh beriman? Jawabnya tentu saja, sejauh mana iman itu menjadi bagian yg integral dalam kehidupan kita. Hanya dengan cara demikianah memampukan orang percaya menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan, memberikan keyakinan bahwa kita dimampukan untuk lebih kuat dari goncangan-goncangan hidup kita dan keluar sebagai pemenang!

Lalu tentang “pengharapan”? Pengharapan adalah salah satu faktor yang penting dalam hidup. Bayangkan jika kita tidak punya harapan, tidak punya mimpi, tidak punya cita-cita, lalu apa yang mau kita raih dalam hidup ini? Pengharapan adalah keyakinan bahwa masalah-masalah yang ada tidak akan berlangsung selamanya. Kayakinan bahwa luka-luka batin kita akan dipulihkan dan masalah-masalah akan diatasi.Pengaharapan adalalah keyakinan bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk membawa kita keluar dari kegelapan menuju kepada terang. Pengharapan tertinggi semua manusia adalah keinginan untuk mencapai surga, kehidupan kekal, persatuan dengan Allah. Dan setiap manusia mempunyai harapan akan kebahagiaan sejati yang telah ditanamkan dalam setiap hati manusia. Pengharapan adalah suatu keinginan hati berdasarkan iman.

Tanpa iman, maka manusia tidak akan mempunyai pengharapan dan kasih yang sejati. Pengharapanmembuat manusia mampu bertahan menanggung segala macam penderitaan dan kesulitan hidup, karena berharap akan kehidupan kekal di surga. Pengharapanlah yang membuat manusia dapat berdiri tegak di tengah-tengah badai kehidupan bahkan dapat melakukan kasih. Dapat dikatakan bahwa Pengharapan adalah pra-syarat yang membuat kita hidup.Yang membuat orang bisa bertahan hidup adalah pengharapan. Modal utama hidup kita adalah pengharapan. Kita berpengharapanselama kita hidup, dan kita hidup selama kita berpengharapan.

Disamping iman dan pengharapan, ada satu faktor penting lainnya, yaitu Kasih. Dalam 1 Kor 13:13, dikatakan bahwa “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih“. Tiga hal di atas merupakan theological virtue atau kebajikan ilahi, dimana kasih adalah yang terbesar dan mengarahkan iman dan pengharapan. Ketiga faktor inilah yang memampukan orang percaya dapat berbuat sesuai dengan moralitas yang dituntut oleh Yesus, sehingga dapat menjadi anak-anak Allah.Tiga hal ini bersifat supernatural, yang juga menjadi landasan  kebajikan, yang terdiri dari: kebijaksanaan (prudence), keadilan (justice), keberanian (fortitude), penguasaan diri (temperance).

Kasih mengarahkan iman dan pengharapan. Iman tanpa kasih kepada Tuhan akan berakhir denganiman yang mati (1 Kor 13:3), karena kasihlah yang menyebabkan seseorang dengan penuh sukacita untuk mau belajar tentang Tuhan dengan lebih lagi setiap hari. Kasih juga yang membuat kita dengan penuh kesediaan dan sukacita melayani sesama kita. Harapan tanpa kasih kepada Tuhan adalah sia-sia (1 Kor 13:3). Kasih kita kepada Tuhanlah yang menyebabkan kita terus berharap akan persatuan dengan Tuhan di tengah-tengah setiap penderitaan dan kesulitan yang kita alami. Harapan yang mati hanya berharap demi kesenangan pribadi, namun harapan yang dilandasi kasih membuat kita bersedia berkurban untuk orang yang kita kasihi, demi kasih kita kepada Tuhan. Dan ini yang menyebabkan kita turut bersukacita dalam setiap penderitaan dan kesulitan karena kita berpartisipasi dalam penderitaan Kristus.

Saudara, Maxmilian Kolbe adalah seorang tokoh Kristen pada jamannya adalah contoh bagi kita dalam hal iman, pengharapan dan kasih. Pada bulan Februari tahun 1941, Maxmilian Kolbe ditangkap oleh tentara Nazi karena menolong orang-orang Yahudi melarikan diri dari teror Nazi. setelah berbulan-bulan dipenjarakan, para narapidana itu mencoba untuk melarikan diri. Bila tertangkap, para narapidana yang mencoba melarikan diri akan ditempatkan dalam satu kelompok yang terdiri dari 10 orang dan dimasukkan dalam satu sel dimana mereka dibiarkan mati kelaparan. Hal itu dilakukan untuk menghentikan para narapidana lain yang akan mencoba melarikan diri. Beberapa narapidana tertangkap dan dipanggil satu persatu namanya. Tibalah seorang Yahudi dari Polandia yang bernama Frandiskek Gasovnachek. Ia menangis dan berkata: "Tunggu, aku mempunyai istri dan anak-anak," Kolbe maju ke depan dan berkata: "Aku akan menggantikan dia." Kolbe diarak menuju satu sel bersama 9 orang lainnya. Ia hidup sampai tanggal 14 Agustus. Tentara Nazi lalu membunuhnya dengan suntikan dan mengkremasikan tubuhnya.

Kisah ini ditayangkan di televisi beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu Gasovnachek berumur 82 tahun dan berlinang air mata. Satu kamera mengikutinya berjalan di rumahnya yang berwarna putih. Ia berjalan menuju satu monumen yang dihiasi dengan bunga. Di batu monumen itu tertulis "In memory of Maximilian Kolbe. He died in my place." Sejak tahun 1941, setiap hari Gasovnachek hidup dengan kenangan: "Aku hidup karena seseorang mati menggantikan aku." Setiap tahun pada tanggal 14 Agustus ia pergi ke Auschwitz untuk memperingati Kolbe. Seperti itulah yang dilakukan oleh Yesus untuk kita. Ia mati menggantikan kita supaya kita beroleh hidup. Iman, pengharapan, dan kasih yang dipunyai Kolbe dapat menyelamatkan orang lain. Begitu juga kita, dapat memberitakan Yesus dan orang diselamatkan melalui kita.

Petrus menulis surat ini untuk menguatkan orang percaya yang dalam penderitaan agar tetap teguh dalam iman (5:12). Ia mengingatkan kita semua pada kemuliaan iman dan pengharapan di dalam Kristus, yang akan menjadikan kita memandang rendah penderitaan yang kita alami itu. Petrus juga mengingatkan penderitaan Yesus yang harus diteladani, dan mendorong kita sebagai orang percaya untuk siap menderita karena melakukan kehendak Allah, bukannya karena melakukan kejahatan; dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya menyerahkan diri pada keadilan Allah (4:14-19). Kasih mengarahkan kita kepada Tuhan, sedangkan iman dan pengharapan mengarahkan kita kepada kesempurnaan kehendak Tuhan.

Iman memberikan kita kesempurnaan akal budi (iman adalah kegiatan akal budi) dan pengharapanmenyempurnakan keinginan kita (harapan adalah kegiatan keinginan) akan kehidupan kekal di surga. Atau dengan kata lain, bahwa pengharapan adalah tujuan iman dan Kasih adalah tujuan akhir, namun iman dan pengharapan merupakan cara. Sama seperti cara melayani tujuan akhir, makaiman dan pengharapan melayani kasih. Kasih adalah abadi. Kasih akan terus ada sampai selama-lamanya, yang memuncak di dalam persatuan abadi dengan Allah di surga, dimana kita dapat mengasihi Tuhan sebagaimana adanya Dia dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Iman, yang merupakan dasar dari harapan yang tidak kita lihat, namun dengan  iman dan pengharapan kita dapat meyakini suatu saat nanti melihat Tuhan muka dengan muka dalam kemuliaan sorga. Itulah kerinduan semua orang percaya, merindukan suatu yang baik tentang masa akan datang, karena di surga kita akan mencapai tujuan akhir, yaitu kebahagiaan kekal. AMIN.
Ev. ANTON WAMANG S,th, MA