MATA KULIAH PAK
Hakikat pembelajaran adalah suatu sistem belajar yang
terencana dan sistematis dengan maksud agar proses belajar seseorang atau
kelompok orang dapat berlangsung sehingga terjadi perubahan, yakni meningkatkan
kompetensi pembelajar tersebut. Karena itu, guru sebagai ujung tombak dalam
pembelajaran seharusnya berusaha menciptakan sistem lingkungan atau kondisi
yang kondusif agar kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan
efisien.
Belajar memiliki tiga atribut pokok ialah:
Belajar memiliki tiga atribut pokok ialah:
- Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
- Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
- Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Belajar
adalah sebuah proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku seseorang atau
subyek belajar.
Tujuan
belajar bagi subyek belajar adalah untuk:
- mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
- menanamkan konsep dan meningkatkan ketrampilan
- pembentukan sikap.
Ada empat
pilar dalam belajar, yaitu:
- learning to know - akal budi/pengetahuan
- learning to do - aplikasi/perbuatan
- learning to be - pengembangan eksistensi
- learning to live together - makhluk sosial
Supaya
belajar terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip antara lain:
- Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.
- Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.
- Aktivitas. Belajar itu sendiri adalah aktivitas. Bila fikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.
- Umpan balik di dalam belajar sangat penting, supaya siswa segera menge-tahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.
- Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan.
Pembelajaran
merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan,
bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.
Semua unsur
atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya
berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah
yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk
membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:
(1) pendekatan
pembelajaran,
(2) strategi
pembelajaran,
(3) metode
pembelajaran;
(4) teknik
pembelajaran;
(5) taktik
pembelajaran; dan
(6) model
pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan
dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah
tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
(1) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach) dan
(2) pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
(1)
exposition-discovery learning dan
(2)
group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
Ditinjau dari
cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan
antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan kata lain strategi pembelajaran juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai. Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Di sini strategi pembelajaran ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan kata lain strategi pembelajaran juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai. Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Di sini strategi pembelajaran ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
(1) ceramah;
(2)
demonstrasi;
(3) diskusi;
(4) simulasi;
(5) laboratorium;
(6) pengalaman
lapangan;
(7)
brainstorming;
(8) debat,
(9) simposium,
dan sebagainya.
Metode adalah
cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal
ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode
belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran.
Contoh:
Dalam suatu rencana pembelajaran untuk mata kuliah Metode Mengajar bagi para mahasiswa program S1 PAK, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Dalam suatu rencana pembelajaran untuk mata kuliah Metode Mengajar bagi para mahasiswa program S1 PAK, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu:
(1) model
interaksi sosial;
(2) model
pengolahan informasi;
(3) model
personal-humanistik; dan
(4) model
modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model
pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memiliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memiliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
A. Pengertian
PAK
Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan secara kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.
Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan secara kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.
B.
Dasar-dasar Pembelajaran PAK
(Ulangan 6:4-9; Efesus 6:4; Amsal 22:6; II Timotius 3:16)
(Ulangan 6:4-9; Efesus 6:4; Amsal 22:6; II Timotius 3:16)
Implikasinya
bagi umat Kristen adalah bahwa PAK adalah:
- Pengasuhan yang diberikan sejak dalam kandungan sampai akhir hayat agar bertumbuh iman dan pengenalan pada Yesus Kristus.
- Imperatif (unsur keharusan) untuk mendidik/membesarkan.
- Mendasarkan pengajaran pada Firman Allah.
- Pendidikan kristiani bersifat terus-menerus (long life education)
- Pendidik: orang tua, guru, fungsionaris pendidikan
- Pendekatan: multi metode, berpusat pada peserta didik, peserta didik adalah subyek.
- Isi: nasehat, didikan, ajaran/norma Tuhan.
