Minggu, 26 April 2015

AKIBAT TERJADI KONFILIK DI MASYARAKAT



AKIBAT TERJADINYA KONFLIK DI MASYARAKAT DAN PERANAN KEPALA SUKU, AGAMA DAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI KONFLIK DI TIMIKA
BAB I.
PENDAHULUAN/Teras Depan
Selama ini intensitas konflik di Timika makin tinggi. Setiap kali terjadi konflik maka Aparat Keamanan langsung terjun menyelesaikannya. Namun demikian, pelbagai pihak justru mengkritik bahwa penyelesaian konflik selalu tak tuntas. Malah menyebabkan konflik serupa muncul kembali. Siapakah sebenarnya “penyulut konflik” di Timika?
Konflik adalah sesuatu yang tak dapat dihindari karena melekat erat dalam jalinan kehidupan bermasyarakat. selama masyarakat melakukan interaksi dengan orang lain,  potensi untuk tercipta konflik pasti akan hadir.
1)   Kota Timika menjadi kota tujuan bagi kaum minggran baik dari dalam Papua maupun diluar Papua.
2)   Jumlah Warga yang masuk ke Timika lebih dari angka 200an lebih/hari. dengan tujuan Mencari kerja, bisnis dan datang mengunjungi keluarga. Dengan kepadatan  jumlah penduduk  seperti ini, turut berpengaruh pula pada aspek –aspek seperti lapangan pekerjaan, kapasitas tanah dan peluang bisnis. Akhirnya hadirlah ranah untuk berkompetisi tinggi, “siapa kuat dia dapat”. 
3)   Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap Tahun di Kabupaten Mimika lebih besar dari seluruh Kabupaten di Indonesia sebesar Triliunan, Namun konflik tetap ada.




A.    Damal atau Amungme
Sebelum kontak dengan dunia luar masyarakat Amungme mencapai satu tingkat social masyarakat yang tinggi dan ideal. Di mana tidak ada pertentangan antara satu kelompok dengan kelompok lain, satu kerabat dengan kerabat yang lain. Mereka menempatkan manusia pada perioritas utama dengan istilah “bahasa Damalkal” “ Me-et ung ot-o’ kamae”, artinya tidak ada benda di dunia ini yang sama dengan manusia. “Mea yak Arukgo” artinya mengutamakan manusia; manusia lebih penting dari pada harta kekayaan. Dengan konsep inilah yang membuat ketika masalah muncul di masyarakat atau ada pertentangan lebih mengutamakan musyawarah dan mupakat. Ada persoalan di masyarakat/ada pertentangan antar kelompok komunikasi untuk menyelesaikan jauh lebih penting ketimbang perang atau berkelahi. Keadaan ini disebut dalam bahasa Damalme Kal Hikop; kal o’namung urawin dan kalwe, artinya jika terjadi suatu persoalan di masyarakat sebelum angkat panah atau angkat batu bicara/komunikasi itu sangat utama. jika terjadi suatu soal orang mengambil keputusan yang bagus dan menyenangkan semua pihak, dll. Kondisi social masyarakat ini merupakan kondisi sangat ideal. Setiap warga masyarakat mempunyai hak yang sama tidak pandang dari usia, kedudukan, dan kekayaan. Setiap orang mempunyai hak dan kedudukan yang sama untuk dilindungi dan di hargai hakekat kemaunsiaannya. Di dalam masyarakat Amungme tidak mengenal kelas social seperti masyarakat lain ada pria, wanita, ningrat, budak, dan orang merdeka. Di Damalme, perempuan, laki-laki, dan anak-anak mempunyai hak yang sama tidak ada perbedaannya.
a.      Jika ada orang yang lebih menonjol di masyarakat; misalnya mempunyai banyak ternak babi, kebun luas, memiliki mungka mangka, bukan berarti mereka berasal dari golongan kelas social tinggi. Setiap individu mendapatkan nama di masyarakat berdasarkan hasil usaha dan kerja keras dari individu bersangkutan. Untuk mencapai kedudukan ini setiap warga masyarakat mempunyai kesmpatan yang sama untuk berusaha, kerja keras dan memperoleh status social di masyarakat. Misalnya orang yang punya babi banyak, mempunyai mungka mangka, mempunyai istri banyak, dan lain sebagainya. Orang yang mencapai kedudukan tinggi di masyarakat ini tidak hidup sendirian dan harta bendanya tidak dinikmati sendirian tetapi ia lebih banyak berperan aktif dalam masyarakat, membantu membayarkan harta perempuan, ada masalah ditebus dengan babi, dan lain sebagainya.

B.    Damal,Amungme dengan hubungan kekerabatan
Masyarakat Amungme mempunyai relasi yang cukup luas berdasarkan hubungan kekerabat. Kekerabatan tersebut dibentuk berdasarkan hubungan satu moyang, hubungan perkawinan, hubungan kesamaan dusun, dan hubungan perdagangan tradisional dan lain sebagainya. Misalnya Damalme dengan masyarakat Amungme dan Iliga ada hubungan kesamaan moyang atau orang Amungme menyebutnya Menamok Ki artinya ada keluarga yang kakak hidup/tinggal di Damal adik di Amungta atau Ilaga dan sebaliknya. Hubungan keluarga dengan Moni, transaksi kulibia; hubuungan dengan Dulal, kulibia dan garam; satu-satunya tempat yang ada garam hanya di Dula atau Kemawua sehingga membangun hubungan baik dengan masyarakat di Dula, begitu juga dengan masyarakat Amungme dengan Nduga.
C.     Masyarakat sesudah kontak dengan masyarakat dan orang luar
Masyarakat Damal dan Amungme membangun komitmen dan kerja sama antara orang luar; untuk mengambil pertambangan,Emas,mineral,dan gas alam di daerahTimika,Tembagapura,Stingga,Jila,Arwanop,oea dan sekitarnya.
a.      16 Februari 1623 komodor Jan Carstensz dengan kapalnya berlayar di sebelah selatan Pulau Papua. Kapalnya berlabu di laut Mimika Pantai dan pada pagi harinya ia melihat salju di Nemangkawi.
b.     Antara tahun 1912 -1913. Ekspedisi Inggris di bawah pimpinan Dr. Wollaston dengan berpangkalan di sungai Otakwa/Singogong. Ekspedisi ini mengikuti Tsingogomg hingga di lembah Tsinga dan mendaki gunung Nemangkawi tetapi gagal dan pulang.
c.      Antara tahun 1936 – 1937: Ekspedisi Colijn melalui sungai Ajkwa hingga tiba di Waa Banti dan berhasil mendaki Puncak Gunung Nemangkawi. Ekspedisi ini kontak kedua kalinya dengan dunia luar.
d.     Antara Tahun 1938 – 1939; orang-orang dari lembah Tsinga turun ke Tsingi untuk menukarkan rokok dengan parang, kapak, dan pisau dengan masyarakat Kamoro. Pada saat inilah Moses Kilangin ditinggalkan di Pantai Selatan dan mereka kembali ke lembah Tsinga. Antara Tahun 1948-1950: Controluer Binnenlands Bestuur, Mijer Ranefr, di Enarotali Menerima dan bertemu seorang tokoh masyarakat dari lembah Tsinga bernama Menonal Beanal.
e.      Tahun 1951 : Pater M. Kamerer mengunjungi masyarakat Amungme di lembah Tsinga.
f.       Tahun 1952 : Pater M. Kamerer mengunjungi Ilaga dengan maksud berkunjung ke lembah Baliem.
g.      Tahun 1953: Pater M. Kamerer dari Enarotali melakukan kunjungan ke Lembah Tsinga.
h.     Tahun 1955: Guru Moses Kilangin resmi dipindahkan ke lembah Tsinga dan melakukan perubahan-perubahan di Tsinga.
i.        Tahun 1960: Masyarakat Amungme sebagian besar tidak sabar lagi untuk pindah dari gunung ke Agimuga.
j.        Tanggal, 25 April 1960: PT. Freeport menyiapkan diri untuk pertama kali melakukan survey di Puncak Carstensz.
k.     Tahun 1967: kontrak karya PT. Freeport Indonesia ditandatangani.
l.        Tahun 1990 : Baru menyekolahkan siswa dari sekitar perusahaan untuk sekolah;



BAB II
KEHADIRAN PT.FREEPORT INDONESIA & DAMPAK SOSIAL
Sebelum mengenal budaya modern atau kontak dengan orang asing kita pernah mencapai pada tatanan kehidupan social yang sangat ideal. Sudah terbentuk masyarakat yang demokratis dan mengutamakan manusia. Tetapi kehadiran kapitalis raksasa telah menghancurkan nilai-nilai kehidupan social masyarakat, martabat, harkat, dan harga diri masyarakat. Wartawan Senior KOMPAS Dr. Daniel Dhakidae, menulis bahwa “yang terjadi di Papua adalah suatu penghancuran martabat manusia”. Sementara itu, peneliti dari UGM Dr. Ngadisah, MA, dalam bukunya yang berjudul Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial Politik di Papua, (2003:99) mengatakan bahwa “kehadirian PTFI dapat dikatakan menjadi sumber konflik baru, … Freeport menambah konpleksitas konflik di daerah ini”.
Pernyataan ini sangat benar karena fakta-fakta berbicara tentang eksploitasi Sumber Daya Alam, minimnya partisipasi  masyarakat asli/pribumi; dominasi pendatang, penindasan budaya, dan pengembangan Sumber Daya Manusia yang bias”. Keadaan ini tidak didukung dengan pemerintahan daerah yang kurang bersih dan korup membiarkan masyarakat terhanyut dalam cengkeraman kepentingan
A.    Perkembanga kota timika & dampak sosial
Pada tahun 2007 jumlah penduduk Kabupaten Mimika mencapai 155.533 jiwa dengan pertumbuhan penduduk tertinggi di Indonesia sepert dilansir dalam TEMPO INTERAKTIF pada tanggal, 7 Desember 2009 bahwa “belum genap 10 tahun Kabupaten Mimika pertumbuhan penduduknya paling tinggi dari seluruh daerah Indonesia”, di dukung dengan pernyataan Kepala Bidang Sosial Budaya Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Mimika Dentje Nere, 7 November 2009, mengatakan bahwa “tingkat penduduk , Mimika pertahun sebesar 14,5%, walaupun belum ada pendataan penduduk yang akurat hingggaa tahun 2009 diperkirakan sudah mencapai 300ribu jiwa, data ini bukan merupakan komponen kelahiran baru tetapi merupakan migrasi penduduk masuk ke Mimika”.
1)   Jumlah penduduk yang demikian besar tersebut bukan merupakan jumlah kelahiran tetapi adalah penduduk imigran yang berpindah ke Timika. Imigran yang datang ke Kabupaten Mimika rata-rata usia kerja. Penduduk yang datang dari luar Papua lebih siap bersaing dengan tingkat pendidikan dan skill yang memadai. Sementara ribuan penduduk asli di Mimika menganggur.  Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika mengatakan bahwa ribuan usia produktif menganggur karena tidak memiliki skill. Koran Harian Umum Sore Sinar Harapan tanggal, 16 Desember 2009 merilis pernyataan Chalid Mohamad peneliti Institut Hijau Indonesia “90% penduduk miskin ada di sekitar operasi PT. Freeport Indonesia adalah menjadi sebuah ironi”.
2)   Laporan peneliti Agus Riyanto dan Julianto yang dirilis majalah Trust no 8, tahun VII, 21-27 Desemeber 2009 bahwa “warga tujuh suku disekitar kawasan tambang Freeport tetap melarat, terbelakang, berada di bayang-bayang penyebaran HIV/AIDS, dan doyan mabuk”.
3)   Dari data-data ini semakin jelas bahwa penduduk Papua khususnya berasal dari pegunungan Tengah yang hidup di Kabupaten Mimika mengalami kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketelanjangan, dan semakin tak berdaya.
B.    Kebutuhan masyarakat yang mendesak
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Zadrak Wamebu, SH dan Dr. Karlina Leksono, tahun 2001 berhasil mengidentifikasi perioritas kebutuhan masyarakat. Selain mengidentifikasi kebutuhan masyarakat Papua secara umum, perioritas kebutuhan Masyarakat di Kabupaten Mimika telah di identifikasi. Perioritas kebutuhan masyarakat Mimika adalah pendidikan, modal kerja, rasa aman dan kebersihan lingkungan; Tidak berbeda dari daerah lain kebutuhan pendidikan dilatar belakangi oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat yang dihambat oleh rendahnya kemampuan masyarakat untuk membiayai sekolah anaknya. Selain itu kebutuhan modal kerja muncul sebagai akibat dari biaya hidup tinggi sementara pekerjaan sangat sulit. Rasa amanpun menjadi titik focus utama, mengingat banyak terjadinya tindakan-tindakan kekerasan yang menimpa masyarakat Timika.
a.      Kebutuhan masyarakat Papua Asli pada umum, yaitu:
v Motif ekonomi 40,6%
v Pendidikan dan pelatihan 20,5%
v keamanan stabilitas dan HAM 19,8%,
v kesempatan, kebebasan, dan pengakuan 13,1%,
v prasarana dan sarana lingkungan 6%.

C.     Memahami konflik
Semua orang memahami konflik yang terjadi kalangan masyarakat tetapi hanya menonton dan memelihara akhirnya banyak masyarakat dan orang papua habis dalam persolan kecil,besar sperti yang sering terjadi di kota timika dan sekitarnya.
                                            i.            Masyarakat sangat majemuk seperti ditimika memiliki perspektif atau pandangan yang berbeda tentang hidup dan masalah-masalahnya.
                                         ii.             dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan, dilahirkan dengan suatu cara hidup tertentu seperti seorang kepala suku di kwamkilama dengan seorang anak pengusaha konglomerat yang tinggal di Jakarta
                                       iii.            Perhatikan sejenak lukisan dibawah ini : Apa yang anda lihat ?, Coba lihat gambar sekali lagi dapatkah anda melihat sesuatu yang berbeda ?
pria menatap wanita cantik
Latar belakang kita menuntut kita untuk melihat sesuatu dengan cara tertentu.
Perbedaan itu ditandai dengan status, kekuasaan, kekayaan, usia, gender, keanggotaan dalam suatu kelompok social tertentu.
Ketika sasaran dan kepentingan mereka bertentangan atau tidak sesuai, maka terjadilah konflik.
D.    Penyebab konflik secara konseptual
Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Sejarah jaman maupun kenyataan hingga kini membuktikan bahwa konflik sosial secara langsung selalu menimbulkan akibat negatif. Misalnya : Bentrokan, kekejaman maupun kerusuhan yang terjadi antara individu dengan individu, suku dengan suku, bangsa dengan bangsa, golongan penganut agama yang satu dengan golongan penganut agama yang lain. mengakibatkan korban jiwa, materiil, dan juga spiritual, serta berkobarnya rasa kebencian dan dendam.

Merujuk pada penjelasan pada teras depan yang sudah diuraikan diatas, akar sumber lain yakni Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok, adanya ketimpangan dari berbagai dimensi kehidupan seperti (Partisipasi politik, asset ekonomi,  pendapatan, angkatan pekerja, pendidikan budaya), perubahan – perubahan nilai.
a)    Secara sosiologis ini adalah sebuah effect dari Kebutuhan, Identity, dan Nilai dari sebuah suku bangsa di Timika dan secara umum di Papua. Dan ini adalah fakta social yang terjadi.
b)    Reality konflik di di Timika adalah kerusuhan, saling hasut­menghasut, caci-maki, mencederai,Merujuk pada penjelasan pada teras depan yang sudah diuraikan diatas, akar sumber lain yakni Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok, adanya ketimpangan dari berbagai dimensi kehidupan seperti (Partisipasi politik, asset ekonomi,  pendapatan, angkatan pekerja, pendidikan budaya), perubahan – perubahan nilay.
c)     Secara sosiologis ini adalah sebuah effect dari Kebutuhan, Identity, dan Nilai dari sebuah suku bangsa di Timika dan secara umum di Papua. Dan ini adalah fakta social yang terjadi.Gambarkar, Perang sampai bermuara pada saling membunuh.
E.     Tiga dampak saat ini
Dampak pada aspek psiko-sosial masyarakat dihinggapi rasa takut dan merasa selalu tidak aman. Akibatnya, diantara kelompok-kelompok masyarakat timbul rasa saling curiga dan mengikis rasa kepercayaan diantara warga masyarakat (distrust).
Ø Dampak konflik lainnya adalah mengundang turun tangan keluarga dan sanak saudara dari kampung, kecamatan, kabupaten,
Ø Pasca konflik, ekses masih berlanjut, perumahan, lembaga pendidikan, perkantoran, sarana ibadah tidak aktif hal ini sangat ironis
Ø Masyarakat pendulang emas dikali waa tidak mensekolahkan anak-anaknya,hasil dulang membeli minuman keras,dan tidak mengatur diri dalam kehdupan kedepan.


BAB III.
MASA DEPAN HIDUP MASYARAKAT MIMIKA
Perubahan tersebut mengesankan ada keinginan kuat dari pemerintah untuk memberikan jaminan lebih besar kepada masyarakat utamanya mereka yang berada di perdesaan dan tidak memperoleh akses pendidikan formal untuk menikmati hak-hak kependidikannya, dan mendorong masyarakat untuk mengambil prakarsa lebih besar dalam penyelenggaraan pendidikan nonformal.
Bagaimana perubahan tersebut dijalankan di lapangan? Apakah perubahan tersebut cukup bermakna bagi perbaikan kualitas pendidikan nonformal di lapangan?
Tentu diperlukan studi yang lebih mendalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat itu. Tulisan ringkas ini tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan berat itu. Ini adalah semacam studi pendahuluan untuk memetakan dan mengidentifikasi gejala-gejala apa saja.
A.    Cengkeraman Raksasa
            Daerah kita adalah daerah kaya raya. Boleh dikatakan daerah kita ini dapur bagi bangsa-bangsa di dunia. Seluruh dunia datang ke Kabupaten Mimika untuk mencari makan dan mengumpulkan uang banyak. Keadaan ini sama dengan keadaan India, Filipina, dan Indonesia yang diuraikan dari awal materi ini. Orang datang ke Timika dengan tangan kosong, kembali dari Timika membawa karung-karung yang isi sesak uang dan emas.
                Semua kepentingan ekonomi berbagai kelompok ada di Kabupaten Mimika, sementara masyarakat asli tidak berdaya untuk bersaing dengan mereka. Pemerintah daerah Kabupaten Mimika juga menjadi korup dan tak jujur tidak mampu melihat dan mencari jalan keluar bagi rakyatnya. Pemerintah daerah justeru memperkuat posisi dari pada pelaku ekonomi pendatang dengan menyerahkan proyek-proyek besar di Kabupaten ini kepada pengusaha luar. Pemerintah tidak bisa mendorong perusahaan untuk meningkatkan kemampuan  masyarakat keluar dari penderitaan yang panjang ini.

B.    Solusi keluar dari Kecengkeraman raksas

meningkatkan kesadaran masyarakat
Negara India menjadi Negara Industri besar dan modern, Negara Filipina yang rakyatnya cerdas dan maju, dan Indonesia yang pernah ditekan Imperialis – kapitalis mencapai kemajuan sampai keadaan yang ada seperti sekarang adalah tidak instan tetapi melalu proses perjuangan yang cukup panjang. Untuk mencapai posisi sekarang terutama terlahir dari kesadaran dari internal masyarakat itu sendiri terhadap kondisi-kondisi social masyarakat dan mereka mengetahui orang-orang asing yang datang ke negeri mereka.
            Sekarang di Timika kita juga menghadapi keadaan yang sama persis seperti keadaan masyarakat yang digambarkan tulisan awal dari makalah ini. Kita harus menyadari bahwa kita hidup di zaman yang berbeda, kita harus sadar bahwa dunia ini sedang berubah, kita juga harus menjadi dinamis mengikuti perkembangan. Dunia lain mereka sibuk dengan pembangunan, persaingan ekonomi, persaingan teknologi, dan perdagangan bebas atau globalisasi kita masih sibuk dengan cara lama kita, masih sibuk dengan konflik internal, dan berurusan dengan masalah-masalah yang tidak penting dan tidak bermanfaat.
            Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perlu lakukan sejumlah hal
¡ Iman dan kepercayaan
¡ Pembinaan & Penyuluhan berkelanjutan
C.     Meningkatkan Pendidikan Anak
Pendidikan merupakan dasar dari segala kemajuan dan kesejahteraan. Dengan sarana pendidikan yang memadai melahirkan kualitas manusia-manusia yang mampu membangun diri dan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui dari awal revolusi di India terjadi karena banyak orang yang mendapat pendidikan di Negeri Inggris, Masyarakat Filipina mencapai kemandirian karena pendidikan dibenahi, dan Soekarno memproklamirkan Republik Indonesi karena mendapat pendidikan di negeri Belanda dengan sarana pendidikan yang memadai. Ini merupakan contoh-contoh yang menarik bagi kita terutama bagi kita yang memegang posisi kebijkan, kesempatan, dan uang.
D. Sekilas Pendidikan Nonformal
Ada 3 istilah yang sering digunakan untuk membedakan jenis pendidikan: pendidikan formal, pendidikan informal, dan pendidikan nonformal.
Pendidikan formal adalah jenis pendidikan yang kita kenal dengan pendidikan persekolahan. Pendidikan informal menunjuk kepada aktivitas pendidikan dalam keluarga, lingkungan pekerjaan, media massa dan lain-lain. Pendidikan nonformal adalah aktivitas pendidikan di luar pendidikan formal, dilakukan secara mandiri, terorganisir, dan sistematis, untuk melayani peserta didik tertentu dalam mencapai tujuan belajarnya. Pendidikan formal dan pendidikan nonformal sering dihadapkan secara berlawanan.
Yang bisa dicatat dari definisi pendidikan nonformal sebagaimana disebut di atas adalah: Pertama, pendidikan nonformal bisa berlangsung di mana saja, dan bisa diprakarsai oleh siapa saja. Tidak harus pemerintah tetapi juga masyarakat bisa memprakarsainya.
Kedua, warga belajar atau peserta didik dalam pendidikan nonformal adalah tertentu. Siapa yang masuk dalam kategori “tertentu” itu? Tentu bisa siapa saja. Deklarasi Dakkar tentang Pendidikan untuk Semua misalnya menyebut warga belajar tertentu itu adalah “early childhood, especially for the most vulnerable and disadvantage children; children, particularly girls, children in difficult circumtances and those belonging to ethnic groups” Sebuah jaringan pendidikan nonformal menambahkan warga belajar tertentu itu adalah “anak jalanan serta anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus, perempuan dan perempuan perdesaan atau perempuan petani, anak-anak dini usia yang tinggal di perdesaan, serta warga masyarakat miskin di perkotaan. Intinya adalah warga masyarakat yang cenderung tidak memperoleh akses memadai terhadap layanan pendidikan formal utamanya karena kemiskinan dan ketidakberdayaannya.
Ketiga, karena warga belajarnya adalah “tertentu”, maka kebutuhan belajarnya juga “tertentu”, barangkali berbeda, lebih spesifik atau malahan juga lebih luas dari pendidikan formal. Kebutuhan belajar petani perempuan di suatu desa berbeda dengan kebutuhan petani perempuan di desa yang lain. Demikian pula kebutuhan belajar anak-anak di suku terasing akan berbeda dengan kebutuhan anak-anak di komunitas nelayan misalnya. Semua kebutuhan harus mendapat tempat dalam pendidikan nonformal.
Keempat, karena warga belajar dan kebutuhannya bersifat “tertentu” maka  tujuan belajarnya pasti juga tertentu. Apakah yang tertentu itu? Semuanya terserah keinginan warga belajar. Tetapi mungkin tujuan belajar petani tidak akan beranjak terlalu jauh dari misalnya mengatahui mengapa harga pupuk naik, ingin bertambah penghasilannya, mengetahui cara memberantas hama padi, ingin tahu cara memupuk dengan benar, ingin menambah produktivitas lahan pertaniannya, dan seterusnya.
Dari penjelasan diatas dapat dicatat bahwa pendidikan nonformal sesungguhnya bersifat hadap masalah, berbasis kebutuhan warga belajar, kontekstual, dan bertumpu kepada potensi lokal. Sifat-sifat yang demikian inilah yang mengantarkan orang kepada pandangan bahwa sesungguhnya pendidikan nonformal berada dalam tradisi pendidikan Freirian. Pendidikan nonformal muncul sebagai bentuk perlawanan dan dekontruksi terhadap kegagalan pendidikan formal .
Kelima, proses pembelajaran untuk karakteristik warga belajar dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang serba tertentu itu tidak mungkin dilakukan dengan pendekatan konvensional-klasikal. Diperlukan metode-metode belajar yang lebih dialogis-partisipatif . Hanya dengan metode semacam ini tujuan dan kebutuhan belajar itu bisa lebih banyak tertampung.






BAB IV.
PERANAN KEPALA SUKU (ADAT), AGAMA DAN PEMERINTAH DALAM MENGATASI KONFLIK DAN PERDAMAIAN
Secara sosiologis, proses sosial dapat bersifat menggabungkan (associative processes) diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai seperti keadilan sosial, cinta kasih, kerukunan, solidaritas inilah yang dinamakan kerjasama dalam interaksi sosial.
Sebaliknya proses sosial yang bersifat dissosiatif mengarah pada terciptanya nilai-nilai negatif atau asosial, seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan, pertentangan, perpecahan dan sebagainya inilah yang dinamakan Persaingan dan Konflik.
Peranan Lembaga (adat, agama dan Pemerintah) dalam penyelesaian konflik
A.    Kerja sama
Kerja sama dalam lembaga dan warga serta kerjasama kelembagaan untuk menciptakan perdamaian.
Kerja sama dirangsang oleh Pimpinan yang dihormati.
Mengelaborasi melalui modal social masyarakat di motori oleh pimpinan
B.    Akomodasi
  Hal ini merujuk pada dua hal yakni akomodasi sebagai proses yang adalah usaha – usaha pimpinan dalam warga untuk meredakan pertentangan dalam mencapai kestabilan dan keadaan yakni menciptakan keseimbangan kehidupan bermasyarakat dalam bentuk Negosiasi.
  Manfaat yang akan dirasakan jika peranan ini dilaksanakan adalah kebersamaan, penekanan oposisi, koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda, perubahan lembaga – lembaga permasyarakatan, perubahan – perubahan dalam kependudukan, dan pembukaan jalan ke arah asimilasi
C.     Asimilasi
Asimilasi adalah suatu penyesuaian atau penyelarasan proses sosial dalam taraf lanjutan yang ditandai dengan adanya usaha – usaha yang dilakukan untuk mengurangi perbedaaan yang terdapat pada orang perorangan atau kelompok.
solidaritas dan kebersamaan, rasa cinta akan tanah dan bangsa khususnya di papua dan memediasi masyarakat dalam memajukan berkompetisi. Misalnya, orang kamoro menerima orang moni, maibrat atau bugis, batak sebagai satu kesatuan dari warganya.
D.    Akulturas
Dari luar boleh datang tetapi identitas, nilai, kebutuhan tetap dibangun
pimpinan masyarakat mengorganisir masyarakat dan mengembangkan konection dengan berbagai pihak dalam memajukan kebudayaan dalam suasana masyarakat yang terbuka ini. Peran Lembaga dalam mendorong penyelesaian konflik : Komunikasi, Negosiasi, mediasi dan mengembangkan jaringan dan mengorganize masyarakat.  Hal ini dilakukan berdasarkan pada pengidentifikasian masalah, Penyebab masalah, efek-efek yang akan muncul akibat masalah dan issu yang paling penting diatasi. 







BAB V.PENUTUP
Kita perlu menyadari bahwa bangsa lain, Negara lain, rakyat Indonesia bagian barat telah berkembang dan maju selama 4000 tahun sementara kita maju dengan waktu yang sangat singkat. Dalam sejarah kontak dengan dunia luar/orang asing waktu yang cepat sekali, kita berkembang dalam waktu 20 – 30 tahun terakhir ini. Kita mengalami satu lonjakan budaya yang luar biasa, mungkin sejarah perkembangan manusia di muka bumi ini kita adalah orang pertama yang mengalami suatu masa yang sangat singkat tetapi jika kita mengasah kemampuan kita pasti kita akan segera bangkit dari keterpurukan kondisi ekonomi, sosbud, dan pendidikan kita. Kita perlu mengutamakan TUHAN kita. Yesus Kristus harus menjadi panglima kita dalam  kemajuan dan perjuangan menunuju kemandirian kita dan masa depan Papua bangkit dari penjajahan,pembunuhan,penindasan dan lain-lain.
Saran Kami
Mata kulah ini kami buat dengan kemampuan kami,oleh sebab itu dalam penulisan ada kesalahan dalam makalah ini suatu saat kita perbaiki sama-sama

Demikian dan terima kasih Tuhan Yesus memberkati kita semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar