Minggu, 21 September 2014

MATA KULIAH PAK



MATA KULIAH  PAK
Hakikat pembelajaran adalah suatu sistem belajar yang terencana dan sistematis dengan maksud agar proses belajar seseorang atau kelompok orang dapat berlangsung sehingga terjadi perubahan, yakni meningkatkan kompetensi pembelajar tersebut. Karena itu, guru sebagai ujung tombak dalam pembelajaran seharusnya berusaha menciptakan sistem lingkungan atau kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Belajar memiliki tiga atribut pokok ialah:
  1. Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan.
  2. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
  3. Belajar berkat mengalami, baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan. (lingkungan fisik dan lingkungan sosial).
Belajar adalah sebuah proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku seseorang atau subyek belajar.
Tujuan belajar bagi subyek belajar adalah untuk:
  1. mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
  2. menanamkan konsep dan meningkatkan ketrampilan
  3. pembentukan sikap.
Ada empat pilar dalam belajar, yaitu:
  1. learning to know - akal budi/pengetahuan
  2. learning to do - aplikasi/perbuatan
  3. learning to be - pengembangan eksistensi
  4. learning to live together - makhluk sosial
Supaya belajar terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip antara lain:
  1. Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.
  2. Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu sendiri dan atau terhadap situasi pembelajarannya.
  3. Aktivitas. Belajar itu sendiri adalah aktivitas. Bila fikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan metode dan media yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.
  4. Umpan balik di dalam belajar sangat penting, supaya siswa segera menge-tahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Umpan balik dari guru sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.
  5. Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Berkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan.
Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur: tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru.
Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi; dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:
 (1) pendekatan pembelajaran,
 (2) strategi pembelajaran,
 (3) metode pembelajaran;
 (4) teknik pembelajaran;
 (5) taktik pembelajaran; dan
 (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan
dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
 (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan
 (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
 (1) exposition-discovery learning dan
 (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008).
 Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu. Dengan kata lain strategi pembelajaran juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai. Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, maka jenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.
Perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Di sini strategi pembelajaran ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya:
 (1) ceramah;
 (2) demonstrasi;
(3) diskusi;
 (4) simulasi;
(5) laboratorium;
 (6) pengalaman lapangan;
 (7) brainstorming;
 (8) debat,
 (9) simposium, dan sebagainya.

 Metode adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru (metode mengajar) maupun bagi siswa (metode belajar). Makin baik metode yang dipakai, makin efektif pula pencapaian tujuan.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Kadang-kadang metode juga dibedakan dengan teknik. Metode bersifat prosedural, sedangkan teknik lebih bersifat implementatif. Maksudnya merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Contoh: Guru A dengan guru B sama-sama menggunakan metode ceramah. Keduanya telah mengetahui bagaimana prosedur pelaksanaan metode ceramah yang efektif, tetapi hasilnya guru A berbeda dengan guru B karena teknik pelaksanaannya yang berbeda. Jadi tiap guru mungakui mempunyai teknik yang berbeda dalam melaksanakan metode yang sama.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa strategi terdiri dari metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi lebih luas dari metode atau teknik pengajaran. Metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi pengajaran.

Contoh:
Dalam suatu rencana pembelajaran untuk mata kuliah Metode Mengajar bagi para mahasiswa program S1 PAK, terdapat suatu rumusan tujuan khusus pengajaran sebagai benikut: “Para mahasiswa calon guru diharapkan dapat mengidentifikasi minimal empat jenis (bentuk) diskusi sebagai metode mengajar”. Strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran tersebut misalnya:
Mahasiswa diminta mengemukakan empat bentuk diskusi yang pernah dilihatnya, secara kelompok.
Mahasiswa diminta membaca dua buah buku tentang jenis-jenis diskusi dari Winamo Surakhmad dan Raka Joni.
Mahasiswa diminta mendemonstrasikan cara-cara berdiskusi sesuai dengan jenis yang dipelajari, sedangkan kelompok yang lain mengamati sambil mencatat kekurangan-kekurangannya untuk didiskusikan setelah demonstrasi itu selesai.
Mahasiswa diharapkan mencatat hasil diskusi kelas.
Dari contoh tersebut dapat kita lihat bahwa teknik pengajaran adalah kegiatan no 3 dan 4, yaitu dengan menggunakan metode demonstrasi dan diskusi. Sedangkan seluruh kegiatan tersebut di atas merupakan strategi yang disusun guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam mengatur strategi, guru dapat memilih berbagai metode seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi dan sebagainya. Sedangkan berbagai media seperti film, kaset video, kaset audio, gambar dan lain-lain dapat digunakan sebagai bagian dan teknik teknik yang dipilih.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.



Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu:
 (1) model interaksi sosial;
 (2) model pengolahan informasi;
 (3) model personal-humanistik; dan
 (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memiliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.


A. Pengertian PAK

Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan secara kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya.
B. Dasar-dasar Pembelajaran PAK
(Ulangan 6:4-9; Efesus 6:4; Amsal 22:6; II Timotius 3:16)
Implikasinya bagi umat Kristen adalah bahwa PAK adalah:
  1. Pengasuhan yang diberikan sejak dalam kandungan sampai akhir hayat agar bertumbuh iman dan pengenalan pada Yesus Kristus.
  2. Imperatif (unsur keharusan) untuk mendidik/membesarkan.
  3. Mendasarkan pengajaran pada Firman Allah.
  4. Pendidikan kristiani bersifat terus-menerus (long life education)
  5. Pendidik: orang tua, guru, fungsionaris pendidikan
  6. Pendekatan: multi metode, berpusat pada peserta didik, peserta didik adalah subyek.
  7. Isi: nasehat, didikan, ajaran/norma Tuhan.
Pelajaran Pendidikan Agama Kristen
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di lembaga pendidikan formal maupun nonformal serta masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK), sangat tepat dalam rangka mewujudkan model PAK yang bertujuan mencapai transformasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan peserta didik pada semua jenjang pendidikan. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar memberikan ruang yang sama kepada setiap peserta didik dengan keunikan yang berbeda untuk mengembangkan pemahaman iman kristiani sesuai dengan pemahaman, tingkat kemampuan serta daya kreativitas masing-masing. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Kristen bukanlah “standar moral” Kristen yang ditetapkan untuk mengikat peserta didik, melainkan dampingan dan bimbingan bagi peserta didik dalam melakukan perjumpaan dengan Tuhan Allah untuk mengekspresikan hasil perjumpaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar memahami, mengenal dan bergaul dengan Tuhan Allah secara akrab karena seungguhnya Tuhan Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka. Dia adalah Sahabat dalam Kehidupan Anak-anak. Hakikat Pendidikan Agama Kristen (PAK) seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi PAK di Indonesia tahun 1999 adalah: Usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran PAK memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Pada dasarnya PAK dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), yang disajikan dalam dua aspek, aspek ALLAH TRITUNGGAL (ALLAH BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS) dan KARYANYA, dan aspek NILAI-
12
NILAI KRISTIANI. Secara holistik, pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK pada Pendidikan kesetaraan mengacu pada dogma Allah Tritunggal dan karya-Nya. Pemahaman terhadap Allah Tritunggal dan karya-Nya harus tampak dalam nilai-nilai kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar PAK di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial mampu mendorong terjadinya transformasi dalam kehidupan peserta didik, terutama dalam pengayaan nilai-nilai iman kristiani. Dogma yang lebih spesifik dan mendalam diajarkan di dalam gereja. Fokus Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar berpusat pada kehidupan manusia (life centered). Artinya, pembahasan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar didasarkan pada kehidupan manusia, dan iman Kristen berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Pembahasan materi sebagai wahana untuk mencapai kompetensi, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yaitu manusia sebagai ciptaan Allah, selanjutnya keluarga, teman, lingkungan di sekitar peserta didik, setelah itu barulah dunia secara keseluruhan dengan berbagai dinamikanya.

Pendidikan Agama Kristen bertujuan:
a. Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dan karya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladani Allah Tritunggal dalam hidupnya
b. Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karya-Nya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya
c. Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.

Fungsi Pendidikan Agama Kristen:
a. Memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari
b. Membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari

Ruang lingkup PAK meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Allah Tritunggal (Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus) dan karya-Nya
2. Nilai-nilai kristiani.

Hakikat Pendidikan Agama Kristen adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas. Karena itu, maka disusun kurikulum untuk mencapai tujuan tersebut. Agar implementasi kurikulum PAK yang merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar dapat  tercapai, maka diperlukan  strategi  dalam penyususnan kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK), khusunya bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun dengan sesame. Ada 5 strategi dalam penysunan kurikulum pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, antara lain :  Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran ,     Beberapa Pendekatan Pembelajaran ,   Pola pembelajaran Pendidikan Agama Kristen,   Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dan  Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Kata Kunci : Strategi, Kurikulum


  1. I.                   PENDAHULUAN

Pendidikan Agama Kristen ( PAK ) pada  hakekatnya adalah merupakan usaha secara sadar yang dilakukan dengan penuh terencana dan kontinyu dalam rangka mengembangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki keterpanggilan untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah mata pelajaran  yang  bertujuan: (1) Memperkenalkan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus dankarya-karya-Nya agar peserta didik bertumbuh iman percayanya dan meneladaniAllah Tritunggal dalam hidupnya, (2) Menanamkan pemahaman tentang Allah dan karyaNya kepada peserta didik, sehingga mampu memahami dan menghayatinya, (3)Menghasilkan manusia Indonesia yang mampu menghayati imannya secara bertanggungjawab serta berakhlak mulia di tengah masyarakat yang pluralistik.
Pada dasarnya mata pelajaran pendidikan agama Kristen di sekolah formal bukanlah pekabaran injil semata-mata tetapi pendekatan agama Kristen di sekolah disajikan dalam sub aspek Allah Tri Tunggal (Allah Bapa, Putra dan Roh ) serta karya-Nya yang ada dalam nilai-nilai Kristiani. Secara Khalistik pengembangan kompetensi Pendidikan Agama Kristen  pada pendidikan dasar dan menengah mengacu pada dogma Allah Tri Tunggal dan karya-Nya harus nampak dalam nilai-nilai Kristiani yang dapat dilihat dalam kehidupan keseharian siswa. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan kompetensi dalam pendidikan agama Kristen di sekolah dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial maupun mendorong terjadinya transformasi nillai-nilai kristiani dalam kehidupan siswa.
Perlu diketahui bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen berbeda sekali  dengan mata pelajaran lainnya karena implikasi Pendidikan Agama Kristen berisikan ajaran doktrin Kristen, norma dan didikan yang berfungsi memampukan peserta didik memahami kasih dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari dan membantu peserta didik mentransformasikan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
 Selain itu maka  mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen juga  lebih menekankan pada ranah afektif dan psikomotorik  dibandingkan dengan ranah kognitif.  Pembentukan mental dan sikap siswa  melalui penanaman nilai-nilai agama merupakan tugas yang tidak gampang bagi seorang guru, apalagi harus diperhadapkan dengan berbagai situasi di sekitar siswa yaitu, perkembangan iptek yang semakin maju dimana siswa dengan bebas dapat mengakses berbagai informasi di internet, tayangan televisi, perkelahian, kekerasan dan hal- hal lain yang sangat menuntut kerja keras seorang guru agama dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa melalui proses pembelajaran di kelas agar dapat menjadi filter bagi siswa itu sendiri dalam menghadapi berbagai situsasi disekitarnya.
            Selama ini pembelajaran Pendidikan Agama Kristen cenderung kearah pembahasan tematik teoritik sehingga terkesan bahwa pengajaran Pendidikan Agama Kristen terdiri dari materi hafalan belaka.. Kecenderungan yang lain adalah motivasi belajar yang kurang dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen karena adanya anggapan bahwa mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen hanya untuk memenuhi syarat kelulusan saja dan berfaedah sebagai informasi tentang Alkitab. Kecenderungan diatas dipengaruhi oleh cara guru  dalam memberikan materi pelajaran Pendidkan Agama Kristen yang monoton dan membosankan. Pembelajaran Pendidkan Agama Kristen yang didominasi metode ceramah cenderung berorientasi kepada materi yang tercantum dalam kurikulum dan buku teks, serta jarang mengaitkan yang dibahas dengan masalah-masalah nyata yang ada dalam kehidupan  Kristiani dan pergumulan hidup sehari-hari
Berdasarkan alasan yang dikemukakan di atas maka  perlu ada strategi yang direncanakan untuk menyusun kurikulum  pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, khusunya bagi orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Kristen dan juga memiliki keterampilan untuk mewujudkan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun dengan sesama sehingga diharapkan setiap pengajaran dan  uraian materi Pendidikan Agama Kristen yang disajikan dapat memberikan konstribusi nilai-nilai keagamaan yang baik bagi siswa dalam pembentukan karakater dan kepribadian yang baik.

II. PEMBAHASAN
  1. A.    Pengertian Strategi Pembelajaran
Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi juga bisa diartikn sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Menurut Sanjaya, (2007 : 126). Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan Killen (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dari pendapat tersebut, Dick and Carey (dalam Sanjaya :2006) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2007 : 126).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pertama strategi pembelajaranmerupakan suatu rencana tindakan (rangkaian kegiatan) yang termasuk juga penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa di dalam penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, Strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, artinya disini bahwa arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.

1.      Pengertian Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar.
Sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadapa kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.
2.      Fungsi Kurikulum
Pada dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi sekolah atau pengawas, berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulurn itu berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai suatu pedoman belajar.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu:
a.        Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
b.      Fungsi Integrasi (the integrating function)
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.
c.       Fungsi Diferensiasi (the differentiating function)
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
d.      Fungsi Persiapan (the propaedeutic function)
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
 e.        Fungsi Pemilihan (the selective function)
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswatersebut untuk memilih apayang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
f.       Fungsi Diagnostik (the diagnostic function)
Fungsi diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
3.      Komponen Kurikulum
Ada 4 unsur komponen kurikulum yaitu: tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi) 
    a.      Komponen Tujuan
Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkian tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan.
Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.
Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut.
  1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
  3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
  4. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.
     b.       Komponen Isi/Materi
Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada.
Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu natara lain:
    Ø  Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
    Ø  Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial.
    Ø  Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
    Ø  Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas.
    Ø  Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan.

Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topiktopik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
  2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran. 
  3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
    c.       Komponen Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbiungan dan mengatur kegiatan, baik yang secara \umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.
Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan secara nyata disekolah, sehingga mampu mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah.
     d.      Komponen Evaluasi
Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program.
Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa.
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan.
Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Merupakan suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dengan evaluasi dapat di peroleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa.berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang kurikulum itu sendiri,pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di lakukan.
C .Strategi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen
Menurut Hutabarat dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan didalam kelas adalah merupakan penjabaran dari Kurikulum yang telah disusun  agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Karena itu menurut Hutabarat, ada 5 strategi kurikulum Pendidikan Agama Kristen, antara lain :
1.      Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
2.      Beberapa Pendekatan Pembelajaran
3.      Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
4.      Dasar-Dasar pembelajaran PAK
5.      Strategi Pembelajaran PAK
Berikut ini akan diuraikan tentang strategi kurikulum  Pendidikan Agama Kristen adalah sebagai berikut:
1.      Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran
Hakekat pembelajaran adalah suatu system belajar yang terencana dan sistematis dengan maksud agar proses belajar seseorang atau sekelompok orang dapat berlangsung, sehingga terjadi perubahan yakni meningkatnya kompetensi belajar tersebut. Untuk itu, maka seorang guru yang merupakan ujung tombak dalam pembelajaran sudah seharusnya menciptakan system lingkungan atau kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien ( Sunaryo dalam Hutabarat 2006 : 27). Hal ini sejalan dengan pendapat dari Ratumanan ( 2002 : 33) bahwa lingkungan fisik maupun social turut berpengaruh terhadap seseorang dalam proses belajar.
Dalam buku Model Pembelajaran terbitan Depdiknas 2004 (Hutabarat 2006 : 27 ), belajar adalah sebuah proses  perubahan tingkah laku seseorang atau subjek belajar. Pendapat yang sama disampaikan oleh Ratumanan ( 2002 : 1) bahwa belajar dapat memberi perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi akibat hasil latihan atau pengalaman. Sehingga dapat dijellaskan bahwa belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku melalui serangkaian aktifitas, misalnya membaca, mendengar, mengamati, meniru dan belajar itu akan lebih efektif dengan melakukan atau praktek ( Sardiman dalam Hutabarat 2006 : 28).
Atas dasar penegasan itu maka seseorang dikatakan belajar, apabila  menunjukan tingkah laku yang berbeda dari sebelumnya. Misalnya seseorang yang telah belajar dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukkan. Perubahan tingkah laku itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga mencakup kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Menurut Bloom dalam Hutabarat (2006 : 28 ), mengelompokan kegiatan belajar kedalam 3 ranah yakni kognitiif, afektif dan psikomotorik. Terkait dengan itu maka tujuan belajar bagi subjek belajar adalah untuk :
-          Mendapatkan dan meningkatkan pemahamannya tentang pengetahuan
-          Menanamkan konsep dan peningkatan ketrampilan serta
-          Membentuk sikap.
UNESCO menegaskan bahwa ada 4 pilar dalam belajar, yang telah di sampaikan pulah oleh Suhaenah Suparno, dalam Hutabarat (2006 : 28) yakni learning to know, learnig to do, learning to live together dan learning to be. Artinya bahwa perlu adanya proses belajar mangajar atau pembelajaran, Karena mengajar di dalam hal ini tidak  sekedar hanya menyampaikan pelajaran bagi siswa, tetapi suatu proses pengorganisasian atau menciptakan kondisi yang kondusif agar kegiatan belajar dari subyek belajar lebih efektif. Kondisi di ciptakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan obyek secara optimal, baik jasmani maupun rohani baik fisik maupun mental  yang lebih di kenal dengan proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah sebuah sistem karena itu di dalam pembelajaran terdapat beberapa komponen yang saling terkait untuk mencapai hasil belajar yakni tercapainya kompetensi bagi siswa.
2.      Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat digunakan untuk menetapkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran. Setiap pendekatan yang diterapkan akan melibatkan kemampuan subjek pelajar / siswa dan guru, dengan  kadarnya masing-masing. Terkait dengan hal tersebut, maka ada beberapa jenis pembelajaran menurut Anderson dalam Hutabarat (2006 : 31) yakni teacher centered ( berpusat pada guru ) dan student centered (berpusat pada siswa).
Pendekatan Ekspositiry adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada aktifitas guru dan subjek belajar bersifat pasif dan hanya menerima saja dari guru. Pendekatan ini umumnya didominasi dengan metode ceramah, sedangkan pendekatan inkuiri merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada aktifitas subjek belajar sementara guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan pengelolah yang memberi pengantar dengan peragaan secara singkat dan selanjutnya subjek belajar secara aktif mencari dan menemukan sendiri apay yang sedang dipelajari (student oriented). Kedua pendekatan tersebut baik ekspository maupun inkuiri sama-sama mengandung keterlibatan subjek belajar hanya kadarnya yang berbeda seperti pendekatan ekspository keterlibatan siswa sangat rendah sedangkan pendekatan inkuiri aktifitas subjek belajar sangat tinggi artinya subjek belajar akan selalu menjadi titik perhatian dan focus dalam kegiatan pembelajaran dan sudah tentunya dalam menentukan pendekatan ini perlu disesuaikan dengan tuntutan kurikulum dan perkembangnan jaman.

3.      Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Pola pembelajaran PAK SD, SMP dan SMA adalah contoh-contoh model yang dapat dipakai oleh guru agama Kristen di sekolah namun perlu diingat bahwa pendidikan di sekolah merupakan kesatuan yang utuh dengan pendidikan yang diterima oleh keluarga dirumah, gereja atau masyarakat. Pola pembelajaran nilai-nilai yang cocok adalah pembelajaran aktif yang mengacu pada strategi pembelajaran yang berfokus pada siswa (life center) sehingga seluruh pembelajaran berpusat pada siswa artinya bahwa perkembangan, keberadaan, pergumulan,, kebutuhan, kondisi kongkrit siswa yang sering kali berfariasi haruslah menjadi pertimbangan utama guru dalam merancang pembelajaran sehingga PAK benar-benar menyentuh eksistensi siswa dan siswa mengalami perubahan baik pengetahuan, sikap, keterampilan dan nilai-nilai dalam dirinya sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwujudkan dalam diri Yesus Kristus Tuhan yang mendasari pembelajaran PAK.  Dalam modul strategi pembelajaran PAK, pola pembelajaran aktif merupakan keterkaitan dari  komponen-komponen seperti pengalaman, komunikasi, interaksi dan  refleksi. Sehingga langkah-langkah secara bertahap dalam pembelajaran aktif yang dipilih tentunya mengacu pada keempat komponen tersebut.
Idelanya PAK yang sarat dengan nilai-nilai kristiani ini dilaksanakan secara berkesinambungan, tahap demi tahap, mulai dari TK, SD, SMP dan SMA baik di sekolah, gereja, Keluarga maupun di masyarakat. Bentuk atau system pendidikan adalah terbuka (open ended system ) artinya PAK tidak selesai hanya di sekolah tetapi merupakan pembelajarn yang utuh dan berkesinambungan dengan gereja, keluarga, mulai dari kandungan sampai liang lahat. Proses pembelajaran PAK tidak hanya berhenti di skolah saja tetapi belajar terus menerus disepanjang kehidupan manusia. Itu berarti nilai-nilai agama itu dipelajari kapan saja, dimana saja, sepanjang waktu siswa belajar tentang Allah dan karyanya secara nyata dalam kehidupannya.


4.      Dasar-Dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Beberapa kutipan ayat alkitab dibawah ini menolong guru untuk memahami intinya pembelajaran PAK adalah :
         Ulangan, 6 : 4 – 9 ( haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak mu)·
         Efesus 6 : 4 (didiklah mereka dalam ajaran dan nasehat Tuhan)·
         Amsal 22 : 6 ( didklah orang muda menurut jalan yang patut· baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu )
         2 Timotius 3 : 16 ( segala tulisan yang diilhamkan Allah· memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran)
Implikasinya
         Imperative mendidik / membesarkan ( bandingkan Amsal 13 : 13)·
         Mendasarkan pengajaran/asuhan pada kitab suci·
         Pendidikan Kristiani bersifat terus menerus (·life long education)
         Pendidik : orang tua, guru, fungsionaris pendidikan·
         Pendekatan multi metode·
         Isi nesehat atau ajaran Tuhan (bandingkan Amsal 2 : 6 ; 3 : 13 – 15)·
5.       Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen adalah pola strategi yang berisi langkah-langkah prosedur dalam merancang program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen sesuai tuntutan kurikulum untuk memperoleh hasil belajar siswa. Dengan demikian sebelum merancang strategi pembelajaran, guru perlu mempertimbangkan keberadaan siswa yang beranekaragam latar belakang kehidupannya. Siswa beraneka ragam dalam hal  perkembangan fisik, psikis, moral, kognitif dan kepribadiannya. Pertimbangan tersebut berdasarkan tujuan yang sama bagi semua siswa yaitu agar mereka mengalami pertumbuhan pengetahuan, siikap keterampilan, mental rohani dan mmoralitas.
Dalam kurikulum, tujuan ini disebut kompetensi yang didasari oleh nilai-nilai kristiani melalui Pendidikan agama Kristen di sekolah. Perlu juga diipahami bahwa pendidikan agam Kristen adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah afektif dan psikomotorik lebih besar daripada kognitif sehingga melalui pembelajaran pendidikan agama Kristen diharapkan siswa mengalami perjumpaan dengan Allah di dalam Tuhan Yesus, sang sumber nilai-nilai yang membawa perubahan pada diri siswa khususnya perkembangan iman serta mental moralnya disamping perkembangan pengetahuan dan psikomotoriknya.
Keutuhan perkembangan ranah afektif, kognitif dan psikomotorik yang didasarkan pada nilai-nilai kritiani menjadi hal yang sentral dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Keutuhan dari ketiga unsur pelaksana pendidikan yakni keluarga, gereja/ masyarakat dan sekolah juga menjadi pemikiran strategis yang dikoordinir dalam kurikulum Pendidikan Agama Krisen tahun 2004 dilakukan tiga pendekatan masing-masing :
1.      Pendekatan Dialogis atau Partisipatif
Bahwa pendekatan dalam kurikulum Pendidikan agama Kristen yang berbasis kompetensi adalah pendekatan dialogis pertisipatif dalam belajar aktif dengan focus pada kehidupan siswa (Life center ) artinya sebagaimana kurikulum dirancang dengan pendekatan tersebut maka strategi pembelajaran pendidikan agama Kristen pun mengacu pada kurikulum. Supaya pembentukan iman, mental moral, pengetahuan yang didasarkan pada nilai-nilai kristiani siswa menjadi tujuan pembelajaran pendidikan agama Kristen.
Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan kepribadian siswa sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga dan masyarakat sehingga melalui belajar aktif siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya ditengah-tengah dunia dan kemuliaan bagi Tuhan.
2.      Strategi Penyusunan Program Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Dalam menyususn program pelajaran/disain pembelajaran Pendidikan Agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatifyang berfokus pada kehidupan siswa dalam belajar aktif maka guru Pendidikan Agama Kristen perlu berkoordinasi dengan wali kelas, wakil Kepala sekolah bidang kurikulum untuk melakukan langkah-langkah persiapan sebagai beriku :
  Program pembelajar disusun bersama guru-guru agama Kristen diØ wilayahnya atau dalam kelompok MGMP atau musyawarah guru mata pelajaran agama Kristen atau kelompok PERGAKRI (persekutuan guru agama kristen) untuk mengimplementasikan kompetensi dan materi pokok dalam kurikulum sesuai kebutuhan siswa disekolanya atau dilingkungannya atau di daerahnya
  Metode yang dipilih dapat disepakati agar masing-masing guru Ø memilih sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dengan mempertimbangkan situasi kondisi sekolah dan siswanya demmikian pula efalusainya.
  Pembelajaran dirancang agar terjadi komuniakasi refleksi, sheringØ pengalaman iman antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan juga siswa dengan lingkungan.
  PAK dapat mencapai sasarannya jika terjalin komunikasi dariØ pelaku-pelaku PAK dengan, keluarga, sekolah, gereja sehingga saling melangkapi sesuai dengan fungsinya.
3.      Penyajian program pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
Pada pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan pendekatan dialogis partisipatoris yang berpusat pada kehidupan siswa (life center) proses pelaksanaannya dilakukan melalui empat paket kegiatan yaitu :
a.       Kegiatan belajar mengajar dikelas
b.      Kegiatan belajar mandiri siswa
c.       Kegiatan keagamaan di rumah/keluarga.
d.   Kegiatan di Gereja
a.       Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas
Strategi kegiatan belajar mengajar dikelas dilakukan oleh guru agam Kristen ditempuh dengan cara menjabarkan kompetensi melalui langkah-langkah pembelajaran aktif dengan mendasarinya pada kesaksian alkitab. Lanngkah-langkkahnya sebagai berikut :
         Pembukaan pembelajaran dengan doa, nyanyian dan pembacaan alkitab (10 – 20 Menit)·
         Pembahasan materi pokok sesuai dengan modul bingkai materi· pendidikan agama Kristen untuk SD, SMP dan SMA (30 – 40 Menit)
         Strategi pembelajaran ini dilaksanakan secara luwes dan· tidak mengikat, tergantung pada kompetensi, materi pokok, suasana siswa, perkembangan lingkungan di kelas.
b.      Kegiatan Mandiri Siswa
Kegiatan mandiri adalah tugas kegiatan pengalaman dan pengalaman keagamaan yang diberi oleh guru PAK kepada setiap siswa pada setiap pembelajaran satu semester.  Program kegiatan keagamaan di sekolah yang harus dilakukan oleh setiap siswa meliputi :
-          Penguasaan tata cara beribadah / liturgy
-          Penguasaan tata cara penelaah alkitab
-          Ibadah pada hari minggu dan hari raya gerejawai
-          Bedah buku Kristen
-          Studi intensif tentang agama Kristen
-          Program aksi pelayanan bersama
-          Kunjungan antar gereja
-          Kegiatan lain yang disesuaikan dengan kondisi sekolah seperti aksi social antar agama
c.       Kegiatan Keagamaan di Rumah / Keluarga
Program kegiatan keagamaan dirumah sebenarnya merupakan hakk asasi yang dimiliki oleh keluarga namun agar terjadi pembelajaran PAK yang berkesinambungan maka guru juga perlu mengusulkan beberapa kegiatan yang sebaiknya diadakan oleh keluarga sehingga dapat mendukung kegiatan keagamaan di sekolah  seperti
-           ibadah bersama dalam keluarga,
-          penelaah alkitab bersama dalam keluarga
-          menjalin persaudaraan dalam kasih kristus
-          menggali kegiatan keagamaan lain melalui media masa dan mendiskusikannya dalam keluarga
-          melakukan pelayanan bersama oleh keluarga pada gereja yang lain
d.      Kegiatan di Gereja
keaktifan siswa di dalam kegiatan gerejawi merupakan factor penting yang mendukung program keagamaan siswa seperti yang telah dilakukan oleh sekolah antara lain:
-          mengikuti ibadah bersama
-          mengikuti program gereja
-          reatreat
-          kemah kerja
e.       Kegiatan di Masyarakat
Kegiatan social siswa di masyarakat merupakan kegiatan implementasi siswa atas pembelajaran PAK yang diterimanya dari keluarga, gereja dan sekolah. Masyarakat adalah tempat siswa mempraktekan iman dan ilmunya sehingga siswa menjadi garam dan terang Kristus bagi dunia sekitarnya.
  1. III.             PENUTUP
Berdasarkan hasil bahasan yang telah duiraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan agama Kristen adalah salah satu dari sejumlah mata pelajaran yang bertujuan mengembangkan kemampuan para siswa, agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, baik terhadap sesame dan lingkungan hidupnya sehingga menunjang mata pelajaran lainnya karena pendidikan agama Kristen di sekolah merupakan bagian yang utuh dari pendidikan di gereja, keluarga, masyarakat dan diharapkan siswa dapat mengimplementasikan pengetahuan imannya dalam sikap, tindakan konkrit yang merupakan kesaksian imannya di tengah-tengah dunia demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka disusun kurikulum PAK yang merupakan seperangkat/sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Agar implementasi kurikulum dapat tercapai,  maka diperlukan strategi dalam menyusun kurikulum yang dirancang dengan baik oleh seorang guru agama. Karena itu ada 5 (lima)  strategi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen yaitu:  Hakekat dan Kemampuan Pembelajaran ,     Beberapa Pendekatan Pembelajaran ,   Pola Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen,   Dasar-dasar Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen  dan  Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen

Daftar Pustaka

Hutabarat O. R. 2006. Model-model Pembelajaran Aktif Pendidikan Agama Kristen SD, SMP, SMA berbasis Kompetensi. Bina media informasi
Killen, Roy. 1998.  Effective Teaching Strategiies: Lessons from Practive, second Edition. Australia. Sosial Science Press
Ratumanan T. G, 2002.  Belajar dan pembelajaran. Surabaya; Unessa University PRESS
Sanjaya.W, 2006. Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Kencana
Sanjaya Wina, 2007. Strategi Pembelajaran. , Jakarta, Kencana
Wahyudin.2011.Komponen-komponen Kurikulum Online


Tidak ada komentar:

Posting Komentar