Pelajaran Pendidikan Agama Kristen
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di lembaga pendidikan formal maupun nonformal serta masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK), sangat tepat dalam rangka mewujudkan model PAK yang bertujuan mencapai transformasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan peserta didik pada semua jenjang pendidikan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar memberikan ruang yang sama kepada setiap peserta didik dengan keunikan yang berbeda untuk mengembangkan pemahaman iman kristiani sesuai dengan pemahaman, tingkat kemampuan serta daya kreativitas masing-masing. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam Kehidupan Anak-anak. Hakikat Pendidikan Agama Kristen (PAK) seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Pada dasarnya PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), yang disajikan dalam dua aspek, aspek ALLAH TRITUNGGAL (ALLAH BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS) dan KARYANYA, dan aspek NILAI-
12
NILAI KRISTIANI. Secara holistik, pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan kesetaraan mengacu pada dogma Allah Tritunggal dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah Tritunggal dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial mampu mendorong terjadinya transformasi dalam kehidupan peserta didik, terutama dalam pengayaan nilai-nilai iman kristiani. Dogma yang lebih spesifik dan mendalam diajarkan di dalam gereja. Fokus Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berpusat pada kehidupan manusia (life centered). Artinya, pembahasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan pada kehidupan manusia, dan iman Kristen berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Pembahasan materi sebagai wahana untuk mencapai kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, selanjutnya keluarga, teman, lingkungan di sekitar peserta didik, setelah itu barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamikanya.
Pendidikan Agama Kristen bertujuan:
a. Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya
b. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya
c. Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.
Fungsi Pendidikan Agama Kristen:
a. Memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari
b. Membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari
Ruang lingkup PAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Allah Tritunggal (Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan karya-Nya
2. Nilai-nilai kristiani.
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di lembaga pendidikan formal maupun nonformal serta masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK), sangat tepat dalam rangka mewujudkan model PAK yang bertujuan mencapai transformasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan peserta didik pada semua jenjang pendidikan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar memberikan ruang yang sama kepada setiap peserta didik dengan keunikan yang berbeda untuk mengembangkan pemahaman iman kristiani sesuai dengan pemahaman, tingkat kemampuan serta daya kreativitas masing-masing. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam Kehidupan Anak-anak. Hakikat Pendidikan Agama Kristen (PAK) seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Pada dasarnya PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), yang disajikan dalam dua aspek, aspek ALLAH TRITUNGGAL (ALLAH BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS) dan KARYANYA, dan aspek NILAI-
12
NILAI KRISTIANI. Secara holistik, pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan kesetaraan mengacu pada dogma Allah Tritunggal dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah Tritunggal dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial mampu mendorong terjadinya transformasi dalam kehidupan peserta didik, terutama dalam pengayaan nilai-nilai iman kristiani. Dogma yang lebih spesifik dan mendalam diajarkan di dalam gereja. Fokus Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berpusat pada kehidupan manusia (life centered). Artinya, pembahasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan pada kehidupan manusia, dan iman Kristen berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Pembahasan materi sebagai wahana untuk mencapai kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, selanjutnya keluarga, teman, lingkungan di sekitar peserta didik, setelah itu barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamikanya.
Pendidikan Agama Kristen bertujuan:
a. Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya
b. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya
c. Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.
Fungsi Pendidikan Agama Kristen:
a. Memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari
b. Membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari
Ruang lingkup PAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Allah Tritunggal (Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan karya-Nya
2. Nilai-nilai kristiani.
Hakikat
Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan
kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan
pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam
Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan
lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses
pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk
mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai
bagian dari komunitas. Karena itu, maka disusun kurikulum untuk mencapai tujuan
tersebut. Agar implementasi kurikulum PAK yang merupakan seperangkat/sistem
rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar dapat
tercapai, maka diperlukan strategi dalam penyususnan
kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK), khusunya bagi orang-orang yang
terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan
untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun
dengan sesame. Ada 5 strategi dalam penysunan kurikulum pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen, antara lain : Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran ,
Beberapa Pendekatan Pembelajaran , Pola pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen, Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
dan Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Kata Kunci :
Strategi, Kurikulum
- I. PENDAHULUAN
Pendidikan Agama
Kristen ( PAK ) pada hakekatnya adalah merupakan usaha secara sadar yang
dilakukan dengan penuh terencana dan kontinyu dalam rangka mengembangkan
kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan
menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan
sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian,
setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
(PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam
kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Mata
pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah mata pelajaran yang
bertujuan: (1) Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dankarya-karya-Nya
agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladaniAllah Tritunggal
dalam hidupnya, (2) Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karyaNya kepada
peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya, (3)Menghasilkan
manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta
berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.
Pada
dasarnya mata pelajaran pendidikan agama Kristen di sekolah formal bukanlah
pekabaran injil semata-mata tetapi pendekatan agama Kristen di sekolah
disajikan dalam sub aspek Allah Tri Tunggal (Allah Bapa, Putra dan Roh ) serta
karya-Nya yang ada dalam nilai-nilai Kristiani. Secara Khalistik pengembangan
kompetensi Pendidikan Agama Kristen pada pendidikan dasar dan menengah
mengacu pada dogma Allah Tri Tunggal dan karya-Nya harus nampak dalam
nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian siswa.
Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan kompetensi dalam pendidikan agama
Kristen di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial maupun
mendorong terjadinya transformasi nillai-nilai kristiani dalam kehidupan siswa.
Perlu
diketahui bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen berbeda sekali
dengan mata pelajaran lainnya karena implikasi Pendidikan Agama Kristen
berisikan ajaran doktrin Kristen, norma dan didikan yang berfungsi memampukan
peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari dan
membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan
sehari-hari.
Selain
itu maka mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen juga lebih
menekankan pada ranah afektif dan psikomotorik dibandingkan dengan ranah
kognitif. Pembentukan mental dan sikap siswa melalui penanaman
nilai-nilai agama merupakan tugas yang tidak gampang bagi seorang guru, apalagi
harus diperhadapkan dengan berbagai situasi di sekitar siswa yaitu,
perkembangan iptek yang semakin maju dimana siswa dengan bebas dapat mengakses
berbagai informasi di internet, tayangan televisi, perkelahian, kekerasan dan
hal- hal lain yang sangat menuntut kerja keras seorang guru agama dalam
membentuk karakter dan kepribadian siswa melalui proses pembelajaran di kelas
agar dapat menjadi filter bagi siswa itu sendiri dalam menghadapi berbagai
situsasi disekitarnya.
Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama Kristen cenderung kearah pembahasan
tematik teoritik sehingga terkesan bahwa pengajaran Pendidikan Agama
Kristen terdiri dari materi hafalan belaka.. Kecenderungan yang lain adalah
motivasi belajar yang kurang dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama
Kristen karena adanya anggapan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen
hanya untuk memenuhi syarat kelulusan saja dan berfaedah sebagai informasi
tentang Alkitab. Kecenderungan diatas dipengaruhi oleh cara guru dalam
memberikan materi pelajaran Pendidkan Agama Kristen yang monoton dan
membosankan. Pembelajaran Pendidkan Agama Kristen yang didominasi metode
ceramah cenderung berorientasi kepada materi yang tercantum dalam kurikulum dan
buku teks, serta jarang mengaitkan yang dibahas dengan masalah-masalah nyata
yang ada dalam kehidupan Kristiani dan pergumulan hidup sehari-hari
Berdasarkan
alasan yang dikemukakan di atas maka perlu ada strategi yang direncanakan
untuk menyusun kurikulum pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, khusunya
bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga
memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam
kehidupan pribadi maupun dengan sesama sehingga diharapkan setiap pengajaran
dan uraian materi Pendidikan Agama Kristen yang disajikan dapat
memberikan konstribusi nilai-nilai keagamaan yang baik bagi siswa dalam
pembentukan karakater dan kepribadian yang baik.
II.
PEMBAHASAN
- A. Pengertian Strategi Pembelajaran
Secara umum
strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak
dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar
mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan
anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar
untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut
Sanjaya, (2007 : 126). Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai
perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan Killen (1995) menjelaskan bahwa strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan
guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Dari pendapat tersebut, Dick and Carey (dalam Sanjaya :2006) juga menyebutkan
bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur
pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar
pada siswa (Sanjaya, 2007 : 126).
Dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertama strategi
pembelajaranmerupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk
juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam
pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai
pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua,
Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari
semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga
penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan
sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun
sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.
1.
Pengertian Kurikulum
Kurikulum
merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas
belajar mengajar.
Sistem
diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait
dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian,
dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki
sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat
untuk mencapai tujuan.
2.
Fungsi Kurikulum
Pada
dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru,
kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Bagi sekolah atau pengawas, berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan
supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulurn itu berfungsi sebagai
pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum
itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya
proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi
sebagai suatu pedoman belajar.
Berkaitan
dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi
kurikulum, yaitu:
a.
Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)
Fungsi
penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yaitu mampu
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat
dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan
diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
b.
Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi
integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu
menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota
dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki
kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan
masyarakatnya.
c.
Fungsi Diferensiasi (the differentiating function)
Fungsi
diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus
mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa
memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan
dilayani dengan baik.
d.
Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi
persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu
mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya.
Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat
hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan
pendidikannya.
e.
Fungsi Pemilihan (the selective function)
Fungsi
pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang
sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat
hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan
individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswatersebut untuk
memilih apayang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua
fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat
fleksibel.
f.
Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi
diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu
membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan
(potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami
kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka
diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya
atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
3.
Komponen Kurikulum
Ada 4 unsur
komponen kurikulum yaitu: tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi
pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi)
a.
Komponen Tujuan
Kurikulum
merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang
dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur
dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam
setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkian tujuan-tujuan
pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang
bersangkutan.
Tujuan
pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik,
selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan
yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan
pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas
No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
- Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
- Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
- Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
- Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
b. Komponen Isi/Materi
Isi program
kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan
belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi
jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang
studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang
maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria
yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum.
Kriteria itu natara lain:
Ø Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
Ø Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
Ø Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan
uji.
Ø Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
Ø Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.
Materi
kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun
dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
- Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topiktopik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
- Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
- Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
c.
Komponen Strategi
Strategi
merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan
dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya
terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tidak hanya
terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara
yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan
bimbiungan dan mengatur kegiatan, baik yang secara \umum berlaku maupun yang
bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi
pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan
disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan
secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik mencapai
tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal,
jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen
strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan
penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah.
d. Komponen Evaluasi
Evaluasi
merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi
kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan
pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan
dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa
kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator
kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga
relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian
lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum
sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah
evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum
atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah
satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan
proses dan hasil belajar siswa.
Evaluasi
kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan
pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri.
Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan
pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan
pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil –
hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah
dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan
peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran,
cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Merupakan
suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dengan evaluasi dapat di
peroleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan
belajar siswa.berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang
kurikulum itu sendiri,pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di
lakukan.
C .Strategi
Kurikulum Pendidikan Agama Kristen
Menurut
Hutabarat dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan didalam kelas
adalah merupakan penjabaran dari Kurikulum yang telah disusun agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Kurikulum yang baik adalah kurikulum
yang dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itu menurut
Hutabarat, ada 5 strategi kurikulum Pendidikan Agama Kristen, antara lain :
1.
Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
2.
Beberapa Pendekatan Pembelajaran
3.
Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
4.
Dasar-Dasar pembelajaran PAK
5.
Strategi Pembelajaran PAK
Berikut ini
akan diuraikan tentang strategi kurikulum Pendidikan Agama Kristen adalah
sebagai berikut:
1.
Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
Hakekat
pembelajaran adalah suatu system belajar yang terencana dan sistematis dengan
maksud agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung,
sehingga terjadi perubahan yakni meningkatnya kompetensi belajar tersebut.
Untuk itu, maka seorang guru yang merupakan ujung tombak dalam pembelajaran
sudah seharusnya menciptakan system lingkungan atau kondisi yang kondusif agar
kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien ( Sunaryo
dalam Hutabarat 2006 : 27). Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ratumanan (
2002 : 33) bahwa lingkungan fisik maupun social turut berpengaruh terhadap seseorang
dalam proses belajar.
Dalam buku
Model Pembelajaran terbitan Depdiknas 2004 (Hutabarat 2006 : 27 ), belajar
adalah sebuah proses perubahan tingkah laku seseorang atau subjek
belajar. Pendapat yang sama disampaikan oleh Ratumanan ( 2002 : 1) bahwa belajar
dapat memberi perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi akibat hasil
latihan atau pengalaman. Sehingga dapat dijellaskan bahwa belajar senantiasa
merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian aktifitas, misalnya
membaca, mendengar, mengamati, meniru dan belajar itu akan lebih efektif dengan
melakukan atau praktek ( Sardiman dalam Hutabarat 2006 : 28).
Atas dasar
penegasan itu maka seseorang dikatakan belajar, apabila menunjukan
tingkah laku yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya seseorang yang telah
belajar dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat
melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukkan. Perubahan tingkah
laku itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga
mencakup kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak,
penyesuaian diri, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Menurut Bloom dalam
Hutabarat (2006 : 28 ), mengelompokan kegiatan belajar kedalam 3 ranah yakni
kognitiif, afektif dan psikomotorik. Terkait dengan itu maka tujuan belajar
bagi subjek belajar adalah untuk :
-
Mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
-
Menanamkan konsep dan peningkatan ketrampilan serta
-
Membentuk sikap.
UNESCO
menegaskan bahwa ada 4 pilar dalam belajar, yang telah di sampaikan pulah oleh
Suhaenah Suparno, dalam Hutabarat (2006 : 28) yakni learning to know,
learnig to do, learning to live together dan learning to be. Artinya bahwa
perlu adanya proses belajar mangajar atau pembelajaran, Karena mengajar di
dalam hal ini tidak sekedar hanya menyampaikan pelajaran bagi siswa,
tetapi suatu proses pengorganisasian atau menciptakan kondisi yang kondusif
agar kegiatan belajar dari subyek belajar lebih efektif. Kondisi di ciptakan
sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan obyek secara optimal, baik
jasmani maupun rohani baik fisik maupun mental yang lebih di kenal dengan
proses pembelajaran.
Pembelajaran
adalah sebuah sistem karena itu di dalam pembelajaran terdapat beberapa
komponen yang saling terkait untuk mencapai hasil belajar yakni tercapainya
kompetensi bagi siswa.
2.
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan
pembelajaran dapat digunakan untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah
pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Setiap pendekatan yang
diterapkan akan melibatkan kemampuan subjek pelajar / siswa dan guru,
dengan kadarnya masing-masing. Terkait dengan hal tersebut, maka ada
beberapa jenis pembelajaran menurut Anderson dalam Hutabarat (2006 : 31) yakni teacher
centered ( berpusat pada guru ) dan student centered (berpusat pada
siswa).
Pendekatan
Ekspositiry adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas guru
dan subjek belajar bersifat pasif dan hanya menerima saja dari guru. Pendekatan
ini umumnya didominasi dengan metode ceramah, sedangkan pendekatan inkuiri
merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aktifitas subjek
belajar sementara guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan pengelolah
yang memberi pengantar dengan peragaan secara singkat dan selanjutnya subjek
belajar secara aktif mencari dan menemukan sendiri apay yang sedang dipelajari
(student oriented). Kedua pendekatan tersebut baik ekspository maupun
inkuiri sama-sama mengandung keterlibatan subjek belajar hanya kadarnya yang
berbeda seperti pendekatan ekspository keterlibatan siswa sangat rendah
sedangkan pendekatan inkuiri aktifitas subjek belajar sangat tinggi artinya
subjek belajar akan selalu menjadi titik perhatian dan focus dalam kegiatan
pembelajaran dan sudah tentunya dalam menentukan pendekatan ini perlu
disesuaikan dengan tuntutan kurikulum dan perkembangnan jaman.
3.
Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Pola
pembelajaran PAK SD, SMP dan SMA adalah contoh-contoh model yang dapat dipakai
oleh guru agama Kristen di sekolah namun perlu diingat bahwa pendidikan di
sekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima oleh
keluarga dirumah, gereja atau masyarakat. Pola pembelajaran nilai-nilai yang
cocok adalah pembelajaran aktif yang mengacu pada strategi pembelajaran yang
berfokus pada siswa (life center) sehingga seluruh pembelajaran berpusat pada
siswa artinya bahwa perkembangan, keberadaan, pergumulan,, kebutuhan, kondisi
kongkrit siswa yang sering kali berfariasi haruslah menjadi pertimbangan utama
guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi
siswa dan siswa mengalami perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan
nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam
diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaran PAK. Dalam modul
strategi pembelajaran PAK, pola pembelajaran aktif merupakan keterkaitan
dari komponen-komponen seperti pengalaman, komunikasi, interaksi
dan refleksi. Sehingga langkah-langkah secara bertahap dalam pembelajaran
aktif yang dipilih tentunya mengacu pada keempat komponen tersebut.
Idelanya PAK
yang sarat dengan nilai-nilai kristiani ini dilaksanakan secara
berkesinambungan, tahap demi tahap, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA baik di
sekolah, gereja, Keluarga maupun di masyarakat. Bentuk atau system pendidikan
adalah terbuka (open ended system ) artinya PAK tidak selesai hanya di
sekolah tetapi merupakan pembelajarn yang utuh dan berkesinambungan dengan
gereja, keluarga, mulai dari kandungan sampai liang lahat. Proses pembelajaran
PAK tidak hanya berhenti di skolah saja tetapi belajar terus menerus
disepanjang kehidupan manusia. Itu berarti nilai-nilai agama itu dipelajari
kapan saja, dimana saja, sepanjang waktu siswa belajar tentang Allah dan
karyanya secara nyata dalam kehidupannya.
4.
Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Beberapa
kutipan ayat alkitab dibawah ini menolong guru untuk memahami intinya
pembelajaran PAK adalah :
Ulangan, 6 : 4 – 9 ( haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anak mu)·
Efesus 6 : 4 (didiklah mereka dalam ajaran dan nasehat Tuhan)·
Amsal 22 : 6 ( didklah orang muda menurut jalan yang patut· baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan
menyimpang daripada jalan itu )
2 Timotius 3 : 16 ( segala tulisan yang diilhamkan Allah· memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan
kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran)
Implikasinya
Imperative mendidik / membesarkan ( bandingkan Amsal 13 : 13)·
Mendasarkan pengajaran/asuhan pada kitab suci·
Pendidikan Kristiani bersifat terus menerus (·life long education)
Pendidik : orang tua, guru, fungsionaris pendidikan·
Pendekatan multi metode·
Isi nesehat atau ajaran Tuhan (bandingkan Amsal 2 : 6 ; 3 : 13 – 15)·
5.
Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Strategi
pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah pola strategi yang berisi
langkah-langkah prosedur dalam merancang program pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen sesuai tuntutan kurikulum untuk memperoleh hasil belajar siswa. Dengan
demikian sebelum merancang strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan
keberadaan siswa yang beranekaragam latar belakang kehidupannya. Siswa beraneka
ragam dalam hal perkembangan fisik, psikis, moral, kognitif dan
kepribadiannya. Pertimbangan tersebut berdasarkan tujuan yang sama bagi semua
siswa yaitu agar mereka mengalami pertumbuhan pengetahuan, siikap keterampilan,
mental rohani dan mmoralitas.
Dalam
kurikulum, tujuan ini disebut kompetensi yang didasari oleh nilai-nilai
kristiani melalui Pendidikan agama Kristen di sekolah. Perlu juga diipahami
bahwa pendidikan agam Kristen adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah
afektif dan psikomotorik lebih besar daripada kognitif sehingga melalui
pembelajaran pendidikan agama Kristen diharapkan siswa mengalami perjumpaan
dengan Allah di dalam Tuhan Yesus, sang sumber nilai-nilai yang membawa
perubahan pada diri siswa khususnya perkembangan iman serta mental moralnya
disamping perkembangan pengetahuan dan psikomotoriknya.
Keutuhan
perkembangan ranah afektif, kognitif dan psikomotorik yang didasarkan pada
nilai-nilai kritiani menjadi hal yang sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama
Kristen. Keutuhan dari ketiga unsur pelaksana pendidikan yakni keluarga,
gereja/ masyarakat dan sekolah juga menjadi pemikiran strategis yang
dikoordinir dalam kurikulum Pendidikan Agama Krisen tahun 2004 dilakukan tiga
pendekatan masing-masing :
1.
Pendekatan Dialogis atau Partisipatif
Bahwa
pendekatan dalam kurikulum Pendidikan agama Kristen yang berbasis kompetensi
adalah pendekatan dialogis pertisipatif dalam belajar aktif dengan focus pada
kehidupan siswa (Life center ) artinya sebagaimana kurikulum dirancang dengan
pendekatan tersebut maka strategi pembelajaran pendidikan agama Kristen pun
mengacu pada kurikulum. Supaya pembentukan iman, mental moral, pengetahuan yang
didasarkan pada nilai-nilai kristiani siswa menjadi tujuan pembelajaran
pendidikan agama Kristen.
Pendidikan
Agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan
mengembangkan kepribadian siswa sehingga menunjang mata pelajaran lainnya
karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari
pendidikan di gereja, keluarga dan masyarakat sehingga melalui belajar aktif
siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan
konkrit yang merupakan kesaksian imannya ditengah-tengah dunia dan kemuliaan
bagi Tuhan.
2.
Strategi Penyusunan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Dalam
menyususn program pelajaran/disain pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan
pendekatan dialogis partisipatifyang berfokus pada kehidupan siswa dalam
belajar aktif maka guru Pendidikan Agama Kristen perlu berkoordinasi dengan
wali kelas, wakil Kepala sekolah bidang kurikulum untuk melakukan
langkah-langkah persiapan sebagai beriku :
Program pembelajar disusun bersama guru-guru agama Kristen diØ wilayahnya atau dalam kelompok MGMP atau musyawarah
guru mata pelajaran agama Kristen atau kelompok PERGAKRI (persekutuan guru
agama kristen) untuk mengimplementasikan kompetensi dan materi pokok dalam
kurikulum sesuai kebutuhan siswa disekolanya atau dilingkungannya atau di
daerahnya
Metode yang dipilih dapat disepakati agar masing-masing guru Ø memilih sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai
dengan mempertimbangkan situasi kondisi sekolah dan siswanya demmikian pula
efalusainya.
Pembelajaran
dirancang agar terjadi komuniakasi refleksi, sheringØ pengalaman iman antara siswa dengan siswa, siswa
dengan guru dan juga siswa dengan lingkungan.
PAK
dapat mencapai sasarannya jika terjalin komunikasi dariØ pelaku-pelaku PAK dengan, keluarga, sekolah, gereja
sehingga saling melangkapi sesuai dengan fungsinya.
3.
Penyajian program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Pada
pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatoris
yang berpusat pada kehidupan siswa (life center) proses pelaksanaannya
dilakukan melalui empat paket kegiatan yaitu :
a.
Kegiatan belajar mengajar dikelas
b.
Kegiatan belajar mandiri siswa
c.
Kegiatan keagamaan di rumah/keluarga.
d.
Kegiatan di Gereja
a.
Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
Strategi
kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh guru agam Kristen ditempuh
dengan cara menjabarkan kompetensi melalui langkah-langkah pembelajaran aktif
dengan mendasarinya pada kesaksian alkitab. Lanngkah-langkkahnya sebagai
berikut :
Pembukaan pembelajaran dengan doa, nyanyian dan pembacaan alkitab (10 – 20
Menit)·
Pembahasan materi pokok sesuai dengan modul bingkai materi· pendidikan agama Kristen untuk SD, SMP dan SMA (30 –
40 Menit)
Strategi pembelajaran ini dilaksanakan secara luwes dan· tidak mengikat, tergantung pada kompetensi, materi
pokok, suasana siswa, perkembangan lingkungan di kelas.
b.
Kegiatan Mandiri Siswa
Kegiatan
mandiri adalah tugas kegiatan pengalaman dan pengalaman keagamaan yang diberi
oleh guru PAK kepada setiap siswa pada setiap pembelajaran satu semester.
Program kegiatan keagamaan di sekolah yang harus dilakukan oleh setiap siswa
meliputi :
-
Penguasaan tata cara beribadah / liturgy
-
Penguasaan tata cara penelaah alkitab
-
Ibadah pada hari minggu dan hari raya gerejawai
-
Bedah buku Kristen
-
Studi intensif tentang agama Kristen
-
Program aksi pelayanan bersama
-
Kunjungan antar gereja
-
Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah seperti aksi social antar
agama
c.
Kegiatan Keagamaan di Rumah / Keluarga
Program
kegiatan keagamaan dirumah sebenarnya merupakan hakk asasi yang dimiliki oleh
keluarga namun agar terjadi pembelajaran PAK yang berkesinambungan maka guru
juga perlu mengusulkan beberapa kegiatan yang sebaiknya diadakan oleh keluarga
sehingga dapat mendukung kegiatan keagamaan di sekolah seperti
-
ibadah bersama dalam keluarga,
-
penelaah alkitab bersama dalam keluarga
-
menjalin persaudaraan dalam kasih kristus
-
menggali kegiatan keagamaan lain melalui media masa dan mendiskusikannya dalam
keluarga
-
melakukan pelayanan bersama oleh keluarga pada gereja yang lain
d.
Kegiatan di Gereja
keaktifan
siswa di dalam kegiatan gerejawi merupakan factor penting yang mendukung
program keagamaan siswa seperti yang telah dilakukan oleh sekolah antara lain:
-
mengikuti ibadah bersama
-
mengikuti program gereja
-
reatreat
-
kemah kerja
e.
Kegiatan di Masyarakat
Kegiatan
social siswa di masyarakat merupakan kegiatan implementasi siswa atas
pembelajaran PAK yang diterimanya dari keluarga, gereja dan sekolah. Masyarakat
adalah tempat siswa mempraktekan iman dan ilmunya sehingga siswa menjadi garam
dan terang Kristus bagi dunia sekitarnya.
- III. PENUTUP
Berdasarkan
hasil bahasan yang telah duiraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Pendidikan agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang
bertujuan mengembangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus
dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan
dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya
sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di
sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga,
masyarakat dan diharapkan siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya
dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya di tengah-tengah
dunia demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, maka disusun kurikulum PAK yang merupakan
seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar
mengajar. Agar implementasi kurikulum dapat tercapai, maka diperlukan
strategi dalam menyusun kurikulum yang dirancang dengan baik oleh seorang guru
agama. Karena itu ada 5 (lima) strategi Kurikulum Pendidikan Agama
Kristen yaitu: Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
, Beberapa Pendekatan Pembelajaran , Pola
Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, Dasar-dasar Pembelajaran
Pendidikan Agama Kristen dan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama
Kristen
Daftar Pustaka
Hutabarat O.
R. 2006. Model-model Pembelajaran Aktif Pendidikan Agama Kristen SD, SMP,
SMA berbasis Kompetensi. Bina media informasi
Killen, Roy.
1998. Effective Teaching Strategiies: Lessons from Practive, second
Edition. Australia. Sosial Science Press
Ratumanan T.
G, 2002. Belajar dan pembelajaran. Surabaya; Unessa University
PRESS
Sanjaya.W,
2006. Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Kencana
Sanjaya
Wina, 2007. Strategi Pembelajaran. , Jakarta, Kencana
Wahyudin.2011.Komponen-komponen
Kurikulum Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar