Pendahuluan
Mata kuliah ini sifatnya mengantar mahasiswa,
khususnya mahasiswa pada semester dan tahunn ajaran yang sedang berlangsung ke
bidang Teologi Sistematik. Di dalam Teologi Sistematik mahasiswa akan
mempelajari doktrin yang dirumuskan Gereja sepanjang abad, yaitu:
- Teologia Proper (Allah)
- Antropologi (Manusia)
- Soteriologi (Keselamatan)
- Kristologi (Yesus Kristus)
- Pneumatologi (Roh Kudus)
- Eklesiologi (Gereja)
- Eskatologi (Akhir zaman)
Selain itu, ada
Teologi Biblika, Teologi Historika, Teologi Praktika, Teologi Kontemporer dll.
Selanjutnya mahasiswa dapat melihat pada topic pembahasan pembagian Teologi pada halam selanjutnya. Bibliologi (Alkitab)
Ketujuh mata kuliah Teologi Sistematika atau Dogmatika
sebagaimana yang disebutkan di atas akan dibahas dalam semester-semester
selanjutnya oleh dosen dogmatika.
Jadi, kita tidak akan
membahas berbagai doktrin yang sudah disebutkan di atas. Mata kuliah ini hanya
sifatnya pembimbing ke dalam pengenalan
akan Teologi Sistematik. Sekali lagi, mata kuliah ini sifatnya hanya pembimbing
ke dalam Teologi Sistematik.
- Pengertian Dasar Studi Teologi Sistematika
1.1.
Pengertian Teologi Sistematika
Demi memudahkan kita memahami teologi sistematika maka berikut ini
kita berusaha membahas kata teologi dan
sistematika, kemudian pengertian
dari Teologi Sistematika. Perlu
diketahui bahwa isi Teologi Sistematik adalah upaya para ahli Teologi untuk
membuat isi /ajaran Alkitab (PL dan PB) dipahami artinya secara logis dan
sistematis.
Studi Kata
Apa itu
teologi?
Kata
teologi yang kita pakai di Indonesia itu berasal dari bahasa Yunani maka
baiklah kita memeriksa arti kata itu menurut pendapat beberapa teolog (kita
hanya mengambil pendapat tiga teolog).
Paul Alvis:
Kata “teologi” berasal
dari kata-kata Yunani yakni dari kata theos yang berarti Allah, dan logos
yang berarti: “perkataan”, “pikiran”, “percakapan”.
Jadi, menurut arti kata
ini teologi adalah berpikir atau berbicara tentang Allah. Bila
dikatakan bahwa teologi adalah
berpikir tentang Allah, dapat berarti bahwa hal tersebut (berteologi)
adalah sesuatu yang dapat kita kerjakan dalam kesendirian.
Henry C. Thiessen:
Istilah Teologi berasal
dari dua kata Yunani, yaitu theos dan logos. Theos berarti Tuhan dan logos berarti
“kata”, “wejangan” atau “ajaran”.
Jadi, secara sempit
teologi dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Dan secara luas
teologi dapat diartikan seluruh ajaran Kristen, dan bukan sekadar ajaran
tentang Tuhan saja, tetapi juga semua ajaran yang membahas hubungan yang
dipelihara oleh Tuhan dengan alam semesta ini. Atau secara luas teologi adalah
ilmu tentang Tuhan dan hubungan-hubungan-Nya dengan alam semesta (Thiessen,
1995:2)
A.H.Strong
Teologi (Yun: theologia, gabungan dari dua kata theos,
Allah dan logos, logika). Jadi, secara sederhana A. H. Strong,
mendefinisikan Teologi sebagai "ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan
antara Allah dan alam semesta." Strong juga menghubungkan pengertian
Teologi dengan pendapat Aquinas yakni karena teologia itu merujuk kepada Allah,
maka, Thomas Aquinas, mendefinisikannya secara spesifik, sebagai "pikiran
Allah, ajaran Allah dan memimpin kepada Allah. [Sinclair B. Ferguson,ENDT:
"Theology" (Downers Grove, Illinois, 1988), 680-681].
Sistem Teologi sebagaimana yang dipaparkan diatas bukan
eksklusif milik orang Kristen, tetapi semua agama. Pada umumnya, dunia sekuler,
berdasarkan definisi filsafat Aristoteles, menyebut disipilin Teologi sebagai
Filsafat Teologi atau Metafisika. Maka jelaslah bahwa teologi Kristen harus
berbeda dengan agama-agama lain, perbedaannya terletak pada sumber berteologi.
Sumber berteologinya Kristen adalah Alkitab. Ini berarti bagi gereja, Teologia
memiliki dua pengertian, yaitu (1). Pengajaran tentang Allah dan (2).
Pengetahuan tentang Allah. Sumber utama Teologi Kristen adalah Alkitab.
Teologia Kristen adalah upaya logis untuk mempelajari tentang Allah dengan
sumber utama adalah Alkitab. Sedangkan tradisi dan tulisan-tulisan bapak-bapak
gereja dan teolog-teolog klasik lainnya adalah sebagai pembantu-panduan
pengembangan Teologi selanjutnya[1][1].
Ada pepatah yang menyatakan “guru kincing berdiri
siswa kincing berlari” kita ganti menjadi “guru kincing berdiri murid bertanya
mengapa guru kincing berdiri. Dalam hal ini para mahasiswa dapat memperluas
pengertian kata teologi dari berbagai teolog berdasarkan buku-buku teologi
Kristen yang berkualitas.
Adapula
yang mengartikan teologi sbb:
Kata
“teologi” berasal dari dua kata Bahasa Yunani, yaitu theos dan logos yang
berarti “Allah” dan “kata/firman.”
Teologi (bahasa Yunani
θεος, theos, "Allah, Tuhan", + λογια, logia,
"kata-kata," "ucapan," atau "wacana") adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan (Lih. bawah, "Teologi dan
agama-agama lain di luar agama Kristen").
Secara
Etimologi
Arti etimologis (asal kata) Istilah "Teologia" berasal dari 2 kata
Yunani, yaitu: theos artinya "Allah"; dan logos
artinya "perkataan, uraian, pikiran, ilmu".
Definisi Istilah
"Teologia" dapat dimengerti dalam arti sempit atau arti luas. Arti
luas: mencakup seluruh pokok studi (disiplin ilmu) dalam pendidikan teologia.
Arti sempit: usaha meneliti iman Kristen dari aspek
doktrinnya saja yang sering disebut sebagai Teologia Sistematika.
Teologi secara
etimologis diartikan sebagai “logos” mengenai “theos”, atau bercakap-cakap
mengenai Allah. Ini berarti berteologi merupakan pengalaman manusia mengenai
Allah, tentang tanggapan manusia terhadap Allah. (Paul Alvis, 2001:3-4)
Kesimpulan kita berdasarkan definisi
di atas:
- Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama.
- Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan.
- Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama.
- Teologi dapat dipelajari sekadar untuk menolong sang teolog untuk lebih memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, atau untuk menolong membuat perbandingan antara berbagai tradisi atau dengan maksud untuk melestarikan atau memperbarui suatu tradisi tertentu, atau untuk menolong penyebaran suatu tradisi, atau menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya[2][2].
- Informasi para ahli teologi menyadarkan kita bahwa teologi itu bukan berasal dari budaya kita tetapi budaya Yunani.
- Kata 'teologi' itu berasal dari bahasa Yunani klasik, tetapi lambat laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini, khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun demikian, di masa kini istilah ini dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di lingkungan ataupun tentang berbagai agama.
- Di lingkungan agama Kristen sendiri disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya[3][3].
|
Definisi:
Teologi adalah pemikiran(berpikir,
berkata, bercakap-cakap) atau ajaran/doktrin yang sistematis tentang Allah
dan ciptaan-Nya.
|
Salah
satu contoh berteologi dalam narasi Alkitab (Kej. 28:10-22)
Pada saat Yakub bangun
dari mimpinya di Betel, mengenai tangga yang ujungnya sampai ke langit dan
malaikat-malaikat Allah turun-naik mendaki tangga itu, maka ia menyadari bahwa
“Sesungguhnya TUHAN ada di tempat itu …Pada saat itu Yakub sedang berteologi.
Pikirannya adalah tanggapan terhadap kehadiran Allah. Bila pikiran kita sendiri
mengarah pada persoalan-persoalan makna hidup, nilai-nilai di luar batas
pemikiran dan rahasia takdir manusia, maka kita sedang berteologi atau mengerjakan
teologi. (Paul Alvis, 2001:2). Berteologi sebagaimana yang dikatakan diatas
dapat dikerjakan dalam kesendirian tetapi juga berteologi (berpikir tentang
Tuhan) bukan kebiasaan yang dapat dilakukuan dalam kesendirian tetapi dalam
kebersamaan. Ini berarti teologi dapat diartikan berbicara tentang Allah dan
hal-hal mengenai Allah. Contoh: Mereka saling mengatakan : Bukankah hati kami
berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan kami di tengah jalan dan menerangkan
Kitab Suci pada kita?” (Luk. 24:13-35).
Penggunaan Kata
Teologi pada abad Pertengahan
Pada Abad Pertengahan, teologi merupakan subyek utama di
sekolah-sekolah universitas dan biasa disebut sebagai "The Queen of the
Sciences". Dalam hal ini ilmu filsafat merupakan dasar yang membantu
pemikiran dalam teologi.
Kata "Teologi" diambil
dari bahasa Yunani Helenis, namun demikian maknanya telah berubah jauh melalui
penggunaannya di dalam pemikiran Kristen di Eropa sepanjang Abad Pertengahan
dan Zaman Pencerahan.
- Istilah theologia digunakan dalam literatur Yunani Klasik, dengan makna "wacana tentang para dewa atau kosmologi (lihat Lidell dan Scott Greek-English Lexicon untuk rujukannya).
- Aristoteles membagi filsafat teoretis ke dalam mathematice, phusike dan theologike. Yang dimaksud dengan theologike oleh Aristoteles kira-kira sepadan dengan metafisika, yang bagi Aristoteles mencakup pembahasan mengenai hakikat yang ilahi. Sejak itu istilah ini telah diambil oleh berbagai tradisi keagamaan Timur maupun Barat.
- Dengan meminjam dari sumber-sumber Yunani, penulis Latin Varro membedakan tiga bentuk wacana ini: mitis (menyangkut mitos-mitos tentang para dewata Yunani), rasional (analisis filosofis mengenai para dewata dan kosmologi) dan sipil (menyangkut ritus dan tugas-tugas keagamaan di tengah masyarakat).
- Para penulis Kristen, yang bekerja dengan kerangka Helenistik, mulai menggunakan istilah ini untuk menggambarkan studi mereka. Kata ini muncul sekali dalam beberapa naskah Alkitab, dalam judul Kitab Wahyu: apokalupsis ioannou tou theologou, "penyataan kepada Yohanes sang theologos". Namun demikian, kata ini merujuk bukan kepada Yohanes sang "teolog" dalam pengertian bahasa kita sekarang, melainkan – dengan menggunakan arti akar kata logos dalam arti yang sedikit berbeda, dan di sini tidak dimaksudkan sebagai "wacana rasional" melainkan dalam arti "firman" atau "pesan". Dengan demikian, sang "theologos" di sini dimaksudkan sebagai orang yang menyampaikan firman Allah - logoi tou theou.
- Teologi adalah "iman yang mencari pengertian (fides quaerens intellectum)." - Anselmus dari Canterbury
- "Teologi adalah upaya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak diketahui dalam pengertian-pengertian dari mereka yang tidak patut mengetahuinya." - H. L. Mencken
- "Teologi yang otentik tidak akan mengizinkan orang terobsesi dengan dirinya sendiri." - Thomas F. Torrance dalam Reality and Scientific Theology
- "Teologi memberitakan bukan hanya apa yang dikatakan oleh Alkitab, melainkan juga apa maknanya." - J. Kenneth Grider dalam A Wesleyan-Holiness Theology (Kansas City: Beacon Hill, 1994), hlm. 19.
- "Saya tidak membutuhkan orang bodoh yang tidak menyukai musik, karena musik adalah pemberian Allah. Musik dapat mengusir Iblis dan membuat orang berbahagia, dan dengan demikian mereka melupakan segala kemarahan, ketidaksetiaan, kesombongan, dan sejenisnya. Setelah teologi, saya menempatkan musik pada tempat yang tertinggi dan memberikan kepadanya keagungan yang tertinggi." — Martin Luther, dikutip dalam Martin Marty, Martin Luther, 2004, hlm. 114.[4][4]
Sedangkan sistematika
diartikan pengetahuan mengenai klasifikasi (penggolongan/urutan) pengajaran
Alkitab ke dalam system secara logis.
Sumber:
Paul Avis, Ambang Pintu Teologi,
Jakarta : BPK, 2001
Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika,
Malang : Gandum Mas, 1995
http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi
Definisi
umum: Teologia ialah pengetahuan yang
rasional tentang Allah dan hubungannya dengan karya/ciptaan-Nya seperti yang
dipaparkan oleh Alkitab.
Definisi
khusus: Teologia Sistematika ialah bagian
dari divisi Teologia yang mengatur secara terperinci dan berurutan tema-tema
dari ajaran doktrin dalam Alkitab.
Pengertian Teologi Sistematika
Apa itu
teologi sistematika?
Bila kata “teologi”diartikan
“Allah” dan “kata/firman.” Maka
perpaduan atau kombinasi kata “teologi” dengan
“sistematika dapat berarti “studi
tentang Allah.” Sedangkan kata"Sistematika" berasal dari
kata sustematikos, artinya penempatan/ penyusunan secara tepat.
Sistematika menunjuk pada sesuatu yang ditempatkan dalam sistim. Oleh sebab itu
teologia sistematika berarti pembagian teologi ke dalam sistim yang menjelaskan
berbagai bidang. Contohnya, banyak kitab dalam Alkitab yang memberi informasi
mengenai malaikat. Tidak ada satu kitabpun yang memberi semua informasi
mengenai malaikat. Teologia sistematika mengambil semua informasi mengenai
malaikat dari semua kitab dalam Alkitab dan mengaturnya ke dalam suatu sistim,
angelologi. Inilah yang dilakukan oleh teologia sistematika – mengatur
pengajaran-pengajaran Alkitab ke dalam berbagai kategori.
Teologi sistematik atau Sistematika Teologi adalah upaya
menyusun teologia-teologia yang membentuk Doktrin. Doktrin yang diajarkan oleh
Alkitab tersusun atas Teologi-Teologi dari masing-masing penulis Alkitab (PL-PB).
Teologia sistematika adalah sebuah alat penting untuk menolong kita mengerti
dan mengajarkan Alkitab dengan cara yang teroganisir.[5][5]
Jadi teologi sistematik
adalah pengetahuan mengenai klasifikasi (penggolongan/urutan) pengajaran
Alkitab ke dalam system secara logis.
Dengan kata lain, teologi
sistematika adalah percakapan tentang
Allah dan ciptaan-Nya secara sistematis/berurutan secara logis.
Misalnya dalam aspek doktrin, mana
yang lebih duluan dipelajari. Apakah Doktrin Allah atau Doktrin Manusia …
dimulai dari mana dan berakhir dimana. Misalnya ada yang mulai dari Doktrin
Allah dan berakhir di Doktrin Akhir Zaman. Mengapa demikian (logika/logisnya
dan teologisnya)
Contoh teologi sistematika:
Teologi
Proper/Teologi Umum atau Paterologi
adalah studi mengenai Allah Bapa.
Antropologi
Alkitab (doktrin manusia)
Kristologi adalah studi mengenai Allah Anak, Tuhan Yesus Kristus.
Soteriologi adalah studi mengenai keselamatan.
Pneumatologi adalah studi mengenai Allah Roh Kudus.
Bibliologi adalah studi mengenai Alkitab.
Ekklesiologi adalah studi mengenai gereja.
Eskatologi adalah studi mengenai akhir zaman.
Angelologi adalah studi mengenai malaikat.
Demonologi
Kristen adalah studi mengenai Iblis dari
perspektif Kristen.
Antropologi Kristen adalah study mengenai manusia. Hamartiologi adalah studi
mengenai dosa.
Teologi Biblika adalah studi mengenai kitab (-kitab) tertentu dalam Alkitab dan menekankan berbagai aspek teologia yang berbeda yang menjadi fokusnya. Contohnya: Injil Yohanes adalah injil yang sangat Kristologis karena banyak memusatkan pada keillahian Kristus (Yohanes 1:1, 14; 8:58; 10:30; 20:28).
Teologi Biblika adalah studi mengenai kitab (-kitab) tertentu dalam Alkitab dan menekankan berbagai aspek teologia yang berbeda yang menjadi fokusnya. Contohnya: Injil Yohanes adalah injil yang sangat Kristologis karena banyak memusatkan pada keillahian Kristus (Yohanes 1:1, 14; 8:58; 10:30; 20:28).
Teologi
Historis adalah studi mengenai
doktrin-doktrin dan bagaimana doktrin-doktrin itu berkembang sepanjang
berabad-abad dari gereja Kristen.
Teologi
Dogmatika adalah studi mengenai
kelompok-kelompok Kristen tertentu yang memiliki doktrin yang sistimatis,
seperti misalnya teologia Calvinistik dan teologia dispensasi.
Teologi
Kontemporer adalah studi mengenai
doktrin-doktrin yang berkembang dan menjadi perhatian baru-baru ini.
Hamartiologi adalah studi mengenai dosa.
Teologia sistematika adalah sebuah alat penting untuk menolong kita mengerti dan mengajarkan Alkitab dengan cara yang teroganisir.[6][6]
Teologia sistematika adalah sebuah alat penting untuk menolong kita mengerti dan mengajarkan Alkitab dengan cara yang teroganisir.[6][6]
Teologi
Kontemporer adalah studi mengenai
doktrin-doktrin yang berkembang dan menjadi perhatian baru-baru ini.
Jadi, teologia
sistematika adalah sebuah alat penting untuk
menolong kita mengerti dan mengajarkan Alkitab dengan cara yang teroganisir.[7][7]
Berdasarkan pembahasan di atas
menjadi jelas bahwa kata teologi itu bukan berasal dari budaya kita tetapi
budaya Yunani. Kata 'teologi' berasal dari bahasa Yunani klasik, tetapi lambat
laun memperoleh makna yang baru ketika kata itu diambil dalam bentuk Yunani
maupun Latinnya oleh para penulis Kristen. Karena itu, penggunaan kata ini,
khususnya di Barat, mempunyai latar belakang Kristen. Namun demikian, di masa
kini istilah ini dapat digunakan untuk wacana yang berdasarkan nalar di
lingkungan ataupun tentang berbagai agama. Di lingkungan agama Kristen sendiri
disiplin 'teologi' melahirkan banyak sekali sub-divisinya[8][8].
Hubungan Doktrin, Dogma dengan Sistematika Teologi
Tentang Sistematika Teologi
Sistematika Teologi adalah upaya
menyusun Teologia-Teologia (Teologi proper dst), yang membentuk Doktrin. Doktrin yang
diajarkan oleh Alkitab tersusun atas Teologi-Teologi dari masing-masing penulis
AlkPerpektif Teologi, yakni Teologi Perjanjian Lama [teologi menurut
penulis-penulis PL. di PL. Contoh: Teologia Ayub. dll.] dan Teologi Perjanjian
Baru [Teologi menurut para penulis PB. di PB. Contoh: Teologi Paulus, dll.].
Semua penulis Alkitab menyepakati tentang tema-tema secara obyektif, misalnya,
tema Kristus (--Christology). Penjelasan tema ini menyebar di seluruh
Alkitab (PL-PB) sebelum disistematisasikan dalam oleh para teolog sistematika.
Tema-tema Alkitab ini kemudian disintesa secara kategorial sehingga membentuk
akumulasi tema-tema tertentu oleh Bapa-Bapa Gereja, sehingga tema itu mudah
dipahami dan dapat diajarkan secara tuntas.
Ada tiga kriteria untuk menentukan
Doktrin: (1). Doktrin itu sangat ditekankan dalam Kitab Suci. (2). Doktrin itu
sangat penting dan berpengaruh dalam Ajaran Gereja sepanjang masa. (3). Doktrin
itu sangat berpengaruh bagi pengajaran gereja sepanjang masa. Karena
kesesuaiannya dengan situasi kontemporer (perubahan), Doktrin-Doktrin itu lebih
diterima pada hari ini, ketimbang buku-buku teks Teologi Sistematika. [Wayne
Grudem, Systematic Theology: An Introduction to a Biblical Doctrine (GR.
Michigan: Zondervan Pub. House, 1994), 25-26].[9][9]
Usaha mensintesa tema-tema Alkitab
ini disebut usaha Sistematisasi Doktrin. Tema-tema Alkitab yang menyebar dan
telah diakumulasi itu membentuk beberapa tema mayor, misalnya, secara umum ada
7 Doktrin mayor dalam Alkitab (sebutannya bisa berbeda): (1). Doktrin Alkitab.
(2). Doktrin Allah. (3). Doktrin Manusia. (4). Doktrin Kristus dan Roh Kudus.
(5). Doktrin Aplikasi Penebusan. (6). Doktrin Gereja. (7). Doktrin Akhir zaman.
Istilah "Doktrin" tidak dapat diganti dengan istilah
"Teologi" Misalnya: "Doktrin Allah" tidak bisa menjadi
"Teologi Allah", dll. Doktrin-Doktrin (Misalnya: Doktrin Allah) ini
bisa dipersempit, seperti: Doktrin Kekekalan Allah, atau Doktrin Trinitas, atau
Doktrin Penghakiman Allah. Doktrin-Doktrin, dalam pengajaran dan
penyelidikannya bisa dikembangkan, tetapi tidak akan berubah atau bertambah,
selama Alkitab Kanonik (PL-PB) adalah Sumber Doktrin itu[10][10].
Dengan demikian, berdasarkan
fungsinya, tugas seorang teolog sistematika adalah menata secara Logis semua
Doktrin yang sudah tersedia di Alkitab dengan panduan Tokoh-Tokoh Besar dalam
penelitian Teologi lainnya. Misalnya, John Calvin, dengan Institutionya
tidak bisa lepas dari karya-karya Bapak-Bapak Gereja, seperti Agustinus, Thomas
Aquinas, dll. Hasil akhir dari usaha "Sistematisasi" Doktrin Alkitab
itu disebut Teologi Sistematika. (Silahkan bandingkan dengan karya Louis
Berkhof, Teologi Sistematika (telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesi oleh LRII, Jakarta)[11][11].
Tentang Doktrin
Doktrin merujuk kepada pengajaran
tentang Allah yang bersumber dari Alkitab. Sebuah Doktrin adalah apa yang
seluruh kitab suci ajarkan tentang topik-topik tertentu kepada kita hari ini.
Doktrin ini terkait langsung dengan definisi Teologi Sistematika. Doktrin dapat
bermakna sempit atau luas. Doktrin yang luas, misalnya, Doktrin Allah, termasuk
sebuah ringkasan dari apa yang Alkitab katakan kepada kepada kita tentang Allah.
[Wayne Grudem,Systematic Theology: An Introduction to a Biblical Doctrine(G.
R. Michigan: Zondervan Pub. House, 1994), 25-26]. Pengertian Doktrin secara
sederhana adalah ajaran utama Alkitab. Ajaran yang tertulis dalam Alkitab.
Ajaran itu tidak pernah salah atau tidak konsisten atau berubah[12][12].
Tentang Dogma
Dogma merujuk kepada apa yang
dilihat benar oleh seseorang dan yang mempengaruhi pendiriannya. Dalam gereja,
Doktrin adalah Kebenaran Sejati yang dinyatakan oleh Allah di dalam Kristus dan
tertulis dalam Alkitab. Doktrin yang telah disepakati akan disebut Dogma.
Doktrin menentukan Dogma. Dogma-dogma Kristen ditetapkan dalam Konsili-Konsili.
Misalnya, Doktrin Kristus (--Kristologi, sebagai Doktrin yang banyak menghadapi
permasalahan) disepakati sebagai Dogma Gereja dalam 4 kali Konsili, tahun 325,
787, 1215 dan 1545-1563 Masehi. [Hendrikus Berkhof, Introduction to the
Study of Dogmatics (G. R, Mich.: W. B.Eerdman Pub. Co., 1985), 4-6.].
Tentang Konsili-Konsili, silahkan baca di F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja:
"Konsili" (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1994), 127-139.[13][13]
Jadi, Dogma yang sejati dasarnya adalah Doktrin atau
Pengajaran yang bersumber dari Alkitab itu sendiri dan ditetapkan oleh Konsili
Gereja sebagai Dogma Gereja yang sah dan benar[14][14].
Tentang "Aliran Teologi"
Aliran Teologi adalah adalah suatu
Sistem Pemahaman Teologi yang dikembangkan oleh seseorang atau kelompok dalam
suatu masa atau generasi tertentu, yang kemudian diwariskan kepada pengikut
atau generasi berikutnya. Sistem ini membentuk sebuah sudut pandang tertentu
yang unik yang dianggap dan diyakini benar sehingga membentuk Komunitas dengan
sejarah pemikiran yang sama dan gerakan yang sama. Orang-orang yang tergabung
di dalam Komunitas ini akan disebut sesuai nama-nama Teori atau Teologinya atau
pencetusnya.[15][15]
Contoh[16][16]:
(a). Gereja-gereja yang mewarisi
Teologia Reformator, misalnya, Martin Luther atau John Calvin, maka
gereja-gereja ini beraliran Teologia Reformasi atau Injili tetapi tidak disebut
"berdoktrin Luther atau Calvin" atau berdoktrin Reformasi. Karena
Luther atau Calvin atau Reformator lainnya tidak menciptakan Doktrin tetapi
hanya memurnikan Doktrin yang sudah ada. Meskipun, Calvin menemukan cara
pandangan lain dalam mengembangkan Doktrin Keselamatan dari Alkitab, tentang
"Predestinasi" dan "Inneransi Alkitab", dll.; yang
sebelumnya diabaikan oleh para teolog Katolik Roma.
(b). Misalnya, jika ada Pendeta yang
mengatakan: "Kami menganut Doktrin Calvin, dapat dipastikan bahwa yang dia
maksudkan adalah "Doktrin yang diwariskan oleh Calvin atau para Reformator
"bukan Doktrin Menurut Calvin". Calvin sendiri mendasari Teologianya
pada Alkitab. Doktrin-Doktrin yang Dia ajarkan pun adalah dari Alkitab.
Silahkan Baca terjemahan dan ringkasan buku Yohanes Calvin, Institutio.
(c). Gerakan Kharismatik adalah
suatu aliran yang menekankan kharisma dalam pelayanan dan ibadah. Gereja-gereja
ini beraliran Kharismatik atau Pentakostal. Sebenarnya. Kharismatik dan
Pentakosta disebut "gerakan, movement)", bukan "Aliran
Teologi". Karena dalam tradisi, Kharismatik tidak menciptakan atau membuat
Aliran Teologia atau "Doktrin Baru", tetapi para penggerak
Kharismatik atau Pentakostal itu memberikan penekanan pada hal-hal yang margin
- yang tidak utama dalam Doktrin Ortodoks. Misalnya, Doktrin Baptisan. Gerakan
Kharismatik atau Pentakostal mengajarkan bahwa baptisan "harus"
selam, jika tidak, berarti tidak sah atau salah. PAdahal tidak harus seperti
itu.
Aliran Teologi Membentuk Komunitas[17][17]
Macam-macam Aliran Teologi yang
membentuk komunitasnya sendiri dalam Organisasi-Organisasi dan Yayasan-Yayasan
dalam Kristiani. Antara lain:
1. Angglikan
2. Arminian
3. Baptis
4. Dispensasional
5. Lutheran
6. Reformed/Presbiterian
7. Kahrismatik/Pentakostal
8. Katolik Traditional
9. Katolik Paska Konsili Vatikan II.
10. Kristen Ortodoks
11. Dsb.
2. Arminian
3. Baptis
4. Dispensasional
5. Lutheran
6. Reformed/Presbiterian
7. Kahrismatik/Pentakostal
8. Katolik Traditional
9. Katolik Paska Konsili Vatikan II.
10. Kristen Ortodoks
11. Dsb.
Corak suatu Denominasi sangat
dipengaruhi oleh Pemikiran dan Teologia yang dianut oleh Perintisnya.
Salah satu
contoh berteologi sesuai konteks pergumulan yang dihadapi oleh komunitas
berteologi, seperti:
Teologi pembebasan.
Teologi pembebasan adalah sebuah
paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial. Dengan kata lain Teologi
pembebasan adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai
keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Dalam kasus kelahiran Teologi
Pembebasan, masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi
dan politik
yang dinilai menyengsarakan rakyat. Paham ini hampir terdapat pada semua agama
di dunia.Teologi
Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan
sosial. Karena itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan.
Mereka mempertanyakan seperti apa tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan
agama dalam konteks pemiskinan struktural[18][18].
1.2. Tempat/kedudukan Teologia dengan disiplin
ilmu lain
Pertanyaan yang sering timbul
adalah, kalau Teologia adalah pengenalan tentang Allah dan karya-Nya, bagaimana
hubungan Teologia dengan ilmu-ilmu yang lain (musik, filsafat, sosiologi,
kedokteran, dll? Dengan percaya bahwa seluruh kebenaran adalah berasal dari
Allah, maka tidak seharusnya Teologia bertentangan dengan disiplin-disiplin
ilmu yang lain, baik itu kebenaran alam, filsafat, musik, dll., bahkan
seharusnya mereka akan saling melengkapi[19][19].
Jadi, kedudukan teologi dengan
disiplin ilmu lain ialah bahwa berbagai ilmu itu saling melengkapi. Misalnya
filsafat menolong teologi untuk menyusun isi teologi secara logis sehingga
dapat diterima oleh orang lain. Matematika dan ilmu-ilmu lain member kontribusi
kepada teologi.
1.3.
Tugas/fungsi/Pentingnya Teologi Sistematika
Dalam website Sabda disbutkan
beberapa kegunaan mempelajari Teologia secara sistematis, yaitu:
- Karena manusia sebagai mahluk ciptaan yang berasio maka manusia mempunyai . kecenderungan untuk berpikir dan mempelajari sesuatu secara sistematis. Dengan demikian jelaslah bahwa Teologia sistematis berusaha mensistematiskan isi ajaran Alkitab dari kitab Kejadian sampai Wahyu sehingga mudah dipahami.
- Sifat Alkitab sendiri yang menuntut untuk disusun secara sistematis. Kebenaran tersebar secara acak di seluruh bagian Alkitab, sehingga perlu disusun secara sistematis.
- Bahaya pengajaran sesat. Untuk memberikan jawaban akan iman kepercayaannya dan sekaligus melawan setiap tantangan dari pengajaran palsu. 1Pe 3:15, Efe 4:14
- Alkitab adalah sumber doktrin Kristen. Tugas orang Kristen adalah untuk menjelaskan doktrin-doktrin itu dalam sistematika yang baik dan di dalam konteks yang tepat sehingga dapat menjawab pertanyaan, "Apa yang diajarkan oleh Alkitab kepada kita untuk jaman ini?"
- Alkitab adalah pedoman hidup Kristen. Mengerti Teologia bukan hanya sekedar sebagai pengetahuan teoritis, tapi juga sebagai gaya hidup yang berintegritas. 2Ti 2:24-25; 2Ti 3:15-16
- Keutuhan keseluruhan kebenaran Firman Tuhan yang bersistem sangat dibutuhkan oleh pekerja Kristen yang efektif.[20][20]
1.4. Norma/sumber/metode
Bila dalam definisi
teologi diartikan berpikir tentang Allah dan karya-Nya, merenung tentang Allah
dan karya-Nya, ilmu tentang Allah dan karya-Nya maka jelaslah dibutuhkan
norma/sumber/metode. Sebab bila tidak ada norma/sumber/metode maka setiap orang
akan berbeda-beda dalam memikirkan tentang Allah dan karya-Nya. Mereka yang
memulai dengan akal semata akan mengatakan bahwa Allah itu tidak ada (komunis),
sebaliknya mereka yang memulai berpikir tentang Allah dan karya-Nya hanya
berdasarkan pikiran semata (baca filsafat/berpikir mendalam dengan memakai
metode berpikir ilmiah) akan menghasilkan teologi yang berbeda dengan Alkitab
(Allah dan karya-Nya yang dibicarakan oleh mereka yang hanya berdasarkan
pendekatan filsafat). Di sinilah pentingnya norma berteologi yaitu Alkitab,
sumber berteologi yaitu Alkitab, metode berteologi yaitu Alkitab.
Dengan demikian maka
berteologi sangat erat kaitannya dengan norma/sumber/metode. Hasil teologi
sangat ditentukan oleh norma/sumber/metode berteologi. Ini disebabkan karena
Teologi dalam definisinya yaitu berpikir, berbicara, perkataan, uraian, ilmu
tentang Allah. Bila manusia yang berteologi tidak mempunyai norma/sumber/metode
maka akan menghasilkan teologi yang tidak pasti. Dengan demikian norma
berteologi/sumber berteologi/metode berteologi orang Kristen adalah Alkitab.
Artinya orang Kristen dapat berpikir, merenung, berbicara, berkata-kata,
bercakap-cakap, menuturkan tentang Allah sejauh yang disaksikan dalam Alkitab.
Jadi, norma berteologi,
sumber berteologi, metode berteologi adalah Alkitab. Filsafat hanya membantu
dalam berteologi berdasarkan Alkitab.
Jadi, kita dapat
mempertegas sumber berteologi sbb:
- Alkitab sebagai sumber yang paling utama yang menjadi otoritas tertinggi dan mutlak bagi iman dan kehidupan Kristen.
- Tradisi gereja khususnya dari Bapak-bapak Gereja, dan perkembangan pengajaran di gereja dari zaman ke zaman, yaitu tentang apa yang diterima/ditolak oleh gereja sepanjang sejarah.
- Buku-buku Lain Sumber-sumber lain berasal dari buku-buku yang sudah "jadi" yang dihasilkan oleh teologia biblika, historika atau filosofika untuk dipergunakan sebagai sarana membantu menyelidiki Alkitab dengan lebih sehat.
Sumber pertama menjadi pedoman untuk
menilai sumber 2 dan 3 (lihat 3 point di atas).
Setelah kita
membicarakan metode berteologi maka sekarang kita memperhatikan beberapa metode
berteologi dari para teolog masa lampau.
Metode Berteologi
Sebelum mengemukakan metode berteologi, ada
hal-hal yang patut diperhatikan yaitu syarat dan keterbatan berteologi. Website
sabda memaparkan beberapa syarat berteologi:
- Syarat-syarat berteologi [21][21].
- Presupposisi (praduga awal) setiap orang mengawali pemikiran dengan anggapan (asumsi).
- Mempunyai perlengkapan rohani dan sikap yang taat. Seorang yang mempelajari Alkitab tidak mungkin bersikap objektif, karena ia harus percaya terlebih dahulu bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah (iman mendahului rasio). "Karena percaya, orang mengerti" (Augustinus). Rasio adalah alat yang dipakai untuk mengerti pengetahuan.
- Membutuhkan penerangan Roh (iluminasi)
- harus percaya
- harus berpikir
- harus mempunyai ketergantungan
- sikap ibadah (penyembahan)
Dalam berteologi juga mesti disadari
bahwa ada keterbatasan. Sabda menyebutkan paling tidak ada 2 keterbatasan
yaitu: [22][22].
- Keterbatasan teologia
- Keterbatasan pemikiran manusia untuk memikirkan pikiran Allah yang tidak terbatas.
- Kekurangan ilmu pengetahuan pembantu.
- Keterbatasan bahasa manusia.
- Kekurangan ketrampilan untuk menguasai dan mengartikan secara tepat Alkitab secara utuh dan menyeluruh. (hermeneutik).
- Bungkamnya penyataan lanjutan.
- Pengaruh dosa dan kehendak daging.
- Metode-metode Teologia. [23][23].
- Metode Charles Hodge Memakai metode induktif, yaitu dengan mengumpulkan fakta-fakta, kemudian ditarik kesimpulan. Alkitab adalah gudang fakta (yang tidak dapat dicerna disingkirkan, karena, tidak diterima oleh rasio).
- Metode Karl Barth Teori Barth mengatakan: bahwa manusia tidak mungkin mengenal Allah (karena di luar jangkauan rasio manusia). Oleh karena itu Allah yang mencari manusia. Imanlah yang membantu manusia untuk bisa bertemu Allah (yang mencari mereka). Karena Allah ada di luar jangkauan manusia maka Allah menjadi "tersembunyi". Satu-satunya cara manusia untuk menerima kebenaran adalah melalui cara supranatural dan Allah harus menemui manusia langsung sehingga manusia mempunyai bukti pengalaman tentang Dia. Maka pernyataan teologis harus didasarkan pada pengalaman supranatural itu.
- Metode Torrance Ilmu adalah suatu keterbukaan terhadap obyek. Ilmu terjadi, karena manusia menaklukkan diri pada obyek penelitiannya yang intrinsik, yang untuk nantinya manusia mampu memberikan penjelasan rasionalitasnya terhadap obyek itu. Teologi juga demikian meskipun teologi mempunyai jenis rasionalitas sendiri, tidak perlu sama dengan rasionalitas disiplin ilmu yang lain.
Teologi yang obyektif adalah sejauh
mana teologi tunduk dan terbuka pada obyek penelitiannya. Torrance menyangkal
bahwa Obyeknya adalah Allah, karena Allah harus menjadi subyek, maka kalau
begitu obyek lah (Allah) yang akan mempertanyakan tentang manusia.
- Metode Paul Tillich Metode yang dipakai adalah Metode Korelasi. Keprihatinannya yang utama adalah bagaimana menyampaikan berita Alkitab kepada situasi dunia kontemporer sekarang ini. Untuk menjawab ini maka pertanyaan-pertanyaan manusia modern itu dihubungkan sedemikian rupa dengan jawaban dari tradisi kristen, sedangkan jawaban-jawabannya ditentukan oleh bahasa filsafat, sains, psikokologi dan seni modern. Ia yakin tentu ada kaitan antara pikiran dan problema manusia dengan jawaban yang diberikan oleh kepercayaan dalam agama. Untuk itu ia menolak jawaban yang supranaturalisme dari fundamentalisme, dan juga menolak naturalisme dari liberalisme.
Penekanan metode Tillich adalah pada
penggunaan bahasa simbolik religius. Ia yakin bahwa pengetahuan tentang Allah
hanya dapat diuraikan melalui penggunaan kata-kata simbolik secara semantik.
Tugas kita adalah menterjemahkan simbol religius dalam Alkitab ke dalam suatu
urutan atau susunan simbol yang teratur melalui prinsip-prinsip dan
metode-metode teologis.
- Metode Interpretasi Analitis Teologi adalah ilmu tentang Allah; yang memberikan paparan yang koheren (menyatu, berkaitan, teratur, logis) tentang doktrin-doktrin iman Kristen. Landasan utama yang dipakai dalam metode ini adalah percaya bahwa seluruh Alkitab adalah sebagai Firman Allah, kemudian sebagai respons mau tidak mau kita harus menginterpretasikan (menafsirkan) berita Alkitab ini lalu menterjemahkannya ke dalam bahasa kontemporer yang akan relevan dengan manusia di setiap jaman, budaya dan konteks.
Dengan demikian unsur terpenting
dalam metode ini adalah penafsiran (karena segala sesuatunya harus
ditafsirkan). Penafsiran yang tepat akan menghasilkan produk teologi yang
tepat. Untuk itu seorang penafsir harus melakukan hal-hal berikut ini:
- Penafsir harus setia pada kebenaran Alkitab sebagai sumber normatif dan tidak mungkin keliru bagi semua manusia (Biblikal).
- Penafsir harus memakai sistem penafsiran yang sehat (ilmu Hermeneutiks) yaitu: melihat dari sudut pandang dan maksud orisinil penulis (dilihat dari latar belakang historis, budaya, ekonomi dan gramatikal/bahasanya), lalu hasil penafsirannya itu (dari Kejadian - Wahyu) diteliti, dianalisa dan dipadukan. Kemudian ditarik kesimpulan dan prinsip-prinsip, apa yang sebenarnya Alkitab ingin ajarkan secara keseluruhan bagi kehidupan normatif sepanjang jaman.
- Untuk tugas di atas penafsir juga harus melihat dirinya sendiri (latar belakang, dll.) sehingga ia betul-betul terbuka kepada Alkitab dan tidak berbias, mengurangi, atau memanipulasinya. Selain itu, sifat penafsiran ini juga harus sesuai dengan sifat kekinian sehingga dapat diaplikasikan untuk menjawab kebutuhan manusia kontemporer.
- Keseluruhan hasil penafsiran ini perlu disusun sedemikian rupa untuk memenuhi standard ilmu (analistis, dengan metode yang tepat dan teratur, sistematik dan diungkapkan dengan bahasa yang jelas). Teologia yang dihasilkan dari penyusunan ini dijamin sifat biblikal, sistematik, kontekstual dan praktikalnya.
Dasar pemahaman adalah dari 2Ti
3:16-17; kita tidak mendayagunakan teologi untuk memperbaiki ketidak-jelasan
yang ada dalam Alkitab tapi untuk menerangi ketidak-jelasan pikiran manusia
dalam menanggapi isi Alkitab[24][24].
Pembagian
Teologi
- Dalam arti luas Teologia, sebagai keseluruhan pokok studi pendidikan Teologia, dibagi menjadi:
- Teologia Biblika (Eksegetis) Teologia yang berurusan dengan penelahaan isi naskah Alkitab dan alat- alat bantunya, untuk tujuan menggali, mengerti dan mengartikan apa yang ditulis dalam Alkitab.
- Teologia Historika (Sejarah) Teologia yang berurusan dengan sejarah umat Allah, Alkitab dan gereja, untuk tujuan mengikuti dan menyelidiki perkembangan iman/teologia dan sejarahnya dari jaman ke jaman.
- Teologia Sistematika (Doktrin Iman Kristen) Teologia yang berurusan dengan penataan doktrin-doktrin dalam Alkitab menurut suatu tatanan logis, untuk tujuan menemukan, merumuskan, memegang dan mempertahankan dasar pengajaran iman Kristen dan tindakan yang sesuai dengan Alkitab.
- Teologia Praktika (Pelayanan) Teologia yang berurusan dengan penerapan teologi dalam kehidupan praktis, untuk tujuan pembangunan, pengudusan, pembinaan pendidikan dan pelayanan jemaat dan umat manusia pada umumnya.
Teologi Dalam Arti Sempit
Teologia, sebagai usaha meneliti
iman Kristen dari aspek doktrinnya, dibagi menjadi beberapa bidang studi:
- Bibliologi (Alkitab)
- Teologia Proper (Allah)
- Antropologi (Manusia)
- Soteriologi (Keselamatan)
- Kristologi (Yesus Kristus)
- Pneumatologi (Roh Kudus)
- Eklesiologi (Gereja)
- Eskatologi (Akhir zaman)
- Struktur pembagian Teologia Sistematika
Teologi
Kristen dibagi ke dalam 4 kelompok:
1. Teologi Eksegetis
Teologia Eksegetis meliputi penelaahan Bahasa-Bahasa,
Arkeologi, Pengantar, Hemeneutika, Teologi Alkitabiah.
2. Teologi Historis
Teologi historis merunut sejarah umat Allah dalam Alkitab (PL) dan Gereja sejak Yesus Kristus [PB]. Teologi Historis membahas awal mula, perkembangan, dan penyebaran Agama yang sejati dan juga semua Doktrin, organisasi, dan kebiasaannya. Di dalamnya termasuk juga Sejarah Alkitab, Sejarah Gereja, Sejarah Pekabaran Injil, sejarah Ajaran dan sejarah Pengakuan Iman.
3. Teologi Sistematika
Teologi Sistematika menggunaan bahan-bahan yang disajikan oleh (1). Teologi Eksegesis dan (2). Teologi Historis, lalu menatanya menurut suatu Tatanan yang Logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam penelitian teologis. Teologi Sistematika membahas Apologetika, Polemik dan Ajaran Etika Alkitabiah.
Teologi Sistematika menggunaan bahan-bahan yang disajikan oleh (1). Teologi Eksegesis dan (2). Teologi Historis, lalu menatanya menurut suatu Tatanan yang Logis sesuai dengan tokoh-tokoh besar dalam penelitian teologis. Teologi Sistematika membahas Apologetika, Polemik dan Ajaran Etika Alkitabiah.
4. Teologi Praktis
Teologi Praktis meliputi pokok-pokok seperti Homiletika,
Organisasi dan Administrasi Gereja, Ibadat, Pendidikan, dan Penginjilan.
Jadi, integrasinya, Doktrin yang ada di Alkitab ditelaah
secara Eksegetis berdasarkan Historisitasnya [doktrin berkembang dalam konteks
sejarah secara progresif selama pembentukan PL dan PB], kemudian keduanya
Disistematisasikan oleh para ahli untuk tujuan Praktis atau aplikasi hidup. [Henry
C. Thiessen, Teologi Sistematik, (Malang: Gandum Mas, 1993), 31-32
- Sejarah Teologi Sistematika
Berteologi itu pada
esensinya bersifat individual tetapi juga bersifat komunal/bersama atau
berteologi itu terjadi dalam kesendirian tetapi serempak kebersamaan. Oleh
karena itu maka berteologi selalu ada dalam sejarah dan tidak pernah di luar
sejarah. Berteologi ada dalam sejarah, telah dimulai sejak manusia ada di dunia
ini. Contoh sederhana Adam dan Hawa berteologi di taman Eden (Kej. 1, 2 dan 3).
Namun sejarah teologi yang akan kita bahas di sini yaitu berteologi secara
sistematis. Kita mulai dengan Gereja mula-mula dan selanjutnya. Berikut ini
bahasan secara singkat sejarah teologi sistematis.
2.1. Gereja Mula-mula/Gereja Lama:
Origenes :
Karya Origenes,
Asas-asas Pertama yang dikarang pada tahun 220-an biasanya dianggap sebagai “teologi
sistematik” yang pertma.
Origenes tertarik dengan
hubungan antara roh dan zat.
Origenes mengajarkan
tentang hierarki malaikat-malaikat dan setan-setan dan pra eksistensi jiwa-jiwa
manusia serta penjelmaannya kembali dalam masa atau masa-masa yang akan datang
dalam bentuk yang makin rohani.
Jatuh bangunnya sejarah
ciptaan adalah sejarah mengenai pengembalian ke asal
Origenes mempertahankan
gagasan kebebasan mahluk sebagai bentuk perlawanan Kristen terhadap fatalisme
Gnostik.
Origenes mengharapkan bahwa oleh
“pendidikan’, “dorongan” dan “hukuman” semua mahluk rasional akan menjadi
bagian dari pemulihan universal dari kesatuan dan kesempurnaan di dalamnya
“Allah adalah segala dalam segalanya”.(avis, 2001:59-60)
Gregorius dari Nyssa
Ia terkenal karena
tafsiran-tafsirannya yang bersifat mistik pada Hidup Musa dan Kidung Agung.
Ia juga merumuskan
pernyataan klasik mengenai Trinitas pada akhir abad ke-4.
Orasi Kateketik Besar
merupakan karya tulis Gregorius yang secara sistematik menguraikan iman
Kristen. Karya itu dipakai sebagai bantuan bagi pengajar katekisasi.
Pengajar harus
memperhatikan berbagai latar belakang asal dari orang yang bertanya-tanya serta
calon sidi.
Melawan ateisme, keberadaan Allah harus dibuktikan dari sudut
kebijaksanaan dan seni penciptaan.
Trinitas harus
dipertahankan melawan monoteisme Yahudi dan politeisme orang kafir.
Logos ilahi adalah perantara
penciptaan, dan umat manusia secara khusus adalah hasil berlimpah ruah
kasihNya.
Manusia adalah mahluk
berakal budi yang diciptakan untuk mengambil bagian dan bersukacita dalam
berkat-berkat Allah.
Karunia kebebasan telah
disalah gunakan untuk menolak hal-hal yang baik demi hal-hal yang kurang
berharga.
Inkarnasi Logos- dalam
hal apapun tidak asing bagi ciptaanNya sendiri – adalah perbuatan bebas kasih
Allah, dilaksanakan karena umat manusia butuh sentuhan agar dapat disembuhkan.
Allah merendahkan diri
menunjukkan pembuktian kuasaNya
Keadilan Allah
diperlihatkan dalam perbuatan, bahkan si pendusta telah diperlakukan secara
adil dalam karya penebusan.
Penyelamatan harus
diterima melalui iman dan dilaksanakan melalui keutamaan.
Bila orang memintanya
dari Allah, dengan penuh kepercayaan akan janji-Nya, maka Ia akan memperbaharui
jiwa lewat baptisan.
Lewat roti perjamuan
yang telah menjadi tubuh-Nya, firman pemberi kehidupan memelihara orang percaya
untuk penyatuan abadi dengan-Nya dalam kebahagiaan yang tak terkatakan.
Anak Allah harus
dikenali lewat akhlak serta keserupaan rohani mereka dengan Sang Bapa.(Avis,
2001:60-61)
Augustinus
Augustinus menwarkan
beberapa tahap nasehat dan contoh-contoh untuk menyajikan iman Kristen pada
tahap awal kepada para accedentes (orang yang ingin menjadi katekumen).
Pertama, Augustinus
menjelaskan sejarah penyelamatan dari penciptaan sampai ke gereja masa kini
dengan tujuan agar tujuan kasih Allah dalam kenyataan dan peristiwa terkait
menjadi nampak.
Kedua, Pemantapan ini
perlu disusul oleh dorongan moral yang didasarkan pada kebangkitan akhir,
pengadilan akhir, dan harapan akan kesukacitaan abadi.
Kebajikan manusia yang
sesungguhnya adalah kesalehan dan Allah harus dipuja oleh iman, pengharapan dan
kasih.
Lalu Augustinus
melanjutkan dengan “membukakan tujuan dari ketiga karunia tersebut, yaitu: apa
yang harus kita percaya, apa yang harus kita harapkan, dan apa yang harus kita
kasihi”. Iman dijelaskan secara rinci sesuai pasal-pasal Pengakuan Iman Rasuli
Augustinus membuat pembedaan antara
dua jenis “kasih”, yaitu nafsu dan kebaikan hati, cinta-diri dan cinta
pemberian Allah, terhadap Allah dan sesama. (Avis, 2001:61)
Thomas Aquinas
Thomas adalah anggota
Ordo Dominikan
Buku Dogmatisnya disebut
Summa Theologiae. Isi buku ini banyak mempengaruhi Gereja Katolik Roma
melalui Konsili Trente dan pemulihan ajaran Thomas Aquinas tahun 1880-1960.
Buku ini belum selesai
pada saat penulis meninggal, tahun 1274.
Karya yang sangat besar
itu ditulis “dari iman ke iman” dan karena itu buku ini mampu menangani lebih
langsung dari sudut pandang Kristen banyak tema yang dulu dibahas dalam bukunya
Summa Contra Gentiles. Buku ini menjadi pegangan bagi misionaris dan
orang-orang yang mungkin mau berpindah agama dari Yudaisme dan Islam.
Summa Theologiae diawali
dengan pengetahuan tentang Allah, apa saja yang dapat diketahui oleh
akal budi, dan apa yang tergantung pada percaya dalam wahyu ilahi dan apa
status bahasa kita berkenaan dengan Allah. Bagian pertama ini dilanjutkan
dengan pembahasan mendalam mengenai Trinitas, penciptaan dan sifat manusia.
Bagian kedua dari Summa
Theologiae mengambil contoh dari buku Aristoteles yang berjudul Etica
Nicomachea, yang didalamnya Aquinas menemukan banyak pemikiran Aristoteles
yang sehaluan dengan pemikiran moral Kristen.
Bagian ketiga dari Summa
Theologiae berisi pokok-pokok dogmatis tentang inkarnasi dan sakramen-sakramen.
Tiap pertanyaan penting dibahas dalam beberapa pasal, yang masing-masing
diawali dengan sub pertanyaan. Sub pertanyaan ini diberi jawaban pertama yang
masuk akal (“Videtur”, “Kelihatannya”). Kemudian Thomas mengemukakan pendirian
lain secara singkat (“Sed
contra”.”Tetapi di lain pihak”), biasanya di ambil Alkitab atau para Bapa
Gereja.
Akhirnya Aquinas mengembangkan
pendapatnya sendiri (Respondeo dicendum”, Aku menjawab”).
Tidak lama sebelum
meninggal, Aquinas mendapat penglihatan. Pada waktu ia melayani kebaktian, ia
menolak untuk meneruskan penulisan “Summa”. “Aku tak dapat melanjutkannya,
karena apa yang telah saya tulis, sekarang kelihatan seperti jerami.” (Alvis,
2001: 64).
2.2.
Gereja Abad Pertengahan (590 –1492)
Johannes dari Damaskus
Ia adalah pengarang
madah (lagu) dan pembela pemujaan ikon abad ke-8.
Ia adalah penulis buku
Pancuran Pengetahuan yang terdiri dari tiga jilid. Isi buku itu mencakup
filosofis yang diilhami dari Aristoteles, satu kopendium tentang ajaran-ajaran
sesat serta dalam keempat buku jilid 3 Johanes memadukan ajaran bapak-bapak
Gereja Yunani.
Pertama-tama tentang Allah: Allah bersifat tidak dapat
dimengerti; tetapi keberadaan-Nya dan keesaan-Nya dapat disimpulkan dari sifat
Alam semesta yang tidak mutlak perlu ada serta keteraturannya; selain itu Ia
menyingkapkan diri-Nya secara memadai
demi kebaikan kita dalam kata-kata kesaksian Hukum Taurat, para nabi,
para rasul dan penulis Injil; dengan itu kita dapat mengetahui bahwa Allah
adalah Tritunggal, walaupun cara keberadaan-Nya tidak dapat diketahui persis.
Kedua, tentang ciptaan:
malaikat-malaikat diciptakan lebih dahulu dan Iblis adalah yang pertama
berpaling dari kebaikan dan menjadi jahat.
Manusia diciptakan
menurut citra Allah, yaitu dengan pikiran dan kemauan bebas, dan menurut rupa
Allah, yaitu untuk maju dalam jalan kebenaran; tetapi manusia jatuh karena
keangkuhan dan menjadi budak dari nafsu dan keinginan, namun Allah tetap
memelihara kita
Ketiga, dalam aturan
penyelamatan, Allah telah berusaha memenangkan kita kembali, akhirnya Ia masuk
dalam keberadaan kita dan bekerja dari
dalam, lewat Putra-Nya yang menjadi manusia
Keempat karena Kristus
tidak berdosa maka kematian tak dapat menahan dia; melalui iman dan baptisan
kita dipulihkan didalam Dia untuk
bersekutu dengan Allah, dikembalikan pada jalan keutamaan dan diperbaharui
dalam kehidupan yang dipelihara oleh Perjamuan Kudus.
Karya Johannes
Damaskenus banyak digunakan dalam Gereja Timur.
Thomas Aquinas
Thomas adalah anggota
Ordo Dominikan
Buku Dogmatisnya disebut
Summa Theologiae. Isi buku ini banyak mempengaruhi Gereja Katolik Roma
melalui Konsili Trente dan pemulihan ajaran Thomas Aquinas tahun 1880-1960.
Buku ini belum selesai
pada saat penulis meninggal, tahun 1274.
Karya yang sangat besar
itu ditulis “dari iman ke iman” dan karena itu buku ini mampu menangani lebih
langsung dari sudut pandang Kristen banyak tema yang dulu dibahas dalam bukunya
Summa Contra Gentiles. Buku ini menjadi pegangan bagi misionaris dan
orang-orang yang mungkin mau berpindah agama dari Yudaisme dan Islam.
Summa Theologiae diawali
dengan pengetahuan tentang Allah, apa saja yang dapat diketahui oleh
akal budi, dan apa yang tergantung pada percaya dalam wahyu ilahi dan apa
status bahasa kita berkenaan dengan Allah. Bagian pertama ini dilanjutkan
dengan pembahasan mendalam mengenai Trinitas, penciptaan dan sifat manusia.
Bagian kedua dari Summa
Theologiae mengambil contoh dari buku Aristoteles yang berjudul Etica
Nicomachea, yang didalamnya Aquinas menemukan banyak pemikiran Aristoteles
yang sehaluan dengan pemikiran moral Kristen.
Bagian ketiga dari Summa
Theologiae berisi pokok-pokok dogmatis tentang inkarnasi dan sakramen-sakramen.
Tiap pertanyaan penting dibahas dalam beberapa pasal, yang masing-masing
diawali dengan sub pertanyaan. Sub pertanyaan ini diberi jawaban pertama yang
masuk akal (“Videtur”, “Kelihatannya”). Kemudian Thomas mengemukakan pendirian
lain secara singkat (“Sed
contra”.”Tetapi di lain pihak”), biasanya di ambil Alkitab atau para Bapa
Gereja.
Akhirnya Aquinas
mengembangkan pendapatnya sendiri (Respondeo dicendum”, Aku menjawab”).
Tidak lama sebelum
meninggal, Aquinas mendapat penglihatan. Pada waktu ia melayani kebaktian, ia
menolak untuk meneruskan penulisan “Summa”. “Aku tak dapat melanjutkannya,
karena apa yang telah saya tulis, sekarang kelihatan seperti jerami.” (Alvis,
2001: 64).
Philip Melanchthon
Melanchthon (1497-1560)
sang “guru Jerman” adalah orang pertama yang mensistematisasikan, atau menurut
sementara orang, menjinakan pemikiran Luther.
Gereja adalah hanya
mereka yang menerima Buku ini [Alkitab] dan mendengarkan, mempelajari serta
mengikuti pemikirannya dalam ibadah dan moral
Inti pusat Alkitab serta
dari doktrin murni adalah pembenaran oleh iman. Melanchthon merumuskan gagasan
ini [pembenaran oleh iman] dengan cara yang kurang berbau predestinasi
dibandingkan dengan Marthen Luther: “Allah menarik orang, tetapi Ia menarik
mereka yang bersedia”.
Bukunya yang terkenal
“Loci communes rerum theologicarum berisi pokok-pokok umum yang bersifat
soteriologis, yaitu dosa, anugerah, Taurat dan Injil, pembenaran dan iman,
pekerjaan iman dalam kasih dan lambing-lambang sacramental, yang meyakinkan
orang percaya akan janji-janji Allah dan karya keselamatan Kristus. Bahkan
ajaran sepenuhnya tentang Allah Tritunggal, pengalaman gereja dalam ibadah,
doa, khotbah dan sakramen.
2.3. Gereja Abad Reformasi dan Post Reformasi (1517 – Kini)
Marthen Luther
Teologinya bersifat
Kristosentris.
Keselamatan itu hanya
berdasarkan anugerah
Katekismus kecil: berisi
10 hukum, PIR, Doa Bapa Kami, Sakramen Baptisan, dan Perjamuan Kudus.
Garis merah teologisnya
ialah pengetahuan tentang Allah dan kita sendiri, yang saling berhubungan
dengan focus tetap pada Kristus sebagai perantara
Zwingli
Ia menyatakan: suatu
doktrin tidak boleh berlawanan dengan
akal, bagi Luther peranan akal dalam teologi jauh lebih kurang.
Alkitab mempunyai
wewenang terakhir.
Firman Allah adalah
pasti. Kalau Allah berbicara terjadilah.
Firman Allah juga jelas,
Akan tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin terjadi salah tafsir. … (Lane,
2005:144-145)
Johanes Calvin
Garis merah teologisnya ialah
pengetahuan tentang Allah dan kita sendiri, yang saling berhubungan dengan
focus tetap pada Kristus sebagai perantara
Karyanya yang terkenal
adalah “Institutio Agama Kristen”
Buku pertama Isinya
membicarakan pengetahuan tentang Allah sebagai pencipta dan pemelihara. Alkitab
adalah kacamata yang memperbaiki gagasan yang tidak jelas tentang Allah yang
diperoleh umat manusia dari alam dan sejarah.
Buku kedua berisi
pengetahuan tentang Allah penebus, memperlihatkan bagaimana penebusan manusia
yang telah hilang harus dicari di dalam Kristus.
Buku ketiga berjudul
“Cara kita mengambil bagian dalam anugerah Kristus, kebaikan-kebaikan yang kita
peroleh dari padanya dan hasil-hasil yang dibawanya. Selain itu membahas
tentang pneumatologis, iman, kelahiran kembali, kepastian, penyucian dan doa
serta predestinasi.
Calvin yakin bahwa pra
pengetahuan Allah adalah aktif dan menentukan. Allah tidak memilih orang-orang
yang mengetahui sebelumnya, bahwa mereka patut mendapat anugerah, tetapi mereka
yang dipilih Allah di kemudian hari menjadi percaya, justru karena mereka
dikenali dan terpilih sebelumnya
Buku keempat berisi Alat-alat atau
sarana-sarana yang dengannya Allah mengundang kita untuk masuk ke dalam
persekutuan dengan Kristus.
Friedrich
Schleiermacher
Sering disebut “Bapa
teologi modern.”
Agama adalah perasaan
akan ketergantungan mutlak manusia. Tetapi dari mananya agama adalah Allah.
Yesus memiliki kesadaran
akan Allah yang sempurna dan di sanalah letak sifat keTuhanan-Nya.
Yesus membebaskan
manusia dari sifat melupakan Allah dan yang mendorong kesadaran beragama mereka yang menerimanya, baik secara
langsung maupun lewat pemberian Kristus.
Dalam bukunya berjudul
Christian Faith (edisi 1820-1821 dan 1830-1831), doktrin-doktrin Klristen
adalah riwayat perasaan-perasaan keagamaan
Kristen yang diungkapkan dalam bahasa, dan teologi dogmatis adalah ilmu
yang mensistematisasikan doktrin yang berlaku dalam Gereja Kristen pada waktu tertentu
atau menurut J.H.S. Kent teologi sistematis Schleiermacher sebagai
“penjababaran empiris dari pengalaman (Kristen)”
Namun boleh
dipertanyakan apakah pemahaman Schleirmacher tentang pribadi dan karya Kristus
secara memadai cocok dengan Alkitab dan tradisi sejarah dogma serta tradisi
liturgis, dan karena itu juga dengan pengalaman yang diakui gereja sebagai
pengalaman Kristen yang normative.
Memang pembahasan Schleirmacher
tentang Trinitas, yang ada dalam beberapa halaman paling akhir, adalah lemah (Alvis,
2001 : 66).
Karl Bart
Karl Bart (1866-1968)
adalah teolog yang paling berisikeras melawan arus “ modernitas.
Tafsiran yang paling
terkenal adalah tentang surat Roma (edisi ke-2 1921.
Ia menekankan tentang
penegasan yang halus tentang prioritas Allah dan pengharapan kuat tentang
kemenangan anugerah.
Penyingkapan diri Allah
Tritunggal berpusat pada inkarnasi, yang secara asli dan sah disaksikan dalam
Alkitab dan diberitakan oleh Gereja.
Berkaitan dengan Firman
Allah ialah “Pengetahuan tentang Allah”, yang di dalamnya Allah tampil sebagai
“Allah yang mengasihi dalam kebebasan.
Ia menghubungkan doktrin
Ciptaan dengan doktrin “Perjanjian” ciptaan dilihat “sebagai dasar eksternal
dari perjanjian, dan perjanjian sebagai dasar internal ciptaan. (Alvis, 2001
:67)
Paul Tillich
Paul Tilich (1886-1965)
adalah seorang teolog terkenal di Amerika Utara.
Teologinya bersifat
studi korelasi.
Dengan teologi relasi,
Tilich berusaha mendengarkan pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan manusia
dan kemudian menjelaskan penyingkapan ilahi sebagai jawabannya.
Imrumuskan secara
simbolis bahwa: Allah menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia, walupun
sebenarnya sudah “di bawah dampak jawaban Allah manusia mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tersebut.(Alvis, 2001:68)
Karl
Rahner
Ia adalah seorang teolog
dariGereja Katolik Roma.
Ia hidup anatara tahun
1904-1984.
Bagi orang Yahudi Jerman
itu, Allah adalah :”kaki langit terakhir” dari trans transendensi-diri manusia,
yang sudah mendesak di dalam kita lewat pengkomunikasian diri terus menerus.
Kristus memenuhi harapan
universal akan adanya Penyelamat mutlak, keunikan-Nya terdiri dari tidak dapat
diubahnya serta tak dapat dibandingkannya kehadiran Allah yang nyata di
dalam-Nya.
“Gereja tersembunyi”
dari Tillich sama dengan “kekristenan awanama” dari Rahner.
Gereja yang kelihatan
bukan saja berupa sarana penginjilan, tetapi lebih sebagai titik pusat dari apa
yang Allah sedang kerjakan di seluruh penjuru dunia.
Dalam pemikiran Rahner kelihatannya
sangat sulit untuk gagal diselamatkan.
Rasionalisme dan Supra
Naturalisme Modern Dengan Abad XX Termasuk Pengalaman Asia (uraian menyusul)
- Hubungan Teologi Sistematika Dengan Ilmu Lain
Hubungan fungsional antar mata kuliah sangat penting diketahui
oleh setiap penanggungjawab dan pemberi mata kuliah. Hal ini dibutuhkan untuk
kepentingan pelaksanaan kurikulum terutama dalam penyajian dan pengkajian
isi/materi kuliah. Bila dosen memahami hubungan fungsional antar mata kuliah maka:
- Seluruh penyajian isi setiap mata kuliah merupakan suatu pengalaman belajar yang terarah dan terpadu dengan ruang lingkup, isi, kedalaman dan keluasaan yang jelas. Dengan demikian, setiap lulusan diharapkan dapat memiliki wawasan pengetahuan dan pengalaman yang tidak terlalu bervariasi kualitasnya.
- Terhindarnya “overlap”, pengulangan, tumpang tindih, kurang atau berlebihan dalam hal kedalaman dan keluasaan isi serta kajian dari materi kuliah terutama di antara mata kuliah yang serumpun dan berkaitan.
- Dosen-dosen yang mengasuh mata kuliah yang serumpun atau berkaitan dituntut untuk ada keterpaduan serta harus selalu berkonsultasi tentang pembatasan ruang lingkup maupun pengembangan isi mata kuliah, dan sekaligus juga untuk kepentingan melakukan verivikasi terhadap bobot sks yang diberikan setiap mata kuliah dalam kaitannya dengan kuliah tatap muka, tugas terstruktur, tugas mandiri dan system penilaian keberhasilan mahasiswa.
- Ada kejelasan tentang hubungan antar mata kuliah yang membutuhkan “prasyarat” untuk mata kuliah sebelumnya, sehingga mahasiswa terikat untuk tidak sembarangan mengontrak mata kuliah
- Penyebaran mata kuliah ke dalam setiap semester dapat ditata secara runtut dan berkelanjutan, dengan alasan yang logis dan bermakna bagi mahasiswa dalam rangka pembentukan kompetensi lulusan yang utuh dan bermutu.
Berikut ini peta
skematis hubungan fungsional antar mata kuliah, terutama khusus mata
kuliah-mata kuliah untuk Kurikulum Standar Minimal:
Hubungan Sistematika Teologi dengan disiplin
ilmu lain seperti:
- Biblika. Hubungan Biblika dengan teologi sistematika
Disiplin ilmu Biblika
menolong Teologi Sistematik dalam menyusun ajaran-aran Alkitab secara benar dan
logis sehingga dapat diterima secara akal.
Jadi, teologi Biblika
menolong teologi sistematika dalam menelusuri tema tertentu (misalnya
penebusan, perjanjian dst.) akan menyajikan materi yang luas dari Alkitab
secara progresif.
- Historika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika
Disiplin ilmu historika
menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran-pengajaran Alkitab
sebagaimana yang telah digumuli gereja masa lampau.
Jadi, disiplin ilmu
historika memberi kontribusi dengan memperlihatkan berbagai cara penafsiran
Alkitab yang pernah dilakukan gereja atau teolog di masa lampau.
- Praktika. Hubungan teologi historika dengan teologi sistematika
Menolong teologi
sistematika mendaratkan isi teologi atau teologi praktika adalah mengenai apa
adanya dan apa yang harus dilaksanakan.
Disiplin ilmu teologi
praktika menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab
sehingga mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.
- Oikumenika. Hubungan Oikumenika dengan teologi sistematika
Disiplin ilmu oikumenika
menolong Teologi Sistematika dalam menyusun pengajaran Alkitab dengan
memperhatikan aspek oikumenis.
Filsafat. Hubungan filsafat (berpikir kritis,
berpikir mendalam tentang seluruh kenyataan) dengan teologi sistematika
Disiplin ilmu filsafat
menolong Teologi Sistematika secara kritis menyusun ajaran-ajaran Alkitab
sehingga dapat dipertanggungjawabkan
Agama-agama. Hubungan agama-agama dengan teologi
sistematika
Ilmu agama-agama
menolong Teologi sistematika dalam pertanggungjawaban teologi terhadap sesame
teman teologis.
Pembagian Teologi
|
Biblika
|
Sistematika
|
Historika
|
Praktika
|
|
Pengetahuan dan
Pembimbing PL
|
Dogmatika
|
Sejarah Gereja Umum
|
PAK
|
|
Pengetahuan dan
Pembimbing PB
|
Etika
|
Sejarah Gereja Asia
|
PWG
|
|
Bahasa Ibrani
|
Sejarah Gereja
Indonesia
|
Kateketika
|
|
|
Bahasa Yunani
|
Oikumenika
|
Liturgika
|
|
|
Hermeneutika
|
Missiologi
|
Homilia
|
|
|
Tafsir PL
|
Agama Suku
|
Musik Gereja
|
|
|
Tafsir PB
|
Hinduisme dan
Budhaisme
|
Pastoral
|
|
|
Teologi PL
|
Islamologi
|
Manajemen Gereja
|
|
|
Teologi PB
|
Makna Studi Teologi Sistematika bagi mahasiswa
St twp kampus IV Timika
Makna Perubahan
Kognitif (Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi)
Makna Perubahan
Afektif (Mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu)
Makna Perubahan Psikomotorik
(Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar