AKIBAT
TERJADINYA KONFLIK DI MASYARAKAT DAN PERANAN KEPALA SUKU, AGAMA DAN PEMERINTAH
DALAM MENGATASI KONFLIK DI TIMIKA
BAB I.
PENDAHULUAN/Teras
Depan
Selama ini
intensitas konflik di Timika makin tinggi. Setiap kali terjadi konflik maka
Aparat Keamanan langsung terjun menyelesaikannya. Namun demikian, pelbagai
pihak justru mengkritik bahwa penyelesaian konflik selalu tak tuntas.
Malah menyebabkan konflik serupa muncul kembali. Siapakah
sebenarnya “penyulut konflik” di Timika?
Konflik adalah sesuatu yang tak dapat
dihindari karena melekat erat dalam jalinan kehidupan bermasyarakat. selama
masyarakat melakukan interaksi dengan orang lain, potensi untuk tercipta konflik pasti akan
hadir.
1)
Kota Timika menjadi kota tujuan bagi kaum minggran baik dari dalam
Papua maupun diluar Papua.
2)
Jumlah Warga yang masuk ke Timika lebih dari angka 200an
lebih/hari. dengan tujuan Mencari kerja, bisnis dan datang mengunjungi
keluarga. Dengan kepadatan jumlah penduduk seperti ini, turut berpengaruh pula pada
aspek –aspek seperti lapangan pekerjaan, kapasitas tanah dan peluang bisnis.
Akhirnya hadirlah ranah untuk berkompetisi tinggi, “siapa kuat dia dapat”.
3)
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap Tahun di
Kabupaten Mimika lebih besar dari seluruh Kabupaten di Indonesia sebesar Triliunan,
Namun konflik tetap ada.
A. Damal atau Amungme
Sebelum kontak dengan dunia luar masyarakat
Amungme mencapai satu tingkat social masyarakat yang tinggi dan ideal. Di mana
tidak ada pertentangan antara satu kelompok dengan kelompok lain, satu kerabat
dengan kerabat yang lain. Mereka menempatkan manusia pada perioritas utama
dengan istilah “bahasa Damalkal” “ Me-et ung ot-o’ kamae”, artinya tidak ada
benda di dunia ini yang sama dengan manusia. “Mea yak Arukgo” artinya
mengutamakan manusia; manusia lebih penting dari pada harta kekayaan.
Dengan konsep inilah yang membuat ketika masalah muncul di masyarakat atau ada
pertentangan lebih mengutamakan musyawarah dan mupakat. Ada persoalan di
masyarakat/ada pertentangan antar kelompok komunikasi untuk menyelesaikan jauh
lebih penting ketimbang perang atau berkelahi. Keadaan ini disebut dalam bahasa
Damalme Kal Hikop; kal o’namung urawin dan kalwe, artinya jika terjadi suatu
persoalan di masyarakat sebelum angkat panah atau angkat batu bicara/komunikasi
itu sangat utama. jika terjadi suatu soal orang mengambil keputusan yang bagus
dan menyenangkan semua pihak, dll. Kondisi social masyarakat ini merupakan
kondisi sangat ideal. Setiap warga masyarakat mempunyai
hak yang sama tidak pandang dari usia, kedudukan, dan kekayaan. Setiap orang
mempunyai hak dan kedudukan yang sama untuk dilindungi dan di hargai hakekat
kemaunsiaannya. Di dalam masyarakat Amungme tidak mengenal kelas social seperti
masyarakat lain ada pria, wanita, ningrat, budak, dan orang merdeka. Di Damalme,
perempuan, laki-laki, dan anak-anak mempunyai hak yang sama tidak ada
perbedaannya.
a. Jika ada
orang yang lebih menonjol di masyarakat; misalnya mempunyai banyak ternak babi,
kebun luas, memiliki mungka mangka, bukan berarti mereka berasal dari golongan
kelas social tinggi. Setiap individu mendapatkan nama di masyarakat berdasarkan
hasil usaha dan kerja keras dari individu bersangkutan. Untuk mencapai
kedudukan ini setiap warga masyarakat mempunyai kesmpatan yang sama untuk
berusaha, kerja keras dan memperoleh status social di masyarakat. Misalnya
orang yang punya babi banyak, mempunyai mungka mangka, mempunyai istri banyak,
dan lain sebagainya. Orang yang mencapai kedudukan tinggi di masyarakat ini
tidak hidup sendirian dan harta bendanya tidak dinikmati sendirian tetapi ia
lebih banyak berperan aktif dalam masyarakat, membantu membayarkan harta
perempuan, ada masalah ditebus dengan babi, dan lain sebagainya.
B. Damal,Amungme dengan hubungan kekerabatan
Masyarakat Amungme mempunyai relasi yang
cukup luas berdasarkan hubungan kekerabat. Kekerabatan tersebut dibentuk
berdasarkan hubungan satu moyang, hubungan perkawinan, hubungan kesamaan dusun,
dan hubungan perdagangan tradisional dan lain sebagainya. Misalnya Damalme
dengan masyarakat Amungme dan Iliga ada hubungan kesamaan moyang atau orang
Amungme menyebutnya Menamok Ki artinya ada keluarga yang kakak hidup/tinggal di
Damal adik di Amungta atau Ilaga dan sebaliknya. Hubungan keluarga dengan Moni,
transaksi kulibia; hubuungan dengan Dulal, kulibia dan garam; satu-satunya
tempat yang ada garam hanya di Dula atau Kemawua sehingga membangun hubungan
baik dengan masyarakat di Dula, begitu juga dengan masyarakat Amungme dengan
Nduga.
C. Masyarakat sesudah kontak dengan masyarakat dan
orang luar
Masyarakat Damal dan Amungme membangun
komitmen dan kerja sama antara orang luar; untuk mengambil
pertambangan,Emas,mineral,dan gas alam di
daerahTimika,Tembagapura,Stingga,Jila,Arwanop,oea dan sekitarnya.
a. 16 Februari
1623 komodor Jan Carstensz dengan kapalnya berlayar di sebelah selatan
Pulau Papua. Kapalnya berlabu di laut Mimika Pantai dan pada pagi harinya ia
melihat salju di Nemangkawi.
b. Antara tahun
1912 -1913. Ekspedisi Inggris di bawah pimpinan Dr. Wollaston dengan
berpangkalan di sungai Otakwa/Singogong. Ekspedisi ini mengikuti Tsingogomg
hingga di lembah Tsinga dan mendaki gunung Nemangkawi tetapi gagal dan pulang.
c. Antara tahun
1936 – 1937: Ekspedisi Colijn melalui sungai Ajkwa hingga tiba di Waa Banti
dan berhasil mendaki Puncak Gunung Nemangkawi. Ekspedisi ini kontak kedua
kalinya dengan dunia luar.
d. Antara Tahun
1938 – 1939; orang-orang dari lembah Tsinga turun ke Tsingi untuk menukarkan
rokok dengan parang, kapak, dan pisau dengan masyarakat Kamoro. Pada saat
inilah Moses Kilangin ditinggalkan di Pantai Selatan dan mereka kembali ke
lembah Tsinga. Antara Tahun
1948-1950: Controluer Binnenlands Bestuur, Mijer Ranefr, di Enarotali
Menerima dan bertemu seorang tokoh masyarakat dari lembah Tsinga bernama
Menonal Beanal.
e. Tahun 1951 : Pater M.
Kamerer mengunjungi masyarakat Amungme di lembah Tsinga.
f. Tahun 1952 : Pater M.
Kamerer mengunjungi Ilaga dengan maksud berkunjung ke lembah Baliem.
g. Tahun 1953: Pater M.
Kamerer dari Enarotali melakukan kunjungan ke Lembah Tsinga.
h. Tahun 1955: Guru Moses
Kilangin resmi dipindahkan ke lembah Tsinga dan melakukan perubahan-perubahan
di Tsinga.
i.
Tahun 1960: Masyarakat
Amungme sebagian besar tidak sabar lagi untuk pindah dari gunung ke Agimuga.
j.
Tanggal, 25 April 1960: PT.
Freeport menyiapkan diri untuk pertama kali melakukan survey di Puncak
Carstensz.
k. Tahun 1967: kontrak
karya PT. Freeport Indonesia ditandatangani.
l.
Tahun 1990 : Baru menyekolahkan siswa dari sekitar perusahaan untuk sekolah;
BAB II
KEHADIRAN PT.FREEPORT INDONESIA & DAMPAK SOSIAL
Sebelum mengenal budaya modern atau kontak
dengan orang asing kita pernah mencapai pada tatanan kehidupan social yang
sangat ideal. Sudah terbentuk masyarakat yang demokratis dan mengutamakan
manusia. Tetapi kehadiran kapitalis raksasa telah menghancurkan nilai-nilai
kehidupan social masyarakat, martabat, harkat, dan harga diri masyarakat.
Wartawan Senior KOMPAS Dr. Daniel Dhakidae, menulis bahwa “yang terjadi di
Papua adalah suatu penghancuran martabat manusia”. Sementara itu, peneliti dari
UGM Dr. Ngadisah, MA, dalam bukunya yang berjudul Konflik Pembangunan dan
Gerakan Sosial Politik di Papua, (2003:99) mengatakan bahwa “kehadirian PTFI
dapat dikatakan menjadi sumber konflik baru, … Freeport menambah konpleksitas
konflik di daerah ini”.
Pernyataan
ini sangat benar karena fakta-fakta berbicara tentang eksploitasi Sumber Daya
Alam, minimnya partisipasi masyarakat
asli/pribumi; dominasi pendatang, penindasan budaya, dan pengembangan Sumber
Daya Manusia yang bias”. Keadaan ini tidak didukung dengan pemerintahan daerah
yang kurang bersih dan korup membiarkan masyarakat terhanyut dalam cengkeraman
kepentingan
A. Perkembanga kota timika & dampak sosial
Pada tahun 2007 jumlah penduduk Kabupaten
Mimika mencapai 155.533 jiwa dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di Indonesia
sepert dilansir dalam TEMPO INTERAKTIF pada tanggal, 7 Desember 2009 bahwa
“belum genap 10 tahun Kabupaten Mimika pertumbuhan penduduknya paling tinggi
dari seluruh daerah Indonesia”, di dukung dengan pernyataan Kepala Bidang
Sosial Budaya Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Mimika Dentje Nere, 7
November 2009, mengatakan bahwa “tingkat penduduk , Mimika pertahun sebesar
14,5%, walaupun belum ada pendataan penduduk yang akurat hingggaa tahun 2009
diperkirakan sudah mencapai 300ribu jiwa, data ini bukan merupakan komponen kelahiran
baru tetapi merupakan migrasi penduduk masuk ke Mimika”.
1)
Jumlah penduduk yang demikian besar tersebut bukan merupakan
jumlah kelahiran tetapi adalah penduduk imigran yang berpindah ke Timika.
Imigran yang datang ke Kabupaten Mimika rata-rata usia kerja. Penduduk yang
datang dari luar Papua lebih siap bersaing dengan tingkat pendidikan dan skill
yang memadai. Sementara ribuan penduduk asli di Mimika menganggur. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika
mengatakan bahwa ribuan usia produktif menganggur karena tidak memiliki skill.
Koran Harian Umum Sore Sinar Harapan tanggal, 16 Desember 2009 merilis
pernyataan Chalid Mohamad peneliti Institut Hijau Indonesia “90% penduduk
miskin ada di sekitar operasi PT. Freeport Indonesia adalah menjadi sebuah
ironi”.
2)
Laporan peneliti Agus Riyanto dan Julianto yang dirilis majalah Trust
no 8, tahun VII, 21-27 Desemeber 2009 bahwa “warga tujuh suku disekitar kawasan
tambang Freeport tetap melarat, terbelakang, berada di bayang-bayang penyebaran
HIV/AIDS, dan doyan mabuk”.
3)
Dari data-data ini semakin jelas bahwa penduduk Papua khususnya berasal
dari pegunungan Tengah yang hidup di Kabupaten Mimika mengalami kemiskinan,
kebodohan, keterbelakangan, ketelanjangan, dan semakin tak berdaya.
B. Kebutuhan masyarakat yang mendesak
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh
Zadrak Wamebu, SH dan Dr. Karlina Leksono, tahun 2001 berhasil mengidentifikasi
perioritas kebutuhan masyarakat. Selain mengidentifikasi kebutuhan masyarakat
Papua secara umum, perioritas kebutuhan Masyarakat di Kabupaten Mimika telah di
identifikasi. Perioritas kebutuhan masyarakat Mimika adalah pendidikan, modal
kerja, rasa aman dan kebersihan lingkungan; Tidak berbeda dari daerah lain
kebutuhan pendidikan dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat pendidikan
masyarakat yang dihambat oleh rendahnya kemampuan masyarakat untuk membiayai
sekolah anaknya. Selain itu kebutuhan modal kerja muncul sebagai akibat dari
biaya hidup tinggi sementara pekerjaan sangat sulit. Rasa amanpun menjadi titik
focus utama, mengingat banyak terjadinya tindakan-tindakan kekerasan yang
menimpa masyarakat Timika.
a. Kebutuhan
masyarakat Papua Asli pada umum, yaitu:
v Motif
ekonomi 40,6%
v Pendidikan
dan pelatihan 20,5%
v keamanan
stabilitas dan HAM 19,8%,
v kesempatan,
kebebasan, dan pengakuan 13,1%,
v prasarana
dan sarana lingkungan 6%.
C.
Memahami konflik
Semua orang memahami konflik yang terjadi kalangan masyarakat tetapi
hanya menonton dan memelihara akhirnya banyak masyarakat dan orang papua habis
dalam persolan kecil,besar sperti yang sering terjadi di kota timika dan
sekitarnya.
i.
Masyarakat sangat majemuk seperti ditimika memiliki perspektif
atau pandangan yang berbeda tentang hidup dan masalah-masalahnya.
ii.
dilahirkan sebagai
laki-laki dan perempuan, dilahirkan dengan suatu cara hidup tertentu seperti
seorang kepala suku di kwamkilama dengan seorang anak pengusaha konglomerat
yang tinggal di Jakarta
iii.
Perhatikan sejenak lukisan dibawah ini : Apa yang anda lihat ?,
Coba lihat gambar sekali lagi dapatkah anda melihat sesuatu yang berbeda ?

Latar belakang kita menuntut kita untuk
melihat sesuatu dengan cara tertentu.
Perbedaan itu ditandai dengan status,
kekuasaan, kekayaan, usia, gender, keanggotaan dalam suatu kelompok social
tertentu.
Ketika sasaran dan kepentingan mereka
bertentangan atau tidak sesuai, maka terjadilah konflik.
D.
Penyebab konflik secara konseptual
Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial dimana salah satu
pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya
tidak berdaya.
Sejarah
jaman maupun kenyataan hingga kini membuktikan bahwa konflik sosial secara
langsung selalu menimbulkan akibat negatif. Misalnya : Bentrokan, kekejaman
maupun kerusuhan yang terjadi antara individu dengan individu, suku dengan
suku, bangsa dengan bangsa, golongan penganut agama yang satu dengan golongan
penganut agama yang lain. mengakibatkan korban jiwa, materiil, dan juga
spiritual, serta berkobarnya rasa kebencian dan dendam.
Merujuk pada
penjelasan pada teras depan yang sudah diuraikan diatas, akar sumber lain yakni
Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok, adanya ketimpangan dari
berbagai dimensi kehidupan seperti (Partisipasi politik, asset ekonomi, pendapatan, angkatan pekerja, pendidikan
budaya), perubahan – perubahan nilai.
a)
Secara sosiologis ini adalah sebuah effect dari Kebutuhan,
Identity, dan Nilai dari sebuah suku bangsa di Timika dan secara umum di Papua.
Dan ini adalah fakta social yang terjadi.
b)
Reality konflik di di Timika adalah kerusuhan, saling hasutmenghasut,
caci-maki, mencederai,Merujuk pada penjelasan pada teras depan yang sudah
diuraikan diatas, akar sumber lain yakni Perbedaan kepentingan antara individu
dan kelompok, adanya ketimpangan dari berbagai dimensi kehidupan seperti
(Partisipasi politik, asset ekonomi,
pendapatan, angkatan pekerja, pendidikan budaya), perubahan – perubahan nilay.
c)
Secara sosiologis ini adalah sebuah effect dari Kebutuhan,
Identity, dan Nilai dari sebuah suku bangsa di Timika dan secara umum di Papua.
Dan ini adalah fakta social yang terjadi.Gambarkar, Perang sampai bermuara pada
saling membunuh.
E. Tiga dampak saat ini
Dampak pada
aspek psiko-sosial masyarakat dihinggapi rasa takut dan merasa selalu tidak
aman. Akibatnya, diantara kelompok-kelompok masyarakat timbul rasa saling
curiga dan mengikis rasa kepercayaan diantara warga masyarakat (distrust).
Ø Dampak
konflik lainnya adalah mengundang turun tangan keluarga dan sanak saudara dari
kampung, kecamatan, kabupaten,
Ø Pasca
konflik, ekses masih berlanjut, perumahan, lembaga pendidikan, perkantoran,
sarana ibadah tidak aktif hal ini sangat ironis
Ø Masyarakat
pendulang emas dikali waa tidak mensekolahkan anak-anaknya,hasil dulang membeli
minuman keras,dan tidak mengatur diri dalam kehdupan kedepan.
BAB III.
MASA DEPAN HIDUP MASYARAKAT MIMIKA
Perubahan
tersebut mengesankan ada keinginan kuat dari pemerintah untuk memberikan
jaminan lebih besar kepada masyarakat utamanya mereka yang berada di perdesaan
dan tidak memperoleh akses pendidikan formal untuk menikmati hak-hak
kependidikannya, dan mendorong masyarakat untuk mengambil prakarsa lebih besar
dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal.
Bagaimana
perubahan tersebut dijalankan di lapangan? Apakah perubahan tersebut cukup
bermakna bagi perbaikan kualitas pendidikan nonformal di lapangan?
Tentu diperlukan studi yang lebih
mendalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat itu. Tulisan ringkas ini
tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan berat itu. Ini adalah semacam studi
pendahuluan untuk memetakan dan mengidentifikasi gejala-gejala apa saja.
A.
Cengkeraman
Raksasa
Daerah
kita adalah daerah kaya raya. Boleh dikatakan daerah kita ini dapur bagi
bangsa-bangsa di dunia. Seluruh dunia datang ke Kabupaten Mimika untuk mencari
makan dan mengumpulkan uang banyak. Keadaan ini sama dengan keadaan India, Filipina,
dan Indonesia yang diuraikan dari awal materi ini. Orang datang ke Timika
dengan tangan kosong, kembali dari Timika membawa karung-karung yang isi sesak
uang dan emas.
Semua kepentingan ekonomi
berbagai kelompok ada di Kabupaten Mimika, sementara masyarakat asli tidak
berdaya untuk bersaing dengan mereka. Pemerintah daerah Kabupaten Mimika juga
menjadi korup dan tak jujur tidak mampu melihat dan mencari jalan keluar bagi
rakyatnya. Pemerintah daerah justeru memperkuat posisi dari pada pelaku ekonomi
pendatang dengan menyerahkan proyek-proyek besar di Kabupaten ini kepada
pengusaha luar. Pemerintah tidak bisa mendorong perusahaan untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat keluar dari
penderitaan yang panjang ini.
B.
Solusi keluar dari Kecengkeraman
raksas
meningkatkan kesadaran masyarakat
Negara India menjadi Negara Industri besar
dan modern, Negara Filipina yang rakyatnya cerdas dan maju, dan Indonesia yang
pernah ditekan Imperialis – kapitalis mencapai kemajuan sampai keadaan yang ada
seperti sekarang adalah tidak instan tetapi melalu proses perjuangan yang cukup
panjang. Untuk mencapai posisi sekarang terutama terlahir dari kesadaran dari
internal masyarakat itu sendiri terhadap kondisi-kondisi social masyarakat dan
mereka mengetahui orang-orang asing yang datang ke negeri mereka.
Sekarang
di Timika kita juga menghadapi keadaan yang sama persis seperti keadaan
masyarakat yang digambarkan tulisan awal dari makalah ini. Kita harus menyadari
bahwa kita hidup di zaman yang berbeda, kita harus sadar bahwa dunia ini sedang
berubah, kita juga harus menjadi dinamis mengikuti perkembangan. Dunia lain
mereka sibuk dengan pembangunan, persaingan ekonomi, persaingan teknologi, dan
perdagangan bebas atau globalisasi kita masih sibuk dengan cara lama kita, masih
sibuk dengan konflik internal, dan berurusan dengan masalah-masalah yang tidak
penting dan tidak bermanfaat.
Untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat perlu lakukan sejumlah hal
¡ Iman dan
kepercayaan
¡ Pembinaan
& Penyuluhan berkelanjutan
C. Meningkatkan Pendidikan Anak
Pendidikan merupakan dasar dari segala
kemajuan dan kesejahteraan. Dengan sarana pendidikan yang memadai melahirkan
kualitas manusia-manusia yang mampu membangun diri dan masyarakat. Sebagaimana
kita ketahui dari awal revolusi di India terjadi karena banyak orang yang
mendapat pendidikan di Negeri Inggris, Masyarakat Filipina mencapai kemandirian
karena pendidikan dibenahi, dan Soekarno memproklamirkan Republik Indonesi
karena mendapat pendidikan di negeri Belanda dengan sarana pendidikan yang
memadai. Ini merupakan contoh-contoh yang menarik bagi kita terutama bagi kita
yang memegang posisi kebijkan, kesempatan, dan uang.
D. Sekilas Pendidikan
Nonformal
Ada
3 istilah yang sering digunakan untuk membedakan jenis pendidikan: pendidikan
formal, pendidikan informal, dan pendidikan nonformal.
Pendidikan
formal adalah jenis pendidikan yang kita kenal dengan pendidikan persekolahan.
Pendidikan informal menunjuk kepada aktivitas pendidikan dalam keluarga,
lingkungan pekerjaan, media massa dan lain-lain. Pendidikan nonformal adalah
aktivitas pendidikan di luar pendidikan formal, dilakukan secara mandiri,
terorganisir, dan sistematis, untuk melayani peserta didik tertentu dalam
mencapai tujuan belajarnya. Pendidikan formal dan pendidikan nonformal sering
dihadapkan secara berlawanan.
Yang
bisa dicatat dari definisi pendidikan nonformal sebagaimana disebut di atas
adalah: Pertama, pendidikan nonformal bisa berlangsung di mana
saja, dan bisa diprakarsai oleh siapa saja. Tidak harus pemerintah tetapi juga masyarakat
bisa memprakarsainya.
Kedua, warga belajar atau
peserta didik dalam pendidikan nonformal adalah tertentu. Siapa yang masuk
dalam kategori “tertentu” itu? Tentu bisa siapa saja. Deklarasi Dakkar tentang
Pendidikan untuk Semua misalnya menyebut warga belajar tertentu itu adalah “early
childhood, especially for the most vulnerable and disadvantage children;
children, particularly girls, children in difficult circumtances and those
belonging to ethnic groups” Sebuah jaringan pendidikan nonformal menambahkan
warga belajar tertentu itu adalah “anak jalanan serta anak-anak yang
membutuhkan perlindungan khusus, perempuan dan perempuan perdesaan atau
perempuan petani, anak-anak dini usia yang tinggal di perdesaan, serta warga
masyarakat miskin di perkotaan. Intinya adalah warga masyarakat yang cenderung
tidak memperoleh akses memadai terhadap layanan pendidikan formal utamanya
karena kemiskinan dan ketidakberdayaannya.
Ketiga, karena warga belajarnya
adalah “tertentu”, maka kebutuhan belajarnya juga “tertentu”, barangkali
berbeda, lebih spesifik atau malahan juga lebih luas dari pendidikan formal.
Kebutuhan belajar petani perempuan di suatu desa berbeda dengan kebutuhan
petani perempuan di desa yang lain. Demikian pula kebutuhan belajar anak-anak
di suku terasing akan berbeda dengan kebutuhan anak-anak di komunitas nelayan
misalnya. Semua kebutuhan harus mendapat tempat dalam pendidikan nonformal.
Keempat,
karena
warga belajar dan kebutuhannya bersifat “tertentu” maka tujuan belajarnya
pasti juga tertentu. Apakah yang tertentu itu? Semuanya terserah keinginan
warga belajar. Tetapi mungkin tujuan belajar petani tidak akan beranjak terlalu
jauh dari misalnya mengatahui mengapa harga pupuk naik, ingin bertambah
penghasilannya, mengetahui cara memberantas hama padi, ingin tahu cara memupuk
dengan benar, ingin menambah produktivitas lahan pertaniannya, dan seterusnya.
Dari
penjelasan diatas dapat dicatat bahwa pendidikan nonformal sesungguhnya
bersifat hadap masalah, berbasis kebutuhan warga belajar, kontekstual, dan
bertumpu kepada potensi lokal. Sifat-sifat yang demikian inilah yang
mengantarkan orang kepada pandangan bahwa sesungguhnya pendidikan nonformal
berada dalam tradisi pendidikan Freirian. Pendidikan nonformal muncul sebagai
bentuk perlawanan dan dekontruksi terhadap kegagalan pendidikan formal .
Kelima, proses pembelajaran untuk
karakteristik warga belajar dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang serba
tertentu itu tidak mungkin dilakukan dengan pendekatan konvensional-klasikal.
Diperlukan metode-metode belajar yang lebih dialogis-partisipatif . Hanya
dengan metode semacam ini tujuan dan kebutuhan belajar itu bisa lebih banyak
tertampung.
BAB IV.
PERANAN KEPALA SUKU (ADAT), AGAMA DAN
PEMERINTAH DALAM MENGATASI KONFLIK DAN PERDAMAIAN
Secara
sosiologis, proses sosial dapat bersifat menggabungkan (associative processes)
diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai seperti keadilan sosial, cinta kasih,
kerukunan, solidaritas inilah yang dinamakan kerjasama dalam interaksi sosial.
Sebaliknya
proses sosial yang bersifat dissosiatif mengarah pada terciptanya nilai-nilai
negatif atau asosial, seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan,
pertentangan, perpecahan dan sebagainya inilah yang dinamakan Persaingan dan
Konflik.
Peranan
Lembaga (adat, agama dan Pemerintah) dalam penyelesaian konflik
A.
Kerja sama
Kerja sama
dalam lembaga dan warga serta kerjasama kelembagaan untuk menciptakan
perdamaian.
Kerja sama
dirangsang oleh Pimpinan yang dihormati.
Mengelaborasi
melalui modal social masyarakat di motori oleh pimpinan
B.
Akomodasi
Hal ini
merujuk pada dua hal yakni akomodasi sebagai proses yang adalah usaha –
usaha pimpinan dalam warga untuk meredakan pertentangan dalam mencapai
kestabilan dan keadaan yakni menciptakan keseimbangan kehidupan
bermasyarakat dalam bentuk Negosiasi.
Manfaat yang
akan dirasakan jika peranan ini dilaksanakan adalah kebersamaan, penekanan
oposisi, koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda, perubahan lembaga –
lembaga permasyarakatan, perubahan – perubahan dalam kependudukan, dan
pembukaan jalan ke arah asimilasi
C.
Asimilasi
Asimilasi
adalah suatu penyesuaian atau penyelarasan proses sosial dalam taraf lanjutan
yang ditandai dengan adanya usaha – usaha yang dilakukan untuk mengurangi
perbedaaan yang terdapat pada orang perorangan atau kelompok.
solidaritas dan kebersamaan, rasa cinta akan
tanah dan bangsa khususnya di papua dan memediasi masyarakat dalam memajukan
berkompetisi. Misalnya, orang kamoro menerima orang moni, maibrat atau bugis,
batak sebagai satu kesatuan dari warganya.
D.
Akulturas
Dari luar
boleh datang tetapi identitas, nilai, kebutuhan tetap dibangun
pimpinan masyarakat mengorganisir masyarakat
dan mengembangkan konection dengan berbagai pihak dalam memajukan kebudayaan
dalam suasana masyarakat yang terbuka ini. Peran Lembaga dalam mendorong
penyelesaian konflik : Komunikasi, Negosiasi, mediasi dan mengembangkan
jaringan dan mengorganize masyarakat.
Hal ini dilakukan berdasarkan pada pengidentifikasian masalah, Penyebab
masalah, efek-efek yang akan muncul akibat masalah dan issu yang paling penting
diatasi.
BAB V.PENUTUP
Kita perlu
menyadari bahwa bangsa lain, Negara lain, rakyat Indonesia bagian barat telah
berkembang dan maju selama 4000 tahun sementara kita maju dengan waktu yang
sangat singkat. Dalam sejarah kontak dengan dunia luar/orang asing waktu yang
cepat sekali, kita berkembang dalam waktu 20 – 30 tahun terakhir ini. Kita
mengalami satu lonjakan budaya yang luar biasa, mungkin sejarah perkembangan
manusia di muka bumi ini kita adalah orang pertama yang mengalami suatu masa
yang sangat singkat tetapi jika kita mengasah kemampuan kita pasti kita akan
segera bangkit dari keterpurukan kondisi ekonomi, sosbud, dan pendidikan kita.
Kita perlu mengutamakan
TUHAN kita. Yesus Kristus harus menjadi panglima kita dalam kemajuan dan perjuangan menunuju kemandirian
kita dan masa depan Papua bangkit dari penjajahan,pembunuhan,penindasan dan
lain-lain.
Saran Kami
Mata
kulah ini kami buat dengan kemampuan kami,oleh sebab itu dalam penulisan ada
kesalahan dalam makalah ini suatu saat kita perbaiki sama-sama
Demikian dan terima kasih
Tuhan Yesus memberkati kita semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